Kamis, 16 Juli 2015

Guru Regar Dan Guru Manurung



Pepatah lama mengatakan, Jodoh, pertemuan, rezeki dan maut. Tak seorangpun yang tahu. Semuanya menjadi rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahui. Kita Manusia tak diberi ilmu tentang itu. manusia hanya menjalani, apa yang telah ditakdirkan padanya, kalaupun ingin merubah kondisi yang sedang dialaminya, hanya dapat dilakukan dengan Usaha dan do’a. soal hasilnya, semua bergantung pada Yang Maha Kuasa. Demikianlah, pepatah lama itu, kini benar terjadi pada diriku. Hanya beberapa saat lalu, semuanya terjadi, sesuatu, yang benar-benar diluar dugaan, diluar dari semua yang kupikirkan dan rencanakan.
Tiba-tiba, handphone dalam saku bajuku bergetar, sebuah sms masuk.
 “Lae…. Awak tunggu di Lobby, dah lama kali rasanya, rindu awak dengan masa lalu itu. Kombur-kombur dulu lah bentar (Manurung)”. Demikian sms yang masuk dari Guru Manurung, tak kusangka kami bisa bertemu tadi, pertemuan yang sama sekali tanpa rencana, pertemuan dengan kondisi berbeda dan kedudukan jabatan yang sangat berbeda pula, bahkan perbedaan itu, membentang jurang yang sungguh lebar. Kalau saja, kami tidak pernah berteman akrab, mustahil kami akan dapat mengobrol dan berbincang-bincang lama. Sebuah harapan yang sangat wajar, antara dua sahabat yang lama tidak bertemu.  Tapi  sayangnya, dalam pertemuan itu, belum sempat kami ngobrol.
“Baik, Lae.. sebentar lagi session ini selesai. Pesan saja dulu, kopi” begitu Jawabku, membalas sms dari Guru Manurung. Ada rasa gembira yang bergaung dalam hati, aku akan berbincang-bincang dengan sahabat lamaku, seorang yang kini dikenal sebagai pejabat di kementerian Pendidikan Nasional.
Tak perlu menunggu lama, hanya sepuluh menit kemudian, acara session itu selesai, aku, Guru Regar. Turun menapaki tangga hotel menuju ke ruang lobby Hotel Mercure di kawasan Jaya Ancol itu.
Jakarta memang selalu berubah. Banyak hal yang dulu akrab denganku kini sudah jadi Asing. Hotel ini misalnya, dulu, hotel ini bernama Hotel Horison, entah sejak kapan, kini berubah menjadi Hotel Mercure. Tampilannya juga berubah, membuat semuanya jadi asing, paling tidak dari luarnya, dulu ketika aku masih tinggal di Jakarta, tak ada pagar yang memagarinya, tapi kini, sudah ada pagar pembatas. Demikian juga Ancol secara keseluruhan, kini sudah sangat asing bagiku, tak lagi akrab sebagaimana dulu. Pasar Seni yang dulu bagiku menjadi syurga pelepas penat dari himpitan hidup, mendengarkan Music Jazz gratis tiap Jum’at malam, kini terlihat kusam saja, tak bergairah lagi, tempat pameran lukisan itu, makin merana saja, kalah pamor dengan stand lukisan jalanan di depan Gedung kesenian, depan Pasar baru.
Pelatihan di Hotel Mercure masih tiga hari lagi dari total empat hari yang direncanakan, masih banyak kemungkinan kejutan-kejutan baru yang akan kualami, apakah pada hari kedua, hari ketiga atau hari penutupan atau hari keempat. Tadi, kebetulan yang membuka resmi pelatihan ini, adalah Guru manurung. Bah… sudah jadi pejabat rupanya temanku itu, keadaan yang sama sekali diluar dari apa yang kubayangkan. Ketika lift terbuka, kulihat Guru Manurung duduk agak ke pojok, membelakangi arah datangnya aku.
“Gimana kabarnya Lae…” Kataku, tiba-tiba sudah dihadapan Guru Manurung.
“Bah….”. Guru Manurung berdiri, menyambut uluran tanganku, kami berpelukan. Ada sumringah senyum bahagia di wajah Manurung, meski kini dia terlihat sudah berumur beberapa keriput mulai tampak, beberapa bagian rambut dikepalanya, mulai terlihat beruban.
“Lama rupanya kita tak bertemu Lae..” Kataku setelah kami duduk
“Yah… hampir tiga puluh tahun” jawab Manurung, ada sedikit letih di wajahnya.
“Sudah jadi pejabat rupanya lae Manurung...” sapaku, sedikit berbasa-basi.
“Itulah…. Salah sebut mereka itu..” jawab Manurung, ada senyum tipis disudut bibirnya
“Maksudnya?” tanyaku, agak kurang paham apa maksudnya temanku ini.
“Yang betul Pebabat…. Bukan Pejabat”
“Apa pula Pebabat itu?” Tanyaku, tak jelas arah pembicaraan Manurung
“Peranakan Batak-Batak” jawabnya singkat.
“Hahahahahaha…..”
Kami berdua tertawa lepas.
“Kopinya sudah ku pesan Lae, aku sendiri, sudah tak ngopi lagi” Kata Manurung lagi.
“Kenapa rupanya?” tanyaku, sejak kapan Manurung berhenti ngopi. Yang kutahu, dia pecinta berat kopi, lebih berat dari kebiasaanku sendiri.
“Dilarang Dokter. Banyak kali penyakit ini yang singgah. Makin parah kalo ditambah kopi” jelas Manurung.
“Persisnya apa Lae?” tanyaku pula, ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatku ini.
“Jantung dan kolesterol akut” Jawab Manurung pula.
“Iyalah, Lae harus berhenti ngopi, juga rokok. Kalau aku, kanker Lae” Jawabku
“Bah… benar tu Lae? Tapi kulihat, Lae segar-segar saja” Kata Manurung kaget.
“Kantong kering..” jawabku singkat
“Hahahahahaha…..” Kembali kami berdua tertawa lepas.
******
Aku dan Manurung, memang sudah berteman akrab sejak dulu, kami datang dari daerah yang sama, sama-sama dari Sumatera Utara. Berbeda kabupaten saja. Berdua kami masuk IKIP Rawamangun (Sekarang UNJ) pada tahun yang sama. Kost di daerah yang sama, daerah Kodam, sebelah timur daerah Sumur Batu Jakarta Pusat. Yang berbeda antara aku dan Manurung, kami berbeda jurusan. Aku Fakultas Mipa, jurusan Fisika. Sedangkan Manurung Ilmu Pendidikan. Manurung orang tuanya petani, aku anak dari Inang di pasar, penjual sayuran. Tahun kedua kuliah kami, kedua orang tua kami, kesulitan ekonomi. Lalu, kamipun menjadi tenaga Guru honor pada sekolah yang sama, di daerah Harapan Mulia, daerah yang berbatasan langsung dengan Sumur Batu dan Kemayoran, Jakarta Pusat. Saat itu, merupakan tahun-tahun yang sulit bagi kami berdua. Untuk ngopi hitam pagi saja, kadang kami kesulitan untuk membeli gula.
Aku masih ingat betul, kejadian pagi itu. Aku lihat manurung sudah membuat dua gelas kopi hitam, tetapi mengapa tidak juga diminum-minum, apa dia sedang menungguku selesai mandi untuk ngopi bareng?
“Kenapa tak diminum Lae?” tanyaku, heran melihat kopi yang masih utuh.
 “Kopinya pahit” jawab Manurung
“Mana pula ada kopi yang tak pahit?” jawabku, datar saja, tokh logikanya begitu.
“Maksudnya, tak ada gula” jawab Manurung singkat. Terdengar berat suara itu.
“Bilanglah, kalau tak ada gula… ini aku punya” jawabku pula, lalu mengeluarkan kopi dari tas lusuhku, tas yang selalu kubawa setiap hari untuk mengajar dan untuk kuliah.
“Kok beda bungkusnya?” tanya Manurung, cukup jeli juga dia, melihat bungkus gula itu.
“Itu sisa praktek Biologi anak-anak SMP kemarin” Kataku pula.
“Bah… ini namanya korupsi atau paling tidak grafitasi” Jawab Manurung
“Gak lah, itu namanya memanfaatkan barang sisa.. tokh praktek anak-anak itu sudah selesai. Anak-anak itu tak perlu lagi barang sisa itu, makanya aku manfaatkan… hahahaha” aku coba membela diri, sekaligus mencairkan suasana. Manapula ada istilah grafitasi untuk sebungkus gula.
“Terserah Lae aja… yang aku tahu, pagi ini, kita aman ngopi.. hahaha”
Dikesempatan lain, sore itu sebelum kami pulang mengajar, Manurung dengan serius mengajak kami pulang bareng, karena, kadang aku ikut teman yang bawa sepeda motor. Aku mengiyakannya. Setelah sekolah bubaran, kami berjalan berdua, menuju daerah Galur, dari lokasi kami mengajar di daerah Harapan Mulia, karena di Halte Galur itu, kami akan menunggu Bus Kota no 52 untuk menuju rumah Kost kami di daerah Kodam.  Di Halte itu, Manurung mengeluarkan Permen Kopiko, lalu duduk manis di Halte itu, ketika Bus no 52 datang, dia, menahanku untuk tidak segera naik, lalu kembali dia mengeluarkan Permen Kopiko lagi, lalu ketika Bus 52 yang berikutnya datang lagi, Manurung kembali menahanku untuk jangan naik dulu. Perilaku yang aneh menurutku. Tentu ada yang tak beres. Ada apa ini?
Sampai di tempat Kost kami, aku segera menanyakan perilaku aneh temanku itu.
“Ada apa rupanya Lae? Ada yang aneh, kurasa perilaku Lae tadi?” tanyaku serius.
“Aku malu Lae untuk mengatakannya?” jawab Manurung lirih.
“Bah… ada pula anak Medan malu untuk ngomong? Apa kata dunia”
“Bener Lae, masalahnya, ini soal yang berbeda” Ada getar aneh dalam suara itu.
“Coba cerita Lae…” nada suaraku mulai serius. Lebih bersimpati pada Manurung
“Aku sebenarnya, rindu kali untuk makan Durian. Teringat nikmatnya Durian di Bandar Durian Rantau Prapat. Tapi apa daya, tak sikitpun  ada duit di kantong ini. Makanya waktu di Halte tadi, aku makan Kopiko sambil membayangkan makan Durian Ranto. Kenapa pula tukang Durian itu, berjualan di Galur, dekat kita nunggu Bus itu. Sudah lama sebenarnya keinginan itu timbul Lae, sudah seminggu ini. Tapi baru terlaksana tadi”.
Tertegun aku mendengar pengakuan Manurung, ada rasa haru yang menjebak hati ini, begitu sulit kondisi kami ketika itu, untuk makan Durianpun tak ada sisa uang yang dapat untuk membelinya. Aku kuatir, rasa rindu makanan, biasanya refleksi dari  rindu Kampung halaman, rindu pada keluarga. Membayangkan untuk pulang kampong menemui orang tua, adalah sesuatu yang mustahil untuk kondisi kami saat itu. Aku segera beranjak menuju ke kamar mandi, tak ingin Manurung tahu, kalau mata ini sudah merah, ada keharuan yang sangat, ada rasa hangat di pelupuk mata ini, aku tak ingin pertahananku jebol, hingga air mata ini menetes. Bah… Masak anak Medan nangis, karena cerita Manurung itu. Apa kata dunia nanti.  
*****
Selesai kuliah, aku pulang Kampung, aku ingin mencerdaskan orang kampungku, itu sudah menjadi keputusan bagiku, aku ingin berguna untuk orang kampungku, untuk mereka yang dianggap tertinggal. Sedangkan Manurung, memutuskan untuk tetap di Jakarta. Dia ingin menaklukan Ibu Kota, begitu katanya dulu padaku. Komunikasi kamipun terputus.
Waktu berjalan, musim berganti, kami hanyut dalam kesibukan masing-masing. Tak ada berita dan perkembangan tentang Manurung. Siapa sangka, tiga puluh tahun kemudian kami bertemu lagi di Hotel Mercure ini. Manurung sudah jadi Pebabat,.. eh, salah.. Pejabat!!!
“Ada yang kuingin sampaikan pada Lae” Manurung mulai serius, dia menatapku lurus-lurus.
“Apa itu Lae?” Jawabku.
“Aku sudah hampir pensiun, kondisi fisik juga sudah sakit-sakitan, Lae. Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa menjadi kenang-kenangan untuk Lae”
“Apa itu, berikan saja” jawabku enteng, kupikir soal barang cendera mata.
“Maksudku gini Lae, mana tau ada anak Lae yang ingin jadi pejabat di Jakarta ini, aku sanggup menolongnya Lae. Mumpung aku masih Dinas.” Kata Manurung serius.
“oooo… terimakasih Lae, anakku Cuma dua, mereka sudah jadi Guru juga di Kampung, setelah mereka selesai kuliah di USU. kami sudah sepakat untuk tidak meninggalkan Kampung dan tidak meninggalkan profesi itu. Biarlah orang Batak di Jakarta ini hebat-hebat, mulai dari lawyer hebat, artis hebat hingga jenderal hebat, kami tak ingin jadi orang hebat. Biarlah kami tetap sebagai Guru saja. Tetap menjadi orang biasa saja. Orang yang mengabdikan hidupnya untuk kampungnya yang tertinggal, mencerdaskan orang Kampungnya yang masih banyak bodoh. Yang kami harapkan, agar orang Kampung kami jadi lebih pintar, jadi lebih sadar akan perannya sebagai anak bangsa, syukur-syukur jika ada diantara mereka, kelak menjadi orang hebat. Kami hanya ingin mencetak orang hebat, tanpa kami sendiri menjadi orang hebat.” Aku mgenjelaskan prinsip dan jalan hidup yang telah kupilih sejak dulu. Prinsip yang hingga kini masih teguh untuk kujalani.
“Okh… Lae, tetap idealis seperti dulu. Aku angkat topi dengan prinsip Lae. Sesungguhnya, orang hebat itu, adalah orang-orang seperti Lae. Andai saja, orang-orang seperti kami punya idealisme  seperti Lae, tentu, sudah lama bangsa ini maju” kata Manurung Pula. Suara yang diucapkan Manurung itu jujur, mimik wajah itu terlihat tak ada yang disembunyikannya. Aku tahu persis kapan Manurung bergurau kapan pula dia serius.
*******
Kami masih terus ngobrol, bernostalgia tentang masa lalu, saat-saat kuliah dulu, saat-saat sulit yang harus kami lalui. Saat-sat yang dulu terasa pahit, tapi, kini terasa manis untuk dikenang dan dibicarakan.
Tiba-tiba, terdengar pengumuman, dari Panitia Pelatihan, bahwa sessi selanjutnya akan segera dimulai. Peserta diminta untuk segera memasuki ruangan semula.
Aku berdiri. Manurungpun berdiri. Kami berpelukan. Pelukan antara seorang Pejabat di kementrian Pendidikan Nasional dan seorang Guru dari pedalaman Sumatera Utara. Telah terjalin kesepahaman diantara kami berdua. Kami memang berbeda prinsip sejak selesai kuliah dulu. Tetapi perbedaan itu, tidak menjadikan persahabatan ini menjadi rusak. Ada sisi kosong yang dapat aku isi, tetapi tidak dapat diisi Manurung, demikian sebaliknya, ada sisi kosong yang dapat Manurung isi, tetapi tidak dapat aku isi.







Lae                              = Panggilan untuk sahabat yang kita hormati
Awak                           = Saya
Kombur-kombur          = Cerita-cerita kosong, penghilang penat dan nostalgia
Inang                           = Ibu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar