Kamis, 16 Juli 2015

Dari Tepian Danau Sentani



Kapal Umsini baru saja merapat, Pelabuhan Jayapura ini termasuk besar, penerangan disana-sini cukup memadai, malam menunjukkan pukul 23 WIT, udara malam itu cukup cerah, ada bintang bersinar terang yang dapat kulihat, dibalik sorotnya lampu penerangan di Pelabuhan. Perjalananku ke tanah Papua ini merupakan perjalanan melelahkan. Bayangkan saja, kamis pukul 13 Kapal meninggalkan Tanjung Priok, kini Kamis malam Jum’at pukul 23, aku baru meninginjakkan kaki di Jayapura. Delapan hari sepuluh jam, lamanya perjalanan, mengarungi lautan.. Bukan main!.
Aku masih belum beranjak meninggalkan Pelabuhan, menunggu seseorang. Sesuai janji,  aku akan dijemput. Aku masih melihat ke kiri-kanan, ketika sebuah tangan menepuk pundakku. Reflek aku menolehkan wajah. Sederetan gigi putih menyeringai di depanku, kurasa hanya gigi itu saja yang terlihat putih, Martin sahabatku, seorang putra daerah Papua telah berdiri dihadapanku. aku menjabat erat tangannya.
“Selamat datang di tanah Papua, Bapa” sapa Martin dengan penuh ramah.
“Selamat bertemu sobat, semoga perjalanan ini penuh kesan” jawabku pula.
 “Bapa, kita tidak langsung ke Sentani, tapi singgah dulu di Dok Lima” Demikian kata Martin
“Ada apa Tin?” tanyaku, aku tak tahu, apa maksudnya dengan Dok Lima.
“Seorang teman sedang terkena Malaria” Jawab Martin pula.
“Kok ke Dok Lima?”
“Oya Bapa, saya lupa kasitau, Dok Lima itu nama Daerah, disitu ada rumah sakit umum”
“Ooo… ayo kita kesana dulu, gak ada masalah” jawabku replek dan antusias.
Mobil kami langsung ke Dok Lima. Ternyata di Rumah Sakit Dok Lima, seorang teman satu team,  terserang Malaria Tertiana. Kondisinya mengenaskan, Tono teriak-teriak tidak sadar diri. Menurut Martin, kondisi demikian sudah mengkhawatirkan. Kemungkinannya hanya dua. Kemungkinan pertama meninggal dunia, kemungkinan kedua, walaupun sembuh, kondisi syarafnya rusak. Ada sedikit kurang-kurangnya, istilah Medannya.
Baru saja menginjakkan kaki di Daerah Papua, aku sudah dihadapkan pada kenyataan yang mengkhawatirkan. Penyakit Malaria. Kondisi yang menakutkan. Sebuah sinyal bagiku, untuk membentengi diri, agar tak terjangkiti penyakit Malaria. Malam itu kami tidur di Dok Lima, tak tega meninggalkan Tono sendiri.
*****
 Sudah tiga hari ini, aku di Sentani, dua hari lagi, umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha. Jakarta mengabarkan bahwa pekerjaan agak tertunda, karena masih ada beberapa hal yang belum selesai disepakati. Untuk itu aku diminta standby dulu di Sentani, hingga ada perkembangan selanjutnya. Sudah barang tentu, tak ada pilihan bagiku selain mematuhi keinginan perusahaan. Menunggu.
Sejak pagi tadi, Pak Atok, lelaki pensiunan asal Malang, tempat kami kost di Sentani itu,  ngomel-ngomel terus, Sapi Bali miliknya, meninggalkan kandang, dan tak seorangpun tahu kemana perginya. Padahal Sapi Bali itu, sedang hamil besar, segera akan melahirkan, apa yang terjadi dengan Sapi itu? Jangan-jangan sudah dicuri orang, jangan-jangan sudah dipotong orang. Mengapa tak seorangpun tahu kemana perginya, dimana keberadaannya.  Semua orang, kecuali kami yang kost, dimarahi oleh pak Atok.
Aku yang kebetulan di rumah saja, sudah jengah dengan ucapan-ucapan yang diucapkan pak Atok, kalimat-kalimat itu sudah mulai kasar di telingaku. Tapi, karena bukan ditujukan pada kami, aku hanya mengelus dada. Rasanya tak elok juga untuk ikut campur,  menengahi masalah internal pada keluarga pak Atok.
Diam-diam, kami bersepakat untuk membantu pak Atok, ikut mencari Sapi Bali miliknya yang hilang. Skenarionya, aku akan pergi dengan Amos, sementara Yanto dengan Wanggai dan Yunus dengan Martin. Kami sepakati mencarinya sekitar landasan udara Sentani, pada sisi luar bandara itu tentunya, sisi yang masih ditumbuhi alang-alang khas Papua, alang-alang yang tingginya setinggi manusia dewasa, disitulah biasanya Sapi Bali itu akan bersembunyi, begitulah menurut Amos dan Martin. Sebagai putra daerah mereka yakin benar, jika Sapi Bali itu tak akan jauh dari sana, maka pencaharianpun sebaiknya hanya sekitar daerah itu. Lalu, aku dan Amos akan mencarinya pada sisi utara, sedangkan Yanto akan menyusuri dari Selatan, sedangkan Yunus dari sisi Barat.
*****
Sholat Maghrib telah ditunaikan, dari Mesjid yang tak jauh dari rumah pak Atok, tempat kami kost. Mulai terdengar suara Takbir, mengagungkan Asma Allah, besok hari Raya Idul Adha atau yang biasa juga disebut Hari Raya Kurban. Ada rasa haru yang merambat dihati ini, tetapi sebagai orang tekhnik, bukan sekali ini saja, aku mengalami lebaran jauh dari keluarga, termasuk lebaran kurban tahun ini. Besok Lebaran haji, aku akan rayakan di Tanah Papua, yang jaraknya delapan hari perjalanan kapal laut dari Jakarta.
Aku, Yanto dan Yunus, telah siap dengan masing-masing partner, telah siap-siap untuk memulai pencarian Sapi Bali yang hilang dari rumah pak Atok dua hari lalu. Semua peralatan yang dibutuhkan telah kami siapkan. Senter, rokok, korek, sepatu Boot dan Jas hujan. Kamipun bergerak menuju Bandara Sentani yang berjarak sekitar dua kilo dari rumah pak Atok. Kami bergerak dengan jalan kaki saja, pertimbangannya, itu lebih praktis, dibanding jika naik motor, tentu kami akan kerepotan, dimana kami akan titipkan motor? Kalau diletakkan saja di pinggir jalan, bisa-bisa motor itu hilang, dicuri orang.
Pada tempat yang disepakati, kamipun berpisah, aku dan Amos menyusuri dari sisi Utara bandara Sentani, sementara Yanto dan Yunus menyusuri dari arah yang sudah kami sepakati sebelumnya.
“Bapa, jalan di depan saja” kata Amos, mengisyaratkan agar aku berada dibagian depan.
“Oke, tapi.. tolong kasi aba-aba, kemana arahnya, ke kiri atau kanan” jawabku, tak ingin tersesat.
“Iya Bapa” kata Amos pula.
Jalan itu hanya, setapak, Amos memandu jalan yang akan kutempuh, harus ke kiri atau kanan, awalnya alang-alang hanya sebatas lutut, makin ke dalam makin tinggi, lalu sebatas pinggang, begitu seterusnya, hingga pada akhirnya setinggi kepala kami. Berbeda dengan di Jawa, alang-alang ini lebih besar dan tinggi, kalau saja ada yang memulainya untuk dijadikan atap rumah, atau jika ada yang mengajarkan penduduk setempat untuk dijadikan atap rumah, agaknya sangat bermanfaat. Atapnya bermanfaat untuk atap rumah, side efeknya, lingkungan ini akan bersih dengan sendirinya. Karena alang-alang itu akan diburu masyarakat, dengan begitu, jarak antara Danau Sentani dan Bandara Sentani akan terang, tanpa tumbuhan alang-alang besar ini, kesan seramnya akan hilang dengan sendirinya, pada gilirannya, mungkin akan ditanami palawija. Dengan demikian akan ada tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Tiba-tiba…Brruuuggghhhhhhh!!!!!! Aku terperosok dalam lumpur..
Mula-mula hanya, sebatas lutut, lalu pelan-pelan turun, kini, sudah sampai pangkal pahaku..
“Pegang tangan saya Bapa…” Amos menjulurkan tangannya reflex.
“Jangan Mos, kalau saya pegangan tangan kao, kao akan jatuh juga” jawabku, aku sadar akan akibatnya, jika menerima uluran tangan Amos.
“Terus bagaimana Bapa?” tanya Amos, agak bingung, menghadapi situasi demikian.
“Kao potong alang-alang itu dengan golok yang ada di pinggang kao, lalu ikat pada beberapa bagiannya, jadikan dia seperti kayu atau bambu,  githu” kataku mengajari Amos.
“Iya.. Bapa”
“Kao buatnya agak cepat ya..!” kataku lagi pada Amos, kami kini harus berkejaran dengan waktu.
“Iya.. Bapa” jawab Amos lagi.
“Ini lumpur hidup Mos, kita berpacu dengan waktu…” kataku pula, mengingatkan Amos agar jangan lalai.
“Iya.. Bapa, Bapa jangan banyak gerak, makin Bapa bergerak makin masuk nanti”
“Siap….!!!”. aku kagum dengan diriku sendiri, tak ada kepanikan pada diri ini. Aku begitu tenang menghadapi musiabah tak terduga itu. Sementara suara takbir sayup-sayup masih terdengar dari Mushola dekat rumah pak Atok. Akankan itu, menjadi menjadi suara takbir terakhir yang akan kudengar. Jika saja, situasi yang kualami kini, tak kunjung berubah.
Kini, posisiku dalam lumpur, sudah sampai pinggang, aku tak berani banyak gerak, makin ku bergerak, maka makin cepat diri ini masuk lebih dalam lagi. Waktu seakan bergerak lambat sekali. Amos yang memotong beberapa alang-alang, lalu menyatukannya dengan ikatan tali rapia, terasa lambat sekali. Sementara aku, hanya menonton dari dalam lumpur, tak ada yang bisa ku bantu, untuk bergerak saja aku tak berani. Bergerak, berarti mempercepat badan ini ditelan lumpur. Kini sudah sepinggang lewat, badanku ditelan lumpur. Sayup-sayup, Suara takbir dari Masjid masih terdengar, menandakan besok akan hari raya Kurban. Akankah aku akan jadi kurban untuk Danau Sentani?
Lumpur sudah sampai diatas perut, sebentar lagi akan mencapai dada.
“Bapa…pegang ini!” suara Amos menyadarkanku, kulihat Amos mengulurkan alang-alang.
“yupz…” sekali raih, aku sudah memegang alang-alang yang dijulurkan Amos. Lalu Amos mulai menarik tubuhku, kulihat Amos kepayahan menariknya.
“Pelan-pelan saja Mos, jangan kao malah ikut jatuh, atau alang-alang ini putus” aku memperingatkan Amos. Nyawaku, dipertaruhkan pada alang-alang yang kini sedang dipegang Amos.
“Iya.. Bapa”  jawab Amos. Dia menarik sangat pelan dan hati-hati, perlahan tubuhku naik. Lalu terpikir olehku jika aku hanya bergantung pada tarikan Amos, tentu akan sangat berat baginya, atau kemungkinan alang-alang itu putus. Maka ketika aku sudah keluar sampai pinggang, aku coba memindahkan titik berat tubuhku pada bagian perut. Itu artinya, aku mengapungkan diriku, seakan sedang berenang diatas lumpur itu. Kini seluruh permukaan tubuhku sudah diatas permukaan lumpur, resikonya aku harus berpacu dengan waktu. Jika saja Amos terlambat menarik tubuhku, maka seluruh tubuh ini akan segara masuk dan tenggelam. Selesailah semuanya. Sisi positifnya, untuk menarik tubuhku, Amos tidak memerlukan tenaga besar lagi, karena berat tubuhku sebagian justru ditopang oleh lumpur kental itu, yang dibutuhkan Amos, menjaga kecepatan tarikannya, hingga tubuh ini tak tersedot ke dalam lumpur.
Akhirnya……aku keluar dari lumpur mematikan itu. Badanku penuh lumpur hitam, sebelah Boots tertinggal dalam lumpur. Kuputuskan untuk kembali ke jalan raya tempat awal kami masuk tadi. Perih kaki yang tidak disepatui Boots, ketika menginjak bongkolan alang-alang pada jalan setapak itu, tak kuperdulikan lagi. Aku begitu leganya, lepas dari cengkeraman lumpur hitam yang mematikan itu. Ketika kami sampai di jalan aspal itu, langsung ku buang Boots yang sebelah lagi.
*****
Sore ini, aku sedang duduk diberanda rumah kost kami, Sapi Bali yang menghebohkan itu, subuh tadi telah pulang dengan membawa anak yang telah dilahirkannya. Pagi tadi, aku tak sempat ikut Sholat Idhul Adha, badan ini terasa remuk, apakah karena masuk lumpur semalam atau karena lelah phsykis yang diakibatkan terjerumus dalam lumpur semalam. Aku tak tahu persis apa penyebabnya.
Sementara duduk di beranda teras tempat kami kost. Kulihat Martin, menuju arah tempat aku duduk, Martin baru saja pulang dari Bezoek, ke Jaya Pura, tepatnya ke Rumah Sakit Dok Lima, tempat Tono di opname.
“Bagaimana kondisi Bapa?” tanya Martin, seringai wajahnya yang memperlihatkan gigi putih itu, sangat khas dalam pandangan mataku.
“Baik, Tin..” jawabku singkat.
“Bapa harus banyak istirahat. Kejadian semalam membuat Bapa capek”
“Makasih Tin, cape fisik sekaligus Pshykis. Kejadian semalam sangat menegangkan!” Jawabku pula
“Iya begitulah…, kita semua hanya jadi korban Bapa” kata Martin pula.
“Maksud Kao apa Tin?”
“Korban dari pak Atok dan orang-orang seperti pak Atok. Waktu Sapi Bali itu pergi dari rumah dan pak Atok marah-marah, saya sudah menemui beliau, saya sudah bicara sama pak Atok, saya sudah katakan, bahwa memang prilaku Sapi Bali, kalau mau beranak, akan pergi meninggalkan kandangnya, dia akan beranak di suatu tempat, dimana tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Ketika Sapi itu telah melahirkan, maka Sapi itu akan pulang dengan sendirinya. Ke tempat dimana dia hidup sebelumnya. Tetapi pak Atok tidak percaya saya, pak Atok menganggap saya telah membodohinya, telah membohonginya. Kegagalan pak Atok memahami perilaku Sapi saja, akibatnya nyaris fatal pada Bapa, nyaris merenggut nyawa Bapa. Apalagi kegagalan memahami perilaku manusia lain, kegagalan memahami budaya lain, akibatnya sangat tidak terbayangkan Bapa. Dapat merenggut banyak nyawa manusia, merenggut kebanggaan putra-putra daerah anak bangsa, merenggut kebanggan sebagai satu kesatuan kita, sebagai bagian dari bangsa besar ini. Dan konyolnya, itulah yang dialami oleh kami orang Papua. Kami, orang Papua, telah lama menjadi korban dari orang-orang model pak Atok itu. Mereka datang kemari tanpa bekal yang utuh, bekal pemahaman terhadap budaya dan perilaku kami. Akibatnya Bapa bisa lihat. Kami gagal dalam segala hal. Apakah kami bodoh? Apakah kami malas? Semuanya tidak Bapa. Merekalah yang bodoh, merekalah yang malas. Orang-orang model pak Atok itu, bodoh karena tidak tahu perilaku dan budaya kami, Orang-orang model pak Atok itu, malas karena tidak mau belajar untuk mengerti perilaku dan budaya kami. Mereka seperti katak dalam tempurung, menyangka tahu segala hal, padahal, sesungguhnya, mereka tak tahu apa-apa.” Urai Martin. Sungguh aku tak menyangka akan kecerdasan Martin. Bagaimana dia, bisa piawai menerangkan semuanya padaku.
“Iya.. Tin, saya maklum dan paham soal itu”. Jawabku singkat. Aku tak tahu harus menjawab apa, apa yang dikemukakan Martin itu, membuatku terperangah, aku tak menyangka, dari tampilan fisik yang demikian, lahir pemikiran yang sungguh-sungguh jernih dan brilliant. Bahkan, mungkin, tak pernah terpikirkan oleh mereka-mereka yang bergelar sarjana, termasuk pak Atok yang katanya orang pinter, dari Malang itu. Dia dikirim ke Papua ini, untuk memajukan putra daerah Papua. Tetapi kenyataannnya, orang-orang demikian hanya menjadi parasit saja. Gagal paham akan budaya daerah yang didatanginya dan gagal kerja sebagai agen perubahan. Terlalu mahal dan mubadzir Negara membayar orang-orang seperti Atok itu.
*****
Proyekku di Papua batal dikerjakan, Jakarta memutuskan proyek ini gagal dan tak layak untuk diteruskan, ada disparitas cukup mencolok antara harga Jakarta dan harga Papua, belum lagi biaya transportasi yang menjadikan costnya semakin tak masuk akal.
Besok aku dan team akan kembali ke Jakarta, kami akan kembali menghabiskan waktu selama delapan hari, terapung-apung diatas kapal, diatas permukaan laut yang tak begitu ramah, sebelum akhirnya tiba di Tanjung Priok. Tetapi bagiku, semuanya tidaklah sia-sia, peristiwa ditepian Danau Sentani memberikan pelajaran luar biasa bagiku. Bagaimana mereka telah menyelamatkan hidupku dan membekaliku, tentang bagaimana  pentingnya mengetahui perilaku orang sekitar kita dan budaya sekitar kita.
Ternyata, kearifan ada dimana-mana, bukan hanya milik mereka yang mengklaim sebagai orang kota saja.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar