Jumat, 10 Juli 2015

Duanya Tertipu.



Semua kita tahu, jika seorang mengatakan kembar, maka asumsi kita, antara keduanya, memiliki kesamaan. Bahkan pada mereka yang dikatakan kembar identik, kesamaan yang terdapat pada keduanya, sangat mirip, sehingga perbedaan antara keduanya, nyaris tak ditemukan. Tetapi yang terjadi pada diriku, sungguh jauh dari yang disebutkan diatas.
Aku heran, kalau kami berdua memang kembar, kenapa semuanya berbeda. Adikku yang lima menit lahir setelahku memiliki wajah sangat tampan dan gagah, layaknya seperti  seperti Rafi Ahmad, sedangkan aku, yang lebih tua lima menit dari adikku memiliki wajah yang sangat jauh dari tampan, layaknya  seperti Budi Anduk. Kami memiliki perbedaan yang begitu jauh. Demikian juga, soal nama. Mestinya, nama kami mirip-mirip, tapi kenyataannya jauh berbeda. Adikku bernama Akali, sedangkan
aku, bernama Atok.
Pernah, ketika aku baru tamat SD, kutanyakan perihal nama ini pada ibu. Ibu, dengan senyumnya, lalu merangkulku, kata beliau, semua itu, dilakukan agar adil. Adikku yang bernama Akali, mempunyai arti “Anak kaki lima”. Sedangkan aku, memiliki arti “Anak Toko”. Jadi, walaupun adikmu menang diwajah, dia kalah dinama, sedangkan kau, biarpun kalah diwajah menang dinama. Jadi adil kan? Demikian ibu menerangkannya padaku ketika itu, aku hanya mengiyakan dan tersenyum. Tak sepenuhnya mengerti apa maksud ibu.
Bagaimana perihal perilaku, antara aku dan adikku? Aku dan adikku, memiliki perbedaan perilaku sangat jauh berbeda. Adikku, memiliki perilaku yang serba manis, semanis wajahnya. Membuat semua orang senang  melihatnya dan suka bergaul dengannya. Sedangkan aku, berbeda bagai langit dan bumi. Aku, orangnya minder, iri hati dengan kesuksesan orang, culas dan penakut. Kalau dibuat skor. Skor kami 2:1 untuk adikku, adikku hanya kalah dalam soal nama, sedangkan aku kalah dalam wajah dan kalah dalam perilaku.
Maka, tak heran, jika dalam usiaku yang 35 tahun ini, aku masih saja lajang, sedangkan adikku, lima tahun lalu, telah mendapatkan jodoh,  telah berumah tangga. Istrinya sangat cantik, anak mereka memang baru satu, tapi wajah ponakanku merupakan campuran antara ayah dan ibunya. Ganteng dan Cantik. Sama sekali tak mewakili wajahku.
Untuk menghilangkan kegalauanku, aku rajin bergaul didunia maya, karena untuk bergaul didunia nyata, aku kurang pede, sesuai dengan perilaku yang kumiliki. Minder. Karena sifat minder itu pula, aku memasang foto profilku dengan foto Akali. Dengan memasang pp Akali, aku merasa pede, hingga merasa sejajar dengan mereka-mereka dan memiliki keberanian untuk mendekati cewek-cewek. Jangan artikan aku mendekati cewek-cewek itu dengan konotasi negative, aku mendekati mereka dengan maksud baik, sebisanya, jika kelak ada yang cocok, aku berniat untuk menyuntingnya, lalu menjadikannya sebagai istri, mengingat usiaku yang sudah 35 tahun.
Sudah setahun lebih aku menjalin hubungan khusus dengan teman dari dunia mayaku. Namanya Endang. Orangnya manis, pengusaha sukses dan yang lebih penting, Endang statusnya masih lajang. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Usianya 32 tahun, dia telat menikah karena selama ini, terlalu fokus pada bisnis yang digelutinya, hingga tanpa disadari, usianya merangkak naik dan kini sudah berada pada bilangan 32 tahun.
Tak jadi soal bagiku usia yang 32 tahun, tokh aku sendiri 35 tahun, lagi pula, aku kan bukan cari pacar, tapi cari istri. Lalu kenapa dengan usia 32 tahun? Bukankah, makin matang usia seorang istri, makin dewasa sikapnya. Jadi, tak begitu sulit untuk mencocokan dua pribadi yang kelak akan bersatu. Tak ada lagi sifat-sifat manja kekanakan yang akan melelahkanku, kami bisa diskusi secara terbuka, jika ada hal-hal yang berbeda. Aku merasa mantap untuk melabuhkan cinta terakhirku pada Endang, demikian juga Endang, sudah mantap akan menghabiskan sisa usianya denganku. Atok. anak toko.
****
Ruangan tunggu Bandara ini begitu ramai, sejak memasuki ruangan, aku sudah berusaha mencari meja yang benar-benar kosong, aku berharap, jika kelak Endang tiba-tiba muncul, aku ingin kami, aku dan Endang duduk pada meja yang sama. Hanya kami berdua, tanpa yang lainnya. Semalam kami chatting, Endang mengatakan bahwa hari ini, dia akan ke kotaku. Dia minta aku menjemputnya di Bandara. Tadi ketika aku dalam perjalanan ke Bandara, Endang mengabarkan bahwa pesawatnya delay, dia minta aku menunggu diruang tunggu saja, paling lama terlambat sekitar satu jam. Demikian kata Endang. Jangankan satu jam, satu haripun aku akan sabar menunggunya. Apalah arti satu jam atau satu hari, dibandingkan jutaan hari, yang akan kami habiskan bersama kelak.
Tiba-tiba aku melihat, ada meja yang hanya di duduki oleh satu orang, masih tersisa tiga lagi kursi kosong. Daripada menunggu sejam lagi dengan berdiri. Kuputuskan untuk duduk di meja yang telah terisi satu orang itu. Kebetulan yang duduk disitu wanita, sebaya denganku, berwajah tembem dan berbadan subur. Lalu akupun menuju meja itu dan berbasa-basi untuk duduk disitu.
“Permisi…. masih kosong mbak?” Aku berbasa-basi sebelum duduk.
“Kosong pak…. Silahkan” sambut wanita tembem itu, lalu, akupun duduk.
“Sedang menunggu seseorang, mbak?” tanyaku lagi.
“hehehe… iya pak” jawab wanita berbadan subur itu singkat.
“kok… pak sih?” tanyaku, dengan mimik muka seakan aku heran bercampur marah.
“lalu…???” kata wanita tembem itu, agak sedikit nakal.
“Mas kek, atau abang kek” kataku, agar dia meralat cara memanggilku.
“oooo… baiklah Mas” jawabnya, langsung mengabulkan permintaanku.
“Kenalkan mbak, nama saya Atok” aku mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
“Endang..” jawabnya, sambil Endang menerima uluran tanganku, darahku berdesir, jangan-jangan ini orangnya, wanita yang sedang kutunggu. Tapi gak mungkinlah, Endangku orangnya cantik, bukan tembem dan subur seperti yang duduk di depanku. Lagian, Endang masih dalam perjalanan. Pesawatnya delay, sesuai kabar yang aku terima tadi. Makanya, aku kini sedang menunggunya.
“Masih lama nunggunya mbak Endang?” tanyaku, coba berbasa-basi.
“Belum tahu, emang kenapa mas Atok?” Endang balik bertanya padaku.
“Gak apa apa sih, tapi, makin lama akan makin bagus, kita bisa lebih lama ngobrol. Ngomong-ngomong, nama mbak bagus. Endang” Aku mulai bercanda, maksudku agar suasananya lebih cair. Tokh aku masih lama untuk duduk disini, masih sekitar satu jam lagi. Lalu kenapa gak coba, menghilangkan jenuh dengan sedikit becanda, mencairkan suasana. Hidup kan gak selalu harus dibuat serius?
“Itu bukan nama saya yang sebenarnya mas” jawab Endang polos.
“lho… lalu nama sebenarnya siapa?” aku agak kaget dengan kepolosannya.
“Nama lengkap saya Erni dangdut, ibu saya dulu ngefans berat dengan penyanyi dangdut, yang bernama Erni. Penyanyi dangdut itu terkenal dengan goyang patah-patah kejang. Aliran yang in pada zaman ibu saya muda. Karena saya malu dengan nama yang sebenarnya, maka saya singkat menjadi Endang”
“Oooooo…” jawabku sedikit melongo, aku tak tahu expresi wajahkuku seperti apa, yang jelas, aku kaget bercampur lucu mendengar cerita Endang. Orang tua korban dangdut, bathinku.
“Sekarang inipun, sebenarnya saya tidak sedang menunggu seseorang, tapi sedang ditunggu seseorang” lanjut  Endang lagi, tanpa kuminta, agaknya wanita tembem yang duduk di depanku, polos dan gampang curhat dengan mereka yang baru dikenalnya.
“Kok bisa?” tanyaku, sekedar ingin tahu aja ceritanya. Ingat! Aku masih satu jam disini untuk menunggu wanita idaman yang akan kutemui. Jadi, masih banyak waktu yang kumiliki sebelum Endangku datang.
“Iya bisalah, saya ingin memastikan orang itu benar-benar serius apa tidak? Makanya saya suruh dia menunggu saya sekitar satu jam ke depan” lanjut Endang.
“Caranya?” tanyaku balik. Aku mulai tertarik dengan cerita Endang.
“Saya membuat alasan bahwa pesawat yang saya tumpangi, mengalami delay, maka mungkin akan terlambat satu jam, jadi tolong  maklum, dan tunggu saja. Cara itu saya lakukan untuk test case, dia sabar untuk menunggu saya atau tidak” urai Endang lagi. Aku sudah mulai gak enak hati, kok mirip-mirip dengan yang terjadi padaku, mulai nama yang sama, lalu pesawat yang delay hingga menunggu sampai satu jam. Apakah mungkin akan ada dua cerita yang sama pada dua orang yang berbeda.
“Emang dia siapa mbak?” tanyaku penasaran, kok cerita Endang seperti ada benang merah denganku. Jangan-jangan dan jangan-jangan, tapi akh… aku coba tepiskan firasatku yang belum tentu benar itu.
“Dia adalah calon suami saya, kami berkenalan di FB, lalu biasalah chattingan, saling curhat, lalu timbul sympati. Sympathy yang kebablasan, hinggga jatuh cinta, lalu kami sepakat untuk melanjutkan kejenjang pernikahan. Umurnya 35 tahun mas, sedangkan saya 32 tahun mas. Orangnya ganteng mas, penuh perhatian, pokoknya ideal banget deh” lanjut Endang, ada binar-binar bahagia terpancar dari mata itu.
“Sudah lama kenal mbak?”
“Setahun lebih mas…”
“Namanya siapa Mbak?
“Akali..” Endang menjawabnya dengan spontan.
“Ada fotonya dong, tentunya….. orangnya ganteng?”
“Ada  mas, ini..” lalu Endang menyodorkan sebuah foto yang sangat kukenal. Foto Akali
Tiba-tiba…….. Bumi gunjang-ganjing, langit kelap-kelip, berbagai warna dalam pelangi, mejikuhibiniu menghias langit-langit diatas ruang tunggu dimana aku duduk. aku tidak pingsan, tetap sadar, bahkan, sangat sadar. Tapi, kesadaran yang datang ini tiba-tiba sekali dan menyakitkan hingga ke tulang sumsum. Ternyata orang yang sedang kutunggu ada di depanku, foto yang aku pegang ini, bukan foto dirinya. Orang yang kutunggu berbeda jauh dengan kenyataannya. Tembem dan Subur. Sedangkan aku sendiri? Bak Budi Anduk.
Aku benar-benar tertipu, aku tak memperdulikan Endang lagi, segera aku berdiri dan meninggalkan ruang tunggu Bandara. Aku benar-benar dipecundangi oleh Endang. Endang benar-benar telah mempermainkan perasaanku selama ini, dengan mimpi kosong yang kuanggap nyata. Lalu, kalau aku yang laki-laki saja demikian sakitnya, bagimana pula dengan perasaan Endang, terhadap perilaku yang kubuat selama ini padanya…??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar