Sabtu, 25 Juli 2015

Wisata Alternatif

Selat Bali (dok.Pribadi)
Jika kita membaca kata destinasi, maka memori dalam pikiran kita, membayangkan obyek wisata yang indah yang telah kita kunjungi. Bisa juga, kita hanyut dalam khayalan tentang obyek wisata yang belum kita kunjungi. Berbagai gambar khayal muncul, akan bagaimana dan akan apa yang kita kerjakan di tempat indah yang akan kita kunjungi itu.   
Berbagai persiapan dan bekal, kita lakukan untuk mengunjungi destinasi wisata, baik yang telah pernah kita kunjungi ataupun yang belum pernah kita kunjungi. Persiapan itu, bisa dengan pertanyaan, kapan akan kita kunjungi? Berapa lama waktu untuk tinggal disana? Berapa lama waktu dalam perjalanan? Berapa biaya yang diperlukan dalam perjalanan ke sana. Apa saja agenda acara yang akan kita lakukan disana? Setelah semua persiapan  matang, perjalanan itupun dilakukan.
Jika tak ada hal-hal diluar perkiraan, maka perjalanan itu, tentu akan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan.
Ketika kita selesai dengan acara yang telah kita “schedule” kan, maka kita pulang dengan kondisi kejiwaan yang lebih fresh, segar dan siap untuk melakukan aktifitas lain yang lebih  menantang.
Pointnya. Perolehan akhir yang kita harapakan dari sebuah perjalanan destinasi, adalah kondisi kejiwaan yang Fresh.
Jikalau, tujuan akhir dari sebuah perjalanan destinasi, hanya untuk memperoleh kondisi kejiwaan yang fresh. Mengapa kita tidak pernah bertanya, apakah ada alternative lain, untuk memperoleh hasil yang sama dengan tidak menghabiskan biaya yang tidak sedikit, waktu yang tidak sebentar serta keruwetan yang bisa saja akan terjadi, jika ada hal-hal diluar perkiaraan kita?
Jawaban dari pertanyaan itu, ada..!
Itulah yang disebut dengan destinasi hati.
Caranya? Ternyata, sangat mudah.
Sesungguhnya, dalam hati kita banyak tempat-tempat indah yang patut kita kunjungi setiap saat.  Disana juga ada tempat-tempat berbahaya bagi kita. Maka sebagai pemilik tunggal dari hati diri sendiri. Maka perlu, bagi kita untuk setiap saat berkunjung pada tempat yang indah, sekaligus merekondisi tempat-tempat yang tidak indah untuk menjadikannya indah. Adagiumnya, jika tidak kita sendiri yang melakukannya, lalu, siapa lagi? Kalau bukan sekarang kita lakukan, kapan lagi?
Tempat indah itu, ada pada areal kenangan indah, ketika kita jatuh cinta pada pasangan hidup kita. Lalu bagaimana kondisinya sekarang, adakah areal cinta yang dulu pernah membuat hidup kita begitu berarti, masih seperti dulu. Atau sudah menjadi areal semak belukar yang tak ada pohon cinta disitu lagi?  Pohon cinta yang karena tak pernah kita  dikunjungi, tak pernah kita beri pupuk,  menjadi  merana, lalu dengan banyaknya semak belukar yang tak pernah kita bersihkan menjadikan pohon cinta itu semakin cepat menuju kematiannya. Mengapa, kita tak mencoba kembali untuk membersihkan semak belukar yang tumbuh disana? Tidak mencoba untuk memberinya pupuk, menyiraminya dengan air cinta, sehingga pohon itu, kembali segar dan tumbuh lebat. Jika hal demikian yang kita lakukan, lihatlah akibatnya, bukan hanya jiwa kita yang fresh kembali. Tetapi, keajaiban dan syurgawi rumah tangga sudah menanti untuk kita nikmati seperti periode bulan madu kita dulu.
Tempat indah lain yang perlu kita kunjungi, adalah areal tempat kita menerima cinta dari sang Pemilik Alam Semesta ini. Semua agama dijagat raya ini, mengakui keberadaan destinasi itu.  sebutannya bisa saja berbeda, tetapi maknanya sama. Seperti, semedi, berdzikir dan lain-lain. Pada areal ini, sudahkah kita melakukan Audensi secara rutin pada Sang Pemilik Alam semesta itu?  MemujiNya, menyanjungNya, dengan sanjungan super lebay dalam kalimat yang keluar dari bibir kita. Tetapi, jujur dalam penyebutannya didalam hati. Pujian yang melebihi ketika memuji pasangan hidup kita. Meminta dengan permintaan yang sungguh diluar nalar, yang permintaan itu, mungkin saja tak akan pernah kita mintakan pada pasangan hidup kita, permintaan yang ketika kita minta pada pasangan kita, dapat menimbulkan kemarahan, tetapi pada pemilik Alam Semesta, hanya sebuah permintaan kecil, remeh temeh. Permintaan yang tak akan membuat Sang Pemilik jagat raya ini, menjadi marah, melainkan justru ,alah senang.
 Kunjungan destinasi pada area ini, jika dilakukan dengan rutin dan periodik, maka bentuk fresh kejiwaan pasti sudah dalam genggaman kita. Inilah agaknya tafsir untuk ayat “sesungguhnya,. Dengan mengingatKu, hatimu akan tenang”.  Dan ayat “Lalu Mintalah padaKu, maka Aku akan mengabulkannya”
Cukupkah dua destinasi? Tentu tidak, ingat, kita adalah manusia. Makhluk yang selalu ingin dan ingin lagi. Hingga, keinginan itu,  akan berhenti dengan sendirinya, ketika nyawa sudah meninggalkan tubuh.
Masih banyak destinasi yang kurang sempurna, yang butuh untuk disempurnakan oleh kita secara terus menerus dan konsisten dilakukan. Areal itu, areal sombong yang bersemayam dihati, areal marah yang bersemayam di hati, areal yang merasa diri paling pintar, merasa diri paling sempurna, iri pada keberhasilan pihak lain, merasa minder terhadap orang lain yang memiliki strata social diatas kita dan masih banyak areal-areal lain yang berupa semak belukar yang menghilangkan keindahan destinasi hati.
Kalau untuk mengunjungi destinasi diluar hati yang terlihat indah, setelah dibersihkan oleh pengembangnya, kita rela mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Mengapa untuk membersihkan areal semak belukar dalam hati pada diri sendiri kita tidak mau melakukannya? Tidak mau melakukannya dengan sepenuh hati, atau bahkan dengan mengeluarkan sejumlah uang.  Aneh bukan?
Pengingkaran atau ketidak-mauan membersihkan semak belukar dalam hati itu, bukan saja aneh, melainkan sebuah bentuk pengingkaran terhadap fitrah kita sendiri sebagai manusia. Fitrah manusia itu, adalah sebagai khalifah dimuka bumi. Sebagai kreator kecil yang tugasnya memakmurkan bumi. Maka, sebagai kreator kecil, manusia dibekali seluruh sifat-sifat Sang Kreator besar, dengan ukuran yang kecil pula. Jika sang Kreator besar memiliki sifat Cinta pada keindahan, kesucian, kebersihan, kasih sayang, suka memberi dan lain-lain.
Maka, idealnya,  hal yang sama, tentunya harus juga dilakukan oleh sang kreator kecil, dengan bentuk yang kecil pula.
Membersihkan semak belukar dalam hati, merupakan implikasi dari sifat cinta akan kebersihan, cinta akan kesucian dan cinta akan kasih saying, pada diri sendiri maupun pada sesame manusia.
Tekhnisnya, dalam upaya pembersihan semak belukar itu, sangat sederhana. Kita hanya disuruh untuk lebih banyak beraudensi denganNya, banyak-banyak memohon ampunan padaNya, melaksanakan seluruh yang diperintahkanNya baik dengan suka rela atau dengan terpaksa, meninggalkan seluruh laranganNya, baik dengan suka atau terpaksa. Selanjutnya biarlah Sang Pemilik diri ini yang membersihkannya. Sehingga, ketika seluruh belukar dalam hati sudah bersih, maka kita akan suka dan sering, untuk melakukan perjalanan destinasi hati.
Lihatlah, destinasi hati ini, adalah sebuah kemewahan yang diberikan Sang Pemilik Jagat Raya  untuk manusia. Untuk melakukan destinasi hati yang indah itu, semua manusia dapat melakukannya, tak dibutuhkan harta yang banyak untuk melakukannya, waktu yang banyak untuk melakukannya, jabatan yang tinggi serta kemungkinan ada aral melintang disebabkan sesuatu yang diluar perkiraan kita.
Jika demikian luar biasanya, destinasi yang disediakan Allah, mengapa kita tidak segera melakukannya. Jika  tidak kita sendiri yang melakukannya, lalu siapa? Jika tidak sekarang kita lakukan, lalu kapan?  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar