Sabtu, 01 Agustus 2015

Cikate Cigemblong


Pasar Cikupa (dok.Pribadi)

Ada anekdot yang berkembang pada masyarakat lebak Banten, bahwa belum lengkap ke Selatan Banten kalau belum mengunjungi Cikate, kalau Malingping, Bayah dan sawarna selalu ditandai dengan laut, pantai yang eksotik serta jalan yang relatif bagus, maka cikate ditandai dengan daerah perdesaan yang berada diatas pegunungan, tanjakan dan turunan yang sangat curam, serta jalan yang kondisinya rusak berat.Lalu apa yang dicari di cikate ?, daerah yang identik dengan ketertinggalan ini, menyimpan begitu banyak keindahan alam dataran tinggi serta budaya local yang belum banyak tersentuh.

Penjual Gula Cimenga (dok.Pribadi)
Berbekal dengan rasa penasaran itu, sabtu pagi saya telah siap-siap untuk melakukan perjalanan panjang menuju Cikate dari Malingping, setelah meninggal kan kota malingping, segera kita disuguhi rangkayan pohon karet, hingga mendekati wilayah kecamatan cijaku, dari cijaku, suasana pedesaan sudah mulai akrab mengiringi perjalanan sabtu pagi itu, tanpa dinyana ketika perjalanan sampai daerah pasar kupa, ternyata sedang ada pasaran (pasar ini hanya ramai pada hari sabtu, selain itu suasana sepi), suasana pasar kaget ini khas pedalaman, ada keakraban antara penjual dan pembeli, ada warung kopi khas pedalaman dan yang tidak kalah menarik ada pedagang gula merah, yang disini dikenal sebagai gula merah Cimenga, ukurannya bukan kilogram, tetapi ukuran Toros, yakni batok kelapa yang diisi gula merah dan dihitung dengan lima pasang yang diikat saling berpasangan.

kedai kopi masyarakat Cigemblong (dok.Pribadi)
Perjalananpun diteruskan, menjelang kantor kecamatan Cigemblong, kami disergap dengan tanjakan tinggi dan panjang, penduduk local menamakan tanjakan ini sebagai tanjakan seliter, karna sebelum jalan ini diperbaiki, untuk sampai pada ujung tanjakan, bahan bakar yang dibutuhkan  motor menghabiskan satu liter premium.
Lewat kantor kecamatan lalu kami berbelok kiri, menuju cikate, perjalanan sulitpun dimulai, ada tikungan tajam menurun, kelokan tajam menanjak ditambah bonus jalan rusak parah, tapi semua itu seakan terbayar lunas dengan suguhan pemandangan alam yang luar biasa, ada tumpukan sawah berjenjang (terasering) diperbukitan, ada kerumunan leuit (tempat menyimpan padi khas Banten) serta aliran sungai yang kadang sejajar dengan arah jalan atau membentuk sudut dengan jalan.

leuit atau lumbung padi (dok.Pribadi)
Cikate adalah nama sebuah Desa di kecamatan Cigemblong, tetapi nama cikate ini kadang berarti lain bagi para petualang local, dia identik dengan petualangan, pembangkit adrenalin sekaligus menyuguhkan pesona alam yang khas pedalaman banten, sekitar tengah hari, kami sampai di cikate, ada sedikit acara silaturahmi dengan Bp Subarni kepala Desa Cikate, ada keramahan yang polos dan ikhlas, dengan disuguhi ikan mas dan nasi dari leuit, kami bersantap dengan lahap, namun langit diatas cikate begitu gelap, sebentar lagi akan turun hujan, akhirnya hujan itupun turun dengan derasnya, untu kembali ke Malingping rasanya tak mungkin. Resiko yang menghadang cukup besar. Akhirnya, kami putuskan untuk bermalam.Perjalanan pulang, akan kami lakukan esok hati.  
Disini, alam menentukan schedule manusia. 
Sawah Terasering Cikate (dok.Pribadi)
sisi lain cikate (dok.Pribadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar