Selasa, 28 Juli 2015

Biarlah Tulisan Itu Mengikuti Takdirnya


Jika ada tiga orang yang perlu mendapatkan apresiasi dalam gaya menulis, menurut saya pribadi, maka tiga orang itu adalah WS Rendra, Buya Hamka dan Thamrin Dahlan. Kebetulan ketiga orang yang saya apresiasi itu, memiliki benang merah antara ketiganya.
WS Rendra, dalam sebuah kesempatan, menulis, Jika ada orator terbaik di Indonesia, yang mampu membuat audiencenya terpaku, lalu mengikuti segala tetek bengek uraiannya dalam berorasi, maka orang pertama itu, Ir Soekarno. Lalu, orang kedua itu, Buya Hamka.
Masih menurut  Rendra, Soekarno dengan pidatonya yang gagah berani, mampu memukau dan menggerakkan audience untuk mengikuti apa yang dipidatokannya, sementara Buya Hamka, dengan kefasehan dalam bersasatra yang diejawantahkan dalam orasi, mampu memukau apa yang diceramahkannya. Dua-duanya, mampu meninggalkan kesan mendalam pada audience, hingga tak sedikit, mereka mampu, mengulangi kata perkata dari apa yang telah dipidatokan, baik oleh Soekarno maupun oleh Buya Hamka.
Rendra memiliki kelebihan dalam menulis Puisi, sedang Buya Hamka memiliki kelebihan dalam menulis Sastra, puluhan novel bernilai sastra telah lahir dari tangan Buya Hamka.
Sedangkan Thamrin Dahlan, seorang Purnawirawan Polisi, memiliki kelebihan dalam semangat menulis dalam era modern, seorang kompasianer yang telah melahirkan beberapa buku, tulisannya mengalir deras pada setiap kesempatan, langganan Hihgliht dan TA, bahkan tak jarang dalam satu hari yang sama, ada dua hingga tulisan yang nangkring di kolom ter.. ter..
Lalu apa benang merahnya antara Buya Hamka dan Thamrin Dahlan? 
Dalam banyak tulisan, apakah di Kompasiana atau update status di Facebook, Thamrin Dahlan sering mengutip kalimat Buya Hamka “Biarlah tulisan itu mengikuti Takdirnya… Biarlah tulisan itu membela dirinya sendiri”.  Sebuah ungkapan yang agaknya memiliki arti yang sangat berarti bagi Thamrin Dahlan, sehingga beliau sering mengutip ungkapan itu, boleh jadi, beliau sedang berusaha memasarkan ungkapan itu, agar kita semua dapat menangkap RUH dari ungkapan yang syarat makna itu. Ungkapan yang sering beliau kutip itulah, yang membentuk benang merah antara Buya Hamka dan Thamrin Dahlan.
Lalu, bagaimana Sebenarnya, “ababun nuzul”nya kalimat “Biarlah tulisan itu mengikuti Takdirnya. Biarlah tulisan itu membela dirinya sendiri”.  Sehingga demikian sering menjadi kutipan bagi para penulis. Berikut ini, saya ceritakan sedikit sejarah tentang kalimat sakti itu.

Bagian dari dialog novel di bawah lindungan Ka’bah 
Adalah Hamid, seorang pemuda Minang, yang terpaksa meninggalkan kampung halamannya setelah kematian sang Ibunda tercinta, membawa hatinya yang patah untuk menuju Mekah, karena tak ada lagi yang dapat dibuat alasan untuk bertahan di ranah Minang, karena Zainab, sang dara yang dikagumi dan dicintai tak mungkin untuk diraih. Perbedaan antara keduanya, antara Hamid dan Zainab, menganga jurang teramat dalam dan sangat lebar. Hamid, seorang anak yatim, yang dengan belas kasihan haji Ja’far, dapat menuntut ilmu agama di Padang Panjang, sementara Ibu Hamid hanya pembantu di rumah Haji Ja’far di Padang Kota. Begitulah posisi Hamid dalam keluarga Haji Ja’far. Sang Ibunda, hanyalah pembantu, dan Hamid hanya seorang anak pembantu yang telah yatim. Sedangkan Zainab, adalah anak satu-satunya dari Haji Ja’far.
Maka ketika Haji Ja’far berpulang ke Rahmatullah, lalu disusul sang Ibunda Hamid tercinta, tak ada lagi pegangan untuk bergantung, hilang pijakan bumi untuk menapak dan melangkah.
Pada masa-masa yang demikian memilukan itu, ternyata, cobaan yang datang, belum juga reda. Kini cobaan terbesar datang dari Ibunda Zainab, Aisah. Ibunda Zainab, meminta Hamid dengan sangat, agar bersedia membujuk Zainab, agar bersedia menerima lamaran yang datang dari sepupunya.
Dunia seakan runtuh. Bayangkan, membujuk orang yang dicintai untuk menikah dengan orang lain. sementara orang yang dibujuk, sangat mencintai orang yang membujuk. Hamid sangat mencintai Zainab, demikian sebaliknya. Zainab sangat mencintai Hamid. Namun, jurang diantara mereka sangat dalam dan lebar. Adat istiadat dan Status sosial tidak memungkinan cinta diantara mereka untuk menjadi nyata. Tapi, semua harus Hamid lakukan. Hanya karena balas budi dan status social, Hamid harus melakukan apa yang sangat bertentangan dengan rasa hatinya.
Selesai menunaikan tugas maha berat itu, tak ada lagi yang bisa dipertahankan untuk tetap bertahan di ranah Minang, maka Mekah adalah tujuan akhir yang diharapkan akan membuat hati Hamid sedikit terobati. Dengan berbekal sedikit peninggalan sang Bunda, Hamid menuju Mekah, tanah haramain, tempat Hamid akan mengadukan seluruh masalah yang dihadapinya pada sang Penguasa alam semesta ini. Memohonkan sedikit iba pada sang Maha Pengasih.
Waktupun berlalu, hingga, Ketika Saleh, suami Rosna hendak melakukan ibadah haji. -Rosna dan Saleh, adalah teman kental Hamid dan Zainab, sejak mereka kecil dulu, Rosna berteman akrab dengan Zainab, sedangkan Saleh berteman akrab dengan Hamid. Seluruh derita Zainab telah diketahui Rosna dan seluruh kepiluan hidup Hamid telah menjadi bagian dari Saleh-  Zainab menitipkan surat untuk sang pujaan hati  -Hamid- yang musykil untuk diraih itu. 
Bertanyalah Saleh :”Bagaimana mungkin, aku menyampaikan surat itu pada Hamid? Satu manusia diantara jutaan manusia, ketika ibadah haji berlangsung, sedangkan alamat Hamid saja, aku tidak tahu, apakah Hamid masih hidup atau sudah meninggal, aku juga tidak tahu, apakah Hamid ikut melaksanakan Ibadah haji atau tidak, aku juga tidak tahu?”
Menjawab pertanyaan Saleh dan keraguan Saleh itu, Zainab yang ketika itu, sedang dalam kondisi sakit parah, menjawab, jawaban inilah kelak, yang menjadi sebuah jawaban yang sangat terkenal, yang selalu saja menjadi kutipan bagi mereka yang asyik dalam dunianya, dunia tulis menulis.
Jawaban zainab atas pertanyaan Saleh itu. Kau bawa sajalah surat itu, surat yang akan menjadi pembuktian dariku, bahwa aku masih seperti dulu, baik jasmani dan rohaniku, tak satupun manusia yang dapat meraih tubuhku apalagi cintaku, selain Hamid. “Biarlah tulisan itu mengikuti Takdirnya. Biarlah tulisan itu membela dirinya sendiri”.
Akhirnya, kisah selanjutnya dalam novel Hamka itu mencatat, bahwa Saleh berhasil bertemu dengan Hamid, dan dari tangan Saleh pula, surat balasan dari Hamid dikirimkannya pada Rosna untuk selanjutnya diberikan pada Zainab.
Di dunia fana ini, Hamid dan Zainab hanya sempat ditautkan dengan lembaran-lembaran surat yang berisikan tulisan. Tetapi, mereka dipertemukan Allah pada kehidupan berikutnya, pasca kehidupan dunia ini. Karena berbarengan dengan pelaksanaan Haji itu, Hamid menghembuskan napasnya yang terakhir di pangkuan Saleh, dalam waktu yang bersamaan hal yang sama terjadi pada Zainab. Zainab menghembuskan napas terakhirnya dipangkuan Aisah sang bunda, disaksikan Rosna.
Novel di Bawah Lindungan Ka’bah itu, telah lama selesai ditulis Buya Hamka. Namun kata jawaban Zainab pada Saleh, seakan menjadi kata sakti bagi banyak penulis. Kata yang dapat diartikan dengan multi tafsir dan multi solusi. Kalimat itu berbunyi:
“Biarlah tulisan itu mengikuti Takdirnya. Biarlah tulisan itu membela dirinya sendiri”.





Catatan:
Hamid dan Zainab, tokoh utama dalam novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah”… narasi yang ditulis diatas, versi saya sendiri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar