Rabu, 15 Juli 2015

Cinta yang Datang Terlambat



Jakarta yang ramai, sesak, penuh dan pengap, serta asap kenalpot Bus kota yang menyesakkan dada. Tetapi jangan bayangkan Jakarta seperti Sekarang. Jakarta tahun 1978 sama sekali berbeda dengan Jakarta tahun 2015. Ketika itu, jumlah motor masih dapat dihitung dengan jari sebelah tangan, tak ada Bus Kota AC. Yang merajai jalan-jalan di Ibu kota Negara tercinta ini, hanya beberapa merk Bus saja, seperti Bus Mayasari Bhakti, Bus Merantama dan PPD. Semuanya tanpa AC.
Memasuki Terminal Cililitan, ada rasa lega, dada ini terasa lapang.  Karena, sebentar lagi, aku akan berganti shift dengan Manulang, selanjutnya aku akan pulang ke Condet,  merebahkan badan lelah penuh debu ini. Untuk sorenya duduk di tepi jalan, sambil main catur bersama teman-teman yang masih lajang atau mereka yang jauh dari keluarga. Umumnya, karena alasan ekonomilah, mereka meninggalkan keluarganya di Kampung, Krena untuk membawa keluarga ke Jakarta, itu berarti akan menambah anggaran rumah tangga,sedang penghasilan hanya pas-pasan, agar penghasilan cukup, maka terpaksa, keluarga ditinggalkan di kampong. Atau sekali-kali godain cewek abg yang lewat. Hidup harus dibuat ringan, untuk apa dibuat ribet, buang semua beban hidup yang gak perlu. Apa yang harus dikejar? Realistis saja, bekal ijazah SMA yang kubawa dari kampung tak menjadikan aku apa-apa dan siapa-siapa di Jakarta ini. Tujuh tahun berlalu sudah, sejak aku meninggalkan kampong. akhirnya terdampar jadi kondektur Bus kota, sudah tak lagi berharap banyak, hanya jika ada keajaiban saja yang akan merubah segalanya. Tanpa keajaiban itu, apalah awak ini. Sudah dapat Makan dan membayar uang kost tiap bulan saja, sudah syukur. Untuk menikah dan berumah tangga, masih dalam khayalan. Singkat kata, aku masih lajang hingga kini. Lajang  tua yang tak laku-laku. orang kampungku menyebutnya sebagai bujang lapuk.
Dua ratus meter menjelang Cililitan aku sudah berteriak-teriak keras, meneriakkan para  penumpang, bahwa terminal Cilitan sudah dekat, penumpang agar bersiap-siap untuk turun, itulah, teriakan terakhirku siang itu, sebelum, teriakan ini digantikan oleh Manulang.
“Cililitan habis,…. Cililitan habis!!!” begitu teriakanku. Berkali-kali, berulang-ulang sebelum akhirnya Bus merantama itu, dengan sekali tikungan tajam masuk Terminal Cililitan. Lalu, penumpangpun berdiri, berebut untuk saling mendahului turun dari Bus.
“Abang ditunggu sama Bang Manik” kata Ucok, tiba-tiba muncul dihadapanku, setelah penumpang turun semua.
“Ada apa rupanya Cok?” Tanyaku, tak tahu kapan Ucok naik, tahu-tahu sudah berdiri di depanku.
“Katanya penting!” jawab Ucok sambil tersenyum, tepatnya menyeringai kearahku.
“Soal apa?” tanyaku penasaran. Sudah biasanya, Ucok tak pernah tuntas mengerjakan segala hal.
“Manapula ku tahu, abang temuilah. Nantikan abang tahu sendiri” jawab Ucok pula. Singkat.
“Ah… kau Cok, tak pernah tuntas kalo ngurus masalah” kilahku pula, sedikit menggerutu.
“Iyalah… banyak tanya awak, marah pula nanti Bang Manik. Jadi, lebih bagus abang tanya langsung saja” Jawab Ucok pula, membela diri, tak mau disalahkan.
Tak butuh waktu lama aku mencari bang Manik, kulihat bang Manik, sedang duduk ngopi. Tak acuh saja Bang Manik melihatku. Seakan tak ada sesuatu yang penting-penting amat. Sambil meneruskan rokok dan kopinya, Bang Manik, lalu memberikan sepucuk surat. Surat dari kampung, dari kedua orang tuaku.
“Sepertinya kau di suruh pulang War. Pulang dululah, tak mungkin Omakmu menyuruh pulang kalau tak penting” pesan Bang manik. Selanjutnya, bang Manik, kembali asyik tenggelam  dengan kopi dan Catur yang ada dihadapannya. Dan kembali, akupun diacuhkannya.
*******
Senja belum lagi lama usai, suara orang berdzikir masih terdengar di surau seberang jalan. Daerah kami, daerah Purba Tua, memang terkenal sebagai daerah yang kental dengan nuansa Islami. Aku sudah duduk di depan Omak, sebelah Omak duduk pula Amanguda, seperti pesakitan saja kurasakan badan ketika itu. Entah hal apa yang akan mereka bicarakan, hingga aku dipanggil pulang.
“Kau tahu War, kau lah satu-satunya anak Omakmu yang laki-laki. Kami berharap kau akan segera menikah. Siapa lagi yang akan meneruskan Marga ini, selain kau saja. Bapakmu waktu hidup, tak sempat menyaksikan kau menikah. Jangan pula nanti Omakmu akan mengalami hal yang sama” Kata Amanguda memulai pembicaraan, tak bertele-tele, langsung masuk pada pokok masalah. Tuntas dan lugas.
“Omak juga sependapat dengan Amanguda” kata Omak pula. Kesimpulanku, Omak ingin aku segera aku menikah, agar Marga ini, ada yang meneruskan.
“Tapi aku belum siap Mak. Di Jakarta aku tidak punya jabatan dalam kerja Mak, aku hanya seorang kondektur. Lagi pula….” Kataku, sengaja tak kuselesaikan kalimat terakhir.
“Lagi pula apa?” kata Omak tegas, lalu merubah posisi duduknya, tepat menghadapku.
“War, belum punya calon” jawabku pula, singkat.
“Kalo soal Calon, tak perlulah kau pikir, ada Lina anak Nan Tulangmu, dia sudah dua tahun ini, tamat dari Pesantren” Kata Omak pula. Kulihat amanguda, diam saja.
“Tapi apa dia mau sama War? War hanya kondektur Mak, tak punya apa-apa”
“Itu urusan Makmu War” kali ini, Amanguda ikut bicara.
“Tapi bagaimana War akan menikah, kami belum saling kenal, apalagi saling Cinta?”
“Dengar War. Kau sudah dibodohi-bodohi sama lingkunganmu, sama orang Jakarta sana. Untuk menikah dan berumah tangga, modal laki-laki itu, bukan cinta. Tapi tekad dan komitmen. Kau hanya butuh tekad dalam hatimu untuk melaksanakan apa yang Omakmu mau, melaksanakan keinginan  Omakmu, itu artinya, mengerjakan apa yang Omakmu mau dengan sepenuh hati dan sepenuh pengabdian. Melaksanakan dengan cara, mengerjakannya dengan sesempurna mungkin. Sehingga, ketika Omakmu melihat usahamu, Omakmu akan senang. Dari senangnya Omakmu, Maka dunia ini sudah kau taklukan. Karena senangnya Omakmu, itu artinya Tuhanpun senang. Kalau Tuhan sudah senang padamu, rezeki akan datang dengan mudah, Tuhan saja senang padamu apalagi istrimu. Membuat Omakmu senang, akan mengakibatkan Tuhan cinta, kalau Tuhan cinta, rezeki akan mendekat dan istri akan cinta dengan sendirinya sama kau. Lalu komitmen. Kita laki-laki War, apa yang sudah diucapkan harus dilaksanakan sampai mati. Ingat. Ketika kau menikah. Kau telah mengambil alih tanggung jawab istrimu dari orang tuanya. Maka, kau pikullah tanggung jawab itu sampai ajal tiba menjemputmu” Kata Amanguda panjang lebar. Aku hanya mengangguk dan mendengarkan saja. Ada rasa seganku pada Amanguda. Adik Ayah itu, memang punya wibawa besar, paling tidak, itu yang kurasakan untukku.
“Tapi War mau kerja apa di kampung ini?” aku masih mencoba membela diri dan menjelaskan pada Omak dan Amanguda. Menikah itu mudah, tapi apa selanjutnya setelah nikah. Bukankan setelah menikah akan ada tanggung jawab besar yang mengikutinya setelah ijab Kabul dilaksanakan.
“Kau bisa jadi supir, trayek Purba Tua – Sipirok misalnya. Atau Purba Tua– Sidempuan. Tapi, menurut Amanguda, lebih baik kau bertani saja, tanah orangtuamu luas, kalau kau rajin dan kreatif, kau akan jadi orang kaya War. Tanaman sawit sedang jadi primadona di kampung kita, setelah era buah salak berlalu” kata Amanguda lagi.
“Benar kata Amanguda itu War, bertani jauh lebih baik” kata Omak pula.
******
Aneh memang, aku hanya menuruti kata Omak, karena kata ustadku dulu, waktu ngaji di surau ustad Lubis, ridho Omak adalah ridho Allah. Lina telah jadi istriku, tanpa cinta, hanya melalui perkenalan singkat saja, satu-satu anak lahir, anak kedua lahir laki-laki, itu artinya, sudah ada yang akan meneruskan Marga ini, tujuan besar pernikahan ini telah tercapai, tak ada lagi keraguan akan hilangnya Marga yang akan meneruskan generasi ini, aku hanya melakukan semuanya sesuai kata Amanguda, menyenangkan hati Omak. Ketika Omak berpulang sepuluh tahun lalu, dia pulang dengan senyum, sudah ada penerus Marga itu. Sehingga silisilah keluarga ini tak akan putus, minimal sampai satu generasi dibawahku.
Pagi berganti siang, siang berganti malam, sehari, lalu seminggu, kemudian berganti bulan dan tahun. Semuanya berjalan sesuai irama waktu, tanpa ada protes dan perlawanan, mengikuti perputaran waktu dan hukum alam. Aku mencurahkan segenap perhatianku untuk lahan pertanian garapanku, tak kenal lelah dan keluh kesah, hanya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai suami dan bapak dari anak-anakku.
Satu yang berubah pada diriku. Aku selalu saja rindu untuk pulang, ada Lina, istri yang akan menyambutku dengan senyum, ada anak-anak yang bangga menyambut bapaknya pulang. Ada yang hilang rasanya, kalau makan malam tak di rumah, sarapan pagi tak dihadiri semua anggota keluarga. suasana hangat keluarga ini membuatku benar-benar ketagihan. Apa ini yang disebut Cinta? Kalau benar itu yang disebut cinta, Maka, cinta itu datangnya terlambat, perlahan-lahan sekali, amat samar dan tanpa kusadari kapan datangnya, tiba-tiba saja, aku telah terjerat dan terperangkap di dalamnya. Aku hanya tahu soal rasa ini saja. Rasa yang selalu ingin hidup bersama Lina, rasa yang selalu ingin hidup bersama anak-anak. Mereka harta paling berharga yang kini ku miliki, apalagi setelah Omak tak ada lagi. Tak ada artinya semua kebun sawit yang berhektar-hektar itu, rumah besar dan kendaraan roda empat yang kumiliki itu, dibanding arti kehadiran mereka semua dalam hidupku.
*****
Malam baru menunjukkan angka jam 23.08 WIB. Belum larut benar, apalagi menurut ukuran Jakarta, aku sedang duduk Makan Ketupat Padang di pinggir jalan seberang terminal Cililtan bersama Mayor Inf. Syafrudin Siregar. Anak keduaku yang telah membanggakanku, bukan karena pangkatnya, tetapi karena dia yang akan meneruskan Marga keluargaku. Aku masih memandang ke seberang jalan. Pada bekas Terminal Cililitan itu, tak ada satupun tanda-tanda yang dapat kukenal dari masa laluku dulu. Disitu telah berdiri kokoh sebuah Mall yang menghapuskan semua jejak masa laluku. Ada rasa sedih yang menggelayut di hati ini. Dibalik kemegahan semua itu, ada selembar masa lalu yang terukir kuat disana, terlepas apakah itu masa lalu yang pahit, tetapi bagiku, dia tetaplah masa lalu yang patut untuk dikenang. Tetapi juga ada rasa syukur. Bagaimana aku akan menceritakan pada juniorku, kalau dulu bapaknya pernah jadi kondektur dan akrab dengan cililtan itu. Mall itu telah menghapuskan semua jejak masa lalu. Kuputuskan juga untuk menghapus semua cerita masa lalu itu. Biarlah semua itu menjadi rahasiaku sendiri. Tak semua sisi masa lalu kita harus diketahui anak dan diceritakan pada anak. Dan  tak menjadikan kewajiban pula bagi anak, untuk mengetahui apa yang telah dilakukan dan dirasakan oleh orang tuanya, pada masa lalunya.
Ketika semuanya kurasa cukup, cukup pada perenungan dan penolehan akan tempat dan ruang dimana masa lalu itu berlangsung, jam sudah menunjukkan pukul 01 dinihari, aku putuskan untuk menyudahi semuanya kenangan masa lalu itu, saat ini juga, dengan sebuah isyarat, aku mengajak yuniorku untuk segera meninggalkan tempat duduk kami. meninggalkan daerah yang akrab dengan masa laluku itu. Meninggalkan daerah Cililitan, meninggal bekas terminal yang kini telah menjelma menjadi Mall.
Perlahan-lahan mobil yang dikendarai Syafrudin bergerak meninggalkan areal daerah Cililitan, aku masih menoleh ke arah seberang jalan, ke arah bekas terminal itu,  mungkin itu tolehan terakhir bagiku, tolehan pada masa lalu, yang menyisakan banyak sejarah dalam kehidupanku, aku dan juniorku rencana malam ini akan pulang, langsung menuju ke Sumatera, disana telah menunggu orang yang kami cintai, orang tercinta yang menemani hari-hari panjangku pasca kehidupan di Cililtan yang baru saja aku tinggalkan. Orang itu. Lina. Ibu dari anak-anakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar