Kamis, 16 Juli 2015

Cintaku Di Rumah Para Dewa



Waktu  pagi belum sepenuhnya tiba, masih terang tanah, gelap belum sepenuhnya pergi, masih ada beberapa kendaraan yang menyalakan lampu kendaraan, ketika Honda CB 100ku mulai menapaki jalan daerah Baciro, lalu berbelok menuju jalan Godean, terus dan teruuuuss ke arah barat. Agak dingin memang, memang begitulah biasanya pagi di Jogya, kota Gudeg dimana aku kini masih menempuh pendidikan. Tetapi, dingin itu tidak di dalam hati ini. Pipit merapatkan tubuhnya padaku, mungkin dia merasakan kedinginan itu, atau hanya alasan untuk merasakan hangatnya tubuhku, atau…. itu hanya isyarat kalau dia ingin lebih dekat denganku, mumpung masih ada waktu. Masih ada kesempatan.
“Pit…”
“Ehmmmm”
“Pegangan yang erat, nanti jatuh” aku coba mengingatkan Pipit, lebih tepatnya sebagai isyarat padanya, kalau aku memang memberikan perhatian lebih padanya.
“yupz..” jawab Pipit singkat, secara reflek aku merasakan ada tangan kecil yang makin erat memegang pinggangku, ada tubuh kecil imut yang makin merapat ke depan, mendekapku. Sedikit kehangatan yang ditimbulkannya, mengalahkan hangatnya hati ini, di dalam dada ini.
Pipit, bukan nama sebenarnya, dia hanya panggilan kesayangan dariku, panggilan yang membedakan ketika dia dipanggil oleh teman-temannya, tepatnya panggilan khusus dariku untuk Retno, wanita kecil imut-imut dari ketinggian lereng Dieng. Antara Dieng dan Wonosobo. Kami mulai akrab baru sekitar dua tahun, ketika aku hampir menyelesaikan kuliah di Bulak Sumur. Sementara, pipit masih lama. Masih dua tahun dibawahku. Kalau saja semua sesuai rencana, minggu depan aku akan ke Jepang. Untuk waktu lama, tidak jelas berapa lama persisnya, bisa tiga tahun, lima tahun atau sepuluh tahun. Semuanya tergantung, pada nasib dan keberuntungan dan suasana bathinku di sana. Sebelum aku berangkat, akan kutuntaskan dulu persoalanku pada Pipit. Semuanya harus jelas, hingga aku akan ringan meninggalkan negri tercinta ini. Dengan satu kepastian iya atau tidak. Aku tidak mau menggantungkan sebuah masalah, apalagi ini tentang masa depan kami. Masa depanku juga masa depan Pipit. Persoalan ini, adalah persoalan hati. Apa yang kurasa dan apa yang dirasakan oleh Pipit, oleh kami berdua.
Honda CB 100 ku, terus saja melaju, menapaki aspal yang masih menyisakan basah disana-sini, akibat gerimis semalam. Kini, kami sudah berada di perempatan Kenteng, lalu motor aku belokkan ke kanan, ke arah sendang Sono, dari sana, kembali Motor CB 100ku, kuarahkan ke arah Kalibawang. Kini, laju motor CB 100 ini, mulai merambat,perlahan, tak sekencang tadi, tanjakan itu makin terjal dan tinggi saja. Kalibawang merupakan tujuan terdekat kami, hingga, ketika akhirnya, motor CB 100 itu sampai di persimpangan yang memisahkan arah ke sendang Sono dan ke Puncak Suroloyo. Ke Puncak Suroloyolah, arah akhir tujuan terakhir perjalanan kami.  Di Puncak itulah kami, aku dan pipit akan memastikan langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya, sebuah keputusan yang akan mewarnai masa depan kami kelak.
Setelah mendapat tempat penitipan motor, aku dan Pipit memulai perjalanan ke puncak Suroloyo dengan berjalan kaki. Perjalanan akan sungguh melelahkan!. Jalan setapak, mendaki menyusuri anak tangga beton, yang disana-sini ada yang mulai rusak, dan berjarak lima kilometer. Jarak yang akan membuat kami berkeringat.
Akhirnya, rintangan besar itupun terlewati sudah. Aku dan Pipit tiba diujung perjalanan mendaki yang melelahkan itu. Puncak Suroloyo. Wajah Pipit nan mungil, imut-imut itu, memerah, mungkin karena ada aliran darah yang mengalir kencang, ketika pendakian tadi, ada keringat yang menetes di wajah itu. Semua lelah itu, terbayar tunai dengan hamparan panorama indah yang terhampar di depan kami. Puncak Suroloyo, dengan ketinggian yang 1.091 meter, pantas disebut sebagai rumah Para Dewa. Kami berada diujung atap bumi. Diatas kami hanya ada awan, langit, mungkin juga, dibalik awan itu rumah Para Dewa di angkasa. Sedangkan rumah para Dewa di atas muka bumi, ya Puncak Suroloyo ini.
Pipit membentangkan kedua tangan lebar-lebar, berlari kesana-kemari seakan, lepas dari beban berat, lalu mendapat apa yang selama ini dicari. Aku tak tak tahan melihat kebahagian yang terpancar di wajah cantik imut-imut itu. Wajah yang bermalam-malam menemani khayalku menuju indahnya masa depan yang akan kami lalui bersama. Lalu, dengan sekali tangkap, kuraih pingangnya, kamipun hanyut dalam pelukan panjang. Dua hati yang sedang berbunga-bunga itu, jadi semakin dekat, dengan merapatnya dua tubuh kami. Di ujung pelukan panjang itu, kuraih tangan Pipit, kubimbing dia mendekati Patung Batara Guru yang sedang berdiri di atas Lembu Andhini.
“Pit…” kataku pada Pipit, ketika Pipit telah duduk pada sebuah batu besar dekat sang Batara Guru. Bersebelahan dengan Lembu Andhini.
“Ehmmm..” tak ada jawaban kata yang keluar dari Pipit, hanya senyum penuh arti.
“Coba Pipit lihat sekitar kita. Disana terlihat Puncak Gunung Merapi, disebelah sana lagi ada Puncak Gunung Merbabu, disisi lain lagi, ada Puncak Gunung Sumbing, Puncak Gunung Sindoro.  Sementara pada ujung lain, coba lihat Borobudur itu..”
“Iya mas… aku lihat semua”
“Indah sekali ya?”
“Bukan hanya Indah Mas, luar biasa, menakjubkan”
“Sementara kita sendiri, kini berada di rumahnya Para Dewa. Di rumahnya Para Dewa ini, disaksikan oleh Batara Guru dan disaksikan empat Puncak Gunung tertinggi di Tanah Jawa dan ditambah Candi Borobudur. Aku melamarmu Pit, bersediakah Pipit jadi istriku. Berjanjilah kau akan mendampingiku hingga kakek nenek kelak, hingga, hanya maut yang mampu memisahkan kita” kataku, sambil berlutut dihadapan Pipit. Sangat Romantis.
“Iya Mas, aku bersedia dan berjanji..” jawab Pipit perlahan, ada keharuan pada suara Pipit, ada noktah bahagia di wajah itu, ada kesenduan dan kepasrahan yang sulit kutuliskan.
“Lalu..”
“Lalu apa Mas?” tanya Pipit, agak bingung dengan kata mengambang dariku.
“Kita akan jadikan ritual kunjungan setiap tahunnnya, ke Puncak Suroloyo ini, setiap tanggal 20 Februari, sesuai hari lahir Pipit, dan hari ketika Mas melamar Pipit di puncak Suroloyo ini, sebagai ritual dua hati yang menyatu, antara kita”
“iya mas…”
“Pipit dan Mas janji” kataku, merajuk Pipit, agar bukan hanya aku saja, tetapi janji berdua.
“iya Mas, Pipit janji, disaksikan Rumah Para Dewa, disaksiakan Empat Puncak Gunung dan Borobudur” kata Pipit mantap, tanpa keraguan sedikitpun
******
Sudah sejak jam sepuluh tadi, Aku  duduk di puncak Suroloyo, tak ada yang berubah, Batara Guru masih berdiri di tempat yang sama, dengan arah sudut pandang yang masih sama ketika aku meninggalkannya empat tahun yang lalu, demikian juga keempat Puncak Gunung itu dan Borobudur itu, masih di tempat yang sama. Tak ada yang berubah, meskipun empat tahun telah berlalu. Ternyata alam lebih kokoh, lebih kuat dari aku dan Pipit. Mereka lebih konsisten pada posisinya. Meski tanpa bicara, diam dalam hening.
Semuanya berawal ketika, Seminggu setelah aku melamar Pipit di puncak Suroloyo, akupun meninggalkan Pipit untuk pergi ke negeri Matahari terbit itu.  Sepuluh hari  di Negeri matahari terbit itu, musibah itupun terjadi, 11 Maret 2011. Gempa dengan kekuatan 9,0 pada skalarichter, menghancurkan segalanya, menimbulkan Tsunami hebat, terutama pada semenanjung Oshika, pantai timur Tohoku. 15.269 orang tewas dan 8.526 orang hilang. Sebuah tragedy kemanusiaan yang menakutkan sekaligus menyeramkan. Aku yang baru saja datang dari tanah air, mengalami guncangan hebat menyaksikan bencana yang luar biasa itu. Peristiwa yang tak mungkin terlupakan sepanjang hidup.
Meskipun aku selamat, tapi semua data yang kumiliki hilang, termasuk personal contact pada Pipit. Hubunganku dengan Pipit terputus.  Tak ada yang bisa kujadikan alat untuk menghubungi Pipit. Semuanya hilang kontak. Mungkin bagi Pipit, aku bagaikan hilang tertelam bumi, atau bisa saja, dianggap bagian dari mereka yang hilang pasaca gempa dan Tsunami yang mengerikan itu. Kini, empat tahun sudah berlalu, semuanya berjalan dalam kesunyian, mungkin Pipit, menyangka aku salah satu korban  dari musibah itu.
Empat hari lalu, aku kembali ke Jogya, kembali ke kotaku, kota yang memiliki sejuta kenangan. Jogya yang kini, sudah jauh berbeda ketika aku tinggalkan, Malioboro sudah penuh sesak, Mall dimana-mana, hotel-hotel megah berdiri hampir disemua tempat, membuat aku asing dengan Jogya ku sendiri. Kemana sepeda-sepeda itu, yang dulu merajai jalan-jalan di kotaku. Empat hari yang membosankanku dalam penantian yang menjemukan. Sesuai komitmen kami dulu, antara aku dan Pipit, bahwa  pada tiap tanggal 20 Februari, kami akan selalu mendaki puncak Suroloyo. Jika saja pada hari ini, di puncak Suroloyo ini, Pipit tak juga muncul, itu artinya besok aku akan menuju Wonosobo, lalu naik sedikit, menyusuri lereng Dieng, menjelang Dieng, disitulah tujuanku, rumah bidadari kecilku, rumah Pipit.
Rasanya, waktu bergerak sangat lamban, sama seperti halnya di rumah pada Dewa ini, tak ada perbedaan yang mencolok antara kemarin, kini dan bilangan tahun kemudian. Kemanakah kau, bidadari kecilku, apakah kau lupa dengan janji yang kita ucapkan dulu di rumah para Dewa ini, empat tahun lalu, kita berjanji akan selalu mengunjunginya tempat ini setiap tanggal 20 Februari, tanggal yang keramat bagiku dan bagimu. Tanggal hadirnya kau kepermukaan bumi ini, tanggal lahirnya tekad kita untuk menghabiskan sisa usia kita untuk bersama, menapaki cinta kita. Merajut masa depan kita, sesuai apa yang kita idamkan.
******
Sudah hampir putus asa rasanya, penantian selama empat tahun di negeri Sakura, rasa tak sabar dalam perjalanan dari Jepang ke Yogya, serta perjalanan ke rumah Para Dewa yang menguras tenaga. Agaknya akan berakhir dengan kekecewaan. Ironisnya, puncak kekecewaan itu, kembali akan terjadi di tempat sama yang ketika titik awal kebahagiaan itu bermula. Pipit kecilku rasanya tak akan muncul. Mungkin saja, Pipit berkesimpulan aku telah ditelan tsunami 11 Maret 2011 lalu. Hingga akan percuma saja, dia mengunjungi Rumah Para Dewa ini. Tokh  semua akan sia-sia, aku yang telah ditelan Tsunami pasti tak akan kunjung muncul menemui bidadari kecilku.
Hari makin meninggi, sebentar lagi akan tengah hari, aku masih berharap Pipit akan muncul. Kegelisahanku kini semakin lengkap saja. Gelisah karena Pipit yang tak kunjung datang dan gelisah jika lewat tengah hari nanti akan turun hujan. Perjalanan turun yang disertai hujan dan tak bertemunya dengan Pipit, sungguh akan melelahkan Jiwa dan Ragaku. Tapi, kepalang sudah datang ke puncak Suroloyo, akan kutunggu Pipit hingga sore menjelang, hingga aku akan sampai pada kesimpulan haqul yakin, bahwa orang yang kutunggu tidak datang.
Tiba-tiba… antara percaya dan tidak, aku mengusap-usap mataku, takut mata ini salah lihat, dari anak tangga terakhir tempat arah datang pengunjung, sosok kecil imut-imut itu berjalan ke arahku, sosok yang sangat kukenal, sosok bidadari kecilku, sosok yang sudah sangat kurindukan, sosok yang kupanggil dengan panggilan kesayangan.. Pipit. Aku mengembangkan kedua tanganku lebar-lebar sambil berlutut, sementara Pipit dengan langkah kecilnya, berlari kecil menuju arahku. Kami berpelukan erat. Lamaaaa.. sekali.
Di rumah para Dewa ini, disaksikan empat puncak Gunung dan Borobudur serta Batara Guru. Kami dipertemukan kembali.




2 komentar:

  1. Luarr biasaa...sederhana tapi menyentul dan super romantiss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk hadirnya mbak Suzie,
      salam,IZ

      Hapus