Jumat, 10 Juli 2015

Harapan Itu Masih Ada



Acara Reuni itu belum selesai, hiburan telah beberapa lama berlangsung. Masih seru-serunya. Para Guru dan kepala sekolah yang kulihat makin sepuh saja, telah pulang meninggalkan kami para Muridnya yang sedang asyik, menikmati acara reunian ini. Beberapa teman yang masih berjiwa muda, kulihat ada yang berjoget ria. Beberapa lagi naik ke panggung, menyumbangkan suaranya. Acara reuni itu, benar-benar terasa meriah, benar-benar acara melepas kangen, diantara kami, para alumnus.   
Aku dan Sri yang duduk bersebelahan, seakan ditingalkan oleh teman-teman yang asyik berjoget ria. Ku gamit tangan Sri, ku gelengkan kepalaku ke arah kanan sedikit ke atas, sebuah isyarat, kalau aku mengajaknya ke luar. Sri paham apa maksudku, dia berdiri, akupun berdiri, kami berdua berdiri, lalu melangkahkan kaki bersama, terus berjalan beriringan menuju pintu gerbang sekolah, menuju jalan raya.
Jarak antara gerbang sekolah kami dengan jalan raya cukup jauh, sekitar enam ratus meter, pada kedua tepi jalan itu, ditumbuhi pohon Mahoni. Jalan yang lurus dengan diapit Mahoni tua yang jangkung. Menimbulkan kesan, sangat asri, teduh, dan romantis.
Kami berdua, menapaki jalan diatas trotoar, antara Jalan aspal dan pohon Mahoni, dibawah keteduhan rindang pohon Mahoni tua, yang kini kurasa makin tinggi saja, tingginya, kurasa tak kurang dari 20 meter. Diameternya  yang makin besar saja mendekati satu meter, dengan batang yang tegak lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir. Dalam hati, aku merasa takjub dengan mereka yang menanamnya dulu, sebuah pilihan cerdas, untuk menanam Mahoni. Tinggi, besar, lurus dan berumur panjang. Hingga pohon-pohon tua itu, mampu menjadi saksi perjalanan cinta kami yang memakan waktu lama, yang hingga kini belum kunjung usai  juga.
Kurasakan langkah Sri tak seligat dulu lagi, langkah kaki itu, terlihat agak terseret dan melambat, mungkin usia tua yang telah membuat semuanya berubah. Tubuhnyapun tak seseksi dulu lagi, mulai melebar ke samping dan kedepan, apakah itu, disebabkan karena Sri memakai kebaya? Aku tak tahu persis jawabannya. Wajah Sri itupun mulai menampakkan kerut disana sini. Ada sedikit kantong yang menggelayut dibawah mata indahnya. Tapi, sinar mata itu, aku sangat mengenalnya, sinar mata yang tak pernah aku lupa. Sinar mata yang dulu sempat mengganggu malam-malam panjangku selama bertahun-tahun. Diamuk rindu dendam yang berkepanjangan, tak berkesudahan.
Tiga puluh lima tahun lamanya tak ketemu, tak meluluhkan segalanya. Mata indah itu, ternyata, masih mampu membangkitkan apa yang dulu sudah mati dan kubuang jauh-jauh. Aku tak menyangka semuanya, reuni itu telah mempertemukanku kembali dengan Sri, dengan segala pernik masa lalunya, seakan baru kemarin semua terjadi. Padahal, realitanya, kami sudah tua, berbagai peristiwa berjibun telah terjadi, pada kami, diantara waktu yang mengapit keduanya, dalam perjalanan waktu selama tiga puluh lima tahun, selama kami berpisah.
“Sri….” Kataku membuka pembicaraan.
“Hmmmm”
“Mahoni, trotoar dan jalan ini…” kataku lagi, dengan kalimat menggantung, aku ingin Sri melanjutkan kalimat yang belum selesai itu, sebagai test apakah dia mengerti apa yang kumaksud.
“Masih seperti dulu ya, Ndae…” tambah Sri, kalimat yang sesuai dengan yang kumaksudkan.
“Ya…” jawabku singkat, sambil aku menolehnya, berusaha melihat mata indah itu.
“Justru…” kini, Sri yang menggantung kalimatnya.
“Justru apa Sri?”
“Justru kita yang telah banyak berubah. Terlalu banyak, malah..” Kata Sri, menyadarkan akan kenyataan yang terjadi antara kami berdua. Aku sadar itu, kami sudah banyak berubah. Hanya aku saja, yang tak tahu diri, masih ngotot dengan perasaanku, ingin mengembalikan semuanya seperti dulu, ketika kami belum berpisah. Seperti, ketika kami masih sekolah dulu. Ketika, cinta ini masih menggebu-gebunya.
“Tak sepenuhnya benar…” jawabku lagi. Sambil menoleh, menatap lurus pada mata indah Sri. Pada mata yang masih menyimpan pesoana melenakan aku.
“Maksudmu..?” Tanya Sri, kurang paham apa yang aku maksudkan.
“Bagiku, Sri tetap seperti yang dulu..” aku mulai dengan upayaku mengembalikan masa lalu itu. Sedikit gombal dan nekad tak apalah, pikirku.
“Hehehehe..”
“Kok diketawain?”
“lucu aja..” jawab Sri pendek.
“kok bisa?, apanya yang lucu Sri?” aku jadi penasaran.
“Aku yang sudah tua gini, sudah gembrot, tak seksi lagi… atau..”
“Atau apa?” kejarku lagi, kalimat Sri membuatku penasaran.
“Atau karena kaca-matamu, tak kau pakai Ndae” jawab Sri sambil tersenyum.
“Tanpa kaca matapun, aku yakin tak salah lihat, tak salah nilai” Jawabku mantap.
“Hehehehe..”
“kok diketawain lagi”
“Kau tak berubah Ndae”
“Hahh! Kalau itu penilaianmu, aku tak berubahdan kau juga tak berubah, lalu apa lagi?”
“Bukan itu maksudku..”
“Lalu apa?”
“Kau tak berubah, kalau sudah ada maunya, kau akan mati-matian untuk meraihnya, tak kenal menyerah” kata Sri lagi, agaknya dia sudah merasa apa yang kuinginkan.
“Untuk hal lain aja, aku selalu begitu, apalagi untuk soal kita. Aku akan perjuangkan sampai tuntas Sri” kataku lagi, lebih pada, untuk meyakinkan diriku sendiri, untuk terus maju. Tunggu apa lagi, sosok mimpi indahku, kini sudah dihadapanku.
“Hmmmm…” jawab Sri penuh makna. Mata indah itu, menatapku, mata yang selalu kukagumi.
Kami terus berjalan, hingga di depan kami, ada Halte. Sebenarnya, bukan halte dalam arti  sesungguhnya, karena di jalan ini, tidak ada Bus kota yang lewat, tidak ada angkot yang lalu lalang. Halte itu, lebih berfungsi sebagai tempat duduk, bagi mereka yang lelah berjalan atau ketika hujan tiba-tiba turun, untuk berteduh sementara.
“Sri… kita duduk sebentar” aku mulai mencari selah, agar lebih lama duduk dengan Sri.
“Oke..” jawab Sri singkat. Atau mungkin juga Sri, masih ingin berlama-lama denganku.
“Sri tak keberatan kan?” 
“Gak, aku malah senang, masih bisa memberikanmu kesempatan untuk dekat denganku…” kata Sri, entah becanda atau sesungguhnya.
“GR…” jawabku, merajuk rasa yang ada pada Sri.
“Bener nih? Gak mau lebih lama dekat denganku? Kalau gak mau kita lanjut aja”
“Ya..ya..bener. Aku masih mau dekat denganmu, kalau bisa selamanya” ajukku pada Sri
“Nah, gitu dong”
“Hmmm…”
*****
Setelah duduk bersama, kupandangi wajah Sri, ada semu merah, merona diwajahnya. Akh… andai saja, duduk ini akan bisa berlama-lama dengan Sri, atau mungkin bisa selamanya.
“Jadi sekarang, Mas Gun, telah gak ada Sri?” tanyaku, mulai dengan serius
“Iya.. Ndae”
“Sakit apa, Sri? Sorry aku bertanya agak detail, kalau Sri keberatan gak usah dijawab saja” kataku, aku tak mau, suasana yang mulai cair itu, terganggu dengan pertanyaan yang sifatnya pribadi untuk Sri.
“Angin duduk. Setelah kami menikah itu, Mas Gun pindah ke Jakarta. Aku ikut, di sana lahir Jo dan Mar. lima tahun lalu, mas Gun berpulang, dia begitu terobsesi ingin segara menyelesaikan proyek mercu suarnya. Lupa waktu. Siang malam hanya duduk di depan computer. Rancangan Mas Gun sudah disetujui oleh owner, tinggal sedikit finishing, yang masih memerlukan sentuhan akhir. Pagi itu setelah sholat Subuh, Mas Gun, memintaku untuk menyiapkan pakaian, pagi itu dia akan ketemu owner, lalu ke kantor. Tiba-tiba, dadanya sesak, ada beban berat yang dia rasa di dadanya. Sejam kemudian, Mas Gun sudah tiada.” Urai Sri, coba menerangkan secara utuh, meski hanya garis besarnya saja.
“Sorry Sri, aku sudah membuatmu sedih, Sri..” kataku, ikut sedih, ikut bersimpati pada Sri.
“Gak papa Ndae”
“Tapi, kenapa kok Sri tinggal di Bandung lagi?” tanyaku ingin tahu, aneh aja, kok tiba-tiba Sri ada di Bandung lagi.
“Setahun setelah Mas Gun tiada, aku pindah ke Bandung, Ceritanya menemani Jo, yang sedang ambil S2, dia dapat tugas sekolah lagi dari kantornya. Sekalian cari udara yang lebih sejuk, Mar sudah nikah, dia tinggal di Ciputat sama keluarganya, Mar telah memberi dua orang cucu yang manis-manis untukku”
“ooo….” Jawabku singkat, tak tahu harus berkata apa.
“Begitulah Ndae, dua tahun terakhir ini aku di Bandung lagi”
“oooo”
“kok.. ooo terus”
“Aku sedang menghayati ceritamu Sri” jawabku, aku tak tahu harus menjawab apa.
“Bagaimana denganmu Ndae?” kini balik Sri yang bertanya tentang kondisiku.
“Aku kurang beruntung Sri”
“Aku telat nikah, aku cari kamu kemana-mana, tapi semua tanpa hasil. Sepuluh tahun kemudian aku nikah, dua tahun kemudian setelah pernikahan itu, istriku berpulang, ketika melahirkan anak kami yang pertama, anak kami selamat, sedangkan ibunya tak tertolong” kataku, menjelaskan yang terjadi pada diriku.
“Sorry Ndae”
“Gak papa Sri, semua sudah ada suratannya masing-masing”
“Iya sih, tapi aku turut bersalah Ndae” kata Sri, jawaban itu terdengar jujur, aku kaget juga mendengarnya, atau itu pertanda isyarat, Sri akan menerima aku kembali, tepatnya kami akan kembali lagi.
“Lupain Sri, aku sudah lama memaafkan dan melupakannya”
“Makasih Ndae, kamu memang baik” kata Sri. Jujurkah, atau dia hanya mengajuk hatiku saja.
“Tapi…”
“Tapi, apa Ndae?”
“Aku harap kau tak meninggalkan Bandung lagi, tak pergi lagi”
“Semua tergantung Ndae…Tergantung pada Jo, bisa saja dia dimutasi ke lain kota, lalu akupun akan ikut pindah” jawab Sri polos, tak tahu kemana arah pembicaraanku.
“Pertimbangannya bukan soal Jo, Sri. Tapi soal aku, soal Sri, soal kita. Aku tak ingin Sri pindah lagi, bahkan kalaupun Sri mau pindah, bukan pindah kemana-mana. Tapi, pindah ke rumahku saja”
“Maksudnya Ndae?” pertanyaan Sri itu, aku rasa hanya isyarat agar aku lebih lugas menyatakan apa yang kuinginkan. Yang mungkin juga diinginkan Sri. Aku kok GR ya…?
“Aku akan melamarmu” kataku singkat, tegas. Mungkin ini yang diinginkan Sri.
“Tapi aku sudah tua Ndae, sudah tidak seksi lagi, sudah banyak yang keriput”
“Aku tak peduli” kataku lagi, semakin ngotot meyakinkan Sri
“Aku kini, hanya tinggal seonggok daging Ndae”
“Ini bukan soal tua, bukan soal keriput, bukan soal seonggok daging Sri. Ini soal cerita panjang tentang tua, perjalanan panjang tentang menjadi keriput, perjalanan panjang tentang menjadi  seonggok daging, yang menyertainya, sehingga hal itu bisa terjadi. Soal pencarian panjang yang belum berakhir, soal hati yang tak bisa dibohongi, soal cinta yang belum selesai, soal kita berdua”
“Segitunya Ndae?” kata Sri, kulihat dia agak terkejut dengan kalimat terakhirku.
“Iyalah... untuk kali ini, aku akan tetap ngotot, tetap akan mengejarmu Sri. Aku akan mewujudkan apa-apa yang dulu luput dariku. Diusiaku, juga diusiamu Sri, jangan tunggu kesempatan ketiga datang, mungkin kesempatan itu tak pernah akan datang lagi. Maka pada kesempatan kedua ini, jangan terlewatkani lagi. Ini kesempatan untuk kita berdua, mungkin inilah kesempatan terakhir yang mungkin untuk bisa kita raih” kataku, menuntaskan apa yang kurasakan dan kuharapkan dari Sri.
“hehehehehe….”
“kok ketawa Sri?”
“Lucu aja, ada kakek-kakek gendut, berambut botak sedang merayu nenek-nenek tua, gendut dan keriput” kata Sri coba untuk mencairkan suasana yang aku anggap serius.
“Aku serius Sri” jawabku, agak sedikit ngotot, aku tak ingin, kesempatan teraklhir ini, akan tersia-sia hanya disebabkan karena canda yang tak perlu.
“Iya.. iya.. Aku tahu. Aku tersanjung mendengarnya” jawab Sri. Ada getar aneh pada nada suara Sri ketika mengucapkan kalimat terakhir. Getar nada yang sulit aku gambarkan.
Tapi, tak ada jawaban yang lugas, tak ada jawaban yang tuntas, yang memberikan kepastian padaku. padahal aku ingin kepastian, tak ingin membuat masalah jadi menggantung. Meski begitu, untuk memaksa Sri aku tak berani, harapan yang baru tumbuh ini, jika dipaksa untuk segera berbuah, malah akibatnya mungkin saja fatal. Bisa saja Sri malah akan lari.
Aku segera mengajak Sri untuk melanjutkan perjalanan, kira-kira dua ratus meter lagi kami akan sampai di Jalan raya itu. Tempat dimana Sri akan dijemput oleh Jo, anak yang menjadi alasannya, mengapa dia kembali ke Bandung lagi. Tak banyak kata terucapkan sepanjang jarak dua ratus meter terakhir itu. Tetapi yang pasti, Sri sudah bersedia tangannya aku bimbing, kami, bergandengan tangan. Kakek dan nenek yang saling bergandengan tangan. Imagine!
Tak butuh waktu lama, untuk  kami berdua berdiri di tepi jalan raya itu. Beberapa saat kemudian, Jo segera muncul dengan kendaraannya, menjemput ibunya. Di dalam kendaraan itu, Sri sengaja membuka jendela kendaraan lebar-lebar, seluruh wajahnya, jelas terlihat, Sri melambaikan tangannya padaku, tatapan itu masih seperti dulu, bahkan lebih indah yang sekarang, dalam penglihatanku, lebih berbinar, lebih memberikan makna. lebih memberikan harapan. Dalam hati aku bergumam Harapan itu masih ada.
Tunggu besok Sri, aku akan melamarmu, kau tak akan bisa kemana-mana lagi, kau akan kutangkap dan tak kulepaskan lagi. Kita  akan selamanya bersama, kita akan menghabiskan sisa usia kita bersama, merengkuh bahagia yang dulu nyaris singgah diantara kita. Biarlah Jo terbang menyongsong masa depannya, tanpa harus selalu didampingi oleh Sri. Biarkan aku dan Sri menggenapi apa-apa yang yang belum tuntas kami raih, dari masa lalu kami.

1 komentar:

  1. Wowwww....romantisnya pak....ijin bagi di fb yaa pak...terima kasih.

    BalasHapus