Senin, 27 Juli 2015

Cerita Sekitar Bahasa


Gayatri  Dwi Wailissa baru saja berpulang keharibaanNya, kehilangan yang tak hanya dirasa oleh anggota keluarga, melainkan oleh seluruh anak bangsa. Remaja yang disebut anak ajaib ini, memang luar biasa. Menguasai empat belas bahasa dunia. Kemampuan yang perlu dapat acungan jempol. Kemampuan yang menginspirasi remaja lain, untuk bisa mengikuti jejaknya.
Bahasa menunjukkan bangsa.  Demikian pepatah yang memiliki multi tafsir. Bahasa yang digunakan menunjukkan sifat dan karakter bangsa penggunanya. Cara  menggunakan bahasa menunjukkan pribadi si pemakai bahasa itu, hingga rasa bahasa tidak selalu dapat dialih bahasakan ke dalam bahasa lain.
Saya memiliki beberapa cerita tentang bahasa. Ceritalah inilah, yang akan saya bagi untuk sahabat saya semua, semoga ada manfaat untuk kita semua.
Prinsipnya, memiliki kemampuan menguasai banyak bahasa memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan. Meskipun, saya hanya memiliki kemampuan banyak bahasa dalam bahasa daerah, bukan bahasa Internasional.
Berikut, adalah beberapa cerita tentang bahasa itu.
Cerita ini, terjadi ketika saya mengerjakan proyek di Surabaya, pada sebuah tempat yang dipopulerkan oleh Mus Mulyadi dengan lagunya “melaku-melaku neng Tunjungan”. Benar. Tempat itu bernama Tunjungan. Tepatnya, proyek Tunjungan Plaza 2 dan3. Sebagai karyawan, tentu saya harus membagi waktu untuk pekerjaan dan waktu untuk keluarga. Maka setiap dua minggu sekali, saya pulang ke Jakarta. Moda transportasi yang saya gunakan Kereta Api. Kereta Api bukan kelas eksekutif semisal Argo, melainkan sediki diatas kelas ekonomi yang bernama KA Kertajaya. Ketika peristiwa ini terjadi, KA Kertajaya belum ada gerbong yang menggunakan AC. Hal yang khas dari KA Kertajaya, penumpangnya di dominasi etnis Madura, berhenti hampir di semua Stasiun.
Ketika KA Kerta jaya yang saya tumpangi tiba di Stasiun Babat, biasanya akan naik penjual Nasi Pecel yang kelak akan turun di Stasiun berikutnya, Bojonegoro. Disinilah cerita itu dimulai. Salah seorang diantara mereka yang menjual nasi pecel itu. Sebut   saja bu Minah, dari dialeg bicaranya saya tahu, beliau orang Cirebon atau Tegal. Saya lalu bertanya tentang asalnya, benar saja, beliau berasal dari Gegesik Kulon, Gegesik Cirebon. Maka,  Sayapun berbicara dengan bu Minah dengan menggunakan bahasa Cirebon. Saya pesen Nasi Pecel Bu Minah. Sejak saat itu, setiap saya bertemu bu Minah, beliau tanpa diminta langsung membuatkan nasi pecel  untuk saya. Kata beliau ini untuk “dulur’e kita”. Saya sih senang-senang saja, meskipun harus keluar uang untuk nasi pecel bu Minah. Tapi bukankah uang yang keluar itu untuk  “dulur’e kita”. Lalu, apa ruginya saya? Saudara dapet, nasi pecel tanpa dipesan dapet, sedangkan uang uang dikeluarkan untuk “dulur’e kita”.
Peristiwa berikutnya, masih di Jawa Timur. Saya yang seneng wisata. Suatu ketika, saya jalan-jalan ke Desa Wonosari, kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Daerah dengan ketinggian 2.860 meter dari permukaan laut itu, untuk beberapa kelompok orang, Wonosari memiliki arti “khusus”, sedangkan untuk saya pribadi, hanya sekedar ingin tahu, tidak lebih dari itu.
Singkat cerita, saya bertemu dengan saudara yang berasal dari Parahiyangan. Kamipun ngobrol dalam bahasa Sunda, waktu berlalu, teman ngobrol saya ternyata sedang menunggu temannya tiga orang lagi untuk melakukan ritual, saya yang kebetulan tak punya acara dan jam  sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam, mereka tahan untuk tidak kembali ke Surabaya malam itu. Jadilah saya begadang, sedangkan “baraya saya”  asal  Parahiyangan itu, melakukan ritual. Besoknya saya ikutan mereka pulang ke Surabaya. Soal hasil ritual itu, saya tidak pernah tanya dan “baraya saya”  asal  Parahiyangan itu, juga, tidak pernah cerita. Tetapi satu hal yang jelas, saya telah dapat saudara, tidak perlu tidur di hotel serta pulang ke Surabaya gratis.
Cerita ketiga, ketika saya di Papua, ketika itu masih bernama Irian Jaya. Saya yang tinggal di Sentani, jika ke Jaya Pura umumnya menggunakan angkutan umum. Supir angkutan umum itu, hamper semuanya berasal dari Jawa (Jawa Timur atau Jawa Tengah), tak jarang kami ngobrol dalam perjalanan antara Sentani-Jayapura dengan menggunakan bahasa Jawa. Dapat berbahasa daerah sendiri diperantauan yang jauh dari kampong halaman, merupakan kemewahan tersendiri yang tak dapat dibeli dengan uang. Akibat selanjutnya, jika saya pergi pulang Sentani-Jayapura, supir-supir angkutan itu, berusaha agar saya duduk di depan, didekat mereka, alasan mereka sederhana sekali, saya dianggap “dulure dewe”.
Cerita keempat, masih di Tanah Papua, yang dulu masih bernama Irian Jaya. kali ini, di Sorong, ketika itu, saya berteman dengan sepasang suami istri yang terusir dari kampungnya di Ranah Minang, karena pernikahan sesuku (satu marga), menurut adat Minang, hal itu, merupakan sesuatu hal terlarang untuk dilakukan. Mereka membuka rumah makan Padang dan saya salah satu pelanggannya. Selesai makan, saya biasanya suka ngobrol dengan sang Uda dalam bahasa Minang. Entah karena rasa rindu kampuang  terobati dengan obrolan kami, atau entah karena obrolan kami cocok. Selanjutnya, setiap saya mengunjungi rumah makan si Uda, saya selalu disambutnya dengan sapaan ramah ala beliau…. Dun sanak ambo, rang sakampuang. 
Masih ada beberapa cerita yang menarik lain yang terjadi di Medan, Rantau Prapat, Padang, Palembang, Kaltim serta Sul-Sel. Masih tentang bahasa daerah. Tetapi, terlalu panjang untuk diceritakan.
Pointnya, berbicara dengan lawan bicara kita, menggunakan bahasa ibu mereka, akan terjalin kedekatan bathin dan kedekatan rasa, akan  ada rasa bahasa yang nyambung disana. Mengembalikan sang lawan bicara kita ke alam bawah sadarnya, akan keindahan masa kecilnya yang damai dari daerah asalnya yang tidak mungkin untuk dihapus begitu saja dalam memori indahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar