Sabtu, 25 Juli 2015

Berlomba Mengejar Pahala



Seminggu lalu, seorang adik menelpon dari Ponselnya.
“Bang….. mohon do’anya, mudah-mudahan selamat pergi-pulang..”
“Emang mau kemana dik?” tanya saya
“Ini diatas pesawat Emirat, sedang bergerak mau take off, sebentar lagi HP akan saya matikan Bang. Saya mau berangkat Umroh. Mohon do’anya, salam untuk seluruh keluarga abang..”
“Iya dik, abang do’ain semoga selamat pergi-pulang. Abang jadi ikut bahagia mendengarnya”. Jawab saya pula. Tak lama kemudian ponsel dari sana mati, saya pun meneruskan kegiatan. Sejam kemudian, saya kembali menghubungi ponsel sang adik, tetapi tidak aktif, saya tersadar, ternyata adikku benar-benar telah terbang. Semoga dia selamat pergi-pulang, semoga pula ketika pulang kelak menjadi haji mabrur.
Ada fenomena mengharukan memang, kini banyak diantara kita untuk berlomba-lomba mencari pahala. Liat saja, daftar tunggu untuk melaksanakan haji yang sudah demikian panjang, hingga ada yang lebih dari sepuluh tahun. Untuk mereka yang tidak sabar, maka Umroh dapat menjadi solusi dari kejenuhan menunggu tiba saatnya berhaji.
Lihat pula, bagaimana kini, sudah menjadi trend menggembirakan dikalangan anak muda, untuk mengkhatamkan al-Qur’an satu Juz satu hari, istilahnya ODOJ, one day one Juz. Istilahnya keren, tujuannya mulia, pencapaiannya pahala. Kita berbaik sangka saja pada mereka, setelah jadi tradisi, maka satu bulan mereka dapat khatam al-Qur’an. Pelan-pelan arti dan maksud ayat-ayat itu akan menyusup ke pikiran lalu turun ke hati, outputnya, perilaku menjadi lebih baik.
Sudah terlalu banyak orang pintar di negeri ini. Tetapi,  terlalu sedikit yang berperilaku baik, yang sesuai dengan tuntunan agamanya. Apapaun agamanya itu.
Kembali pada adik yang sedang berangkat umroh tadi, saya teringat peristiwa yang terjadi, ketika umroh dulu. Bagaimana  di Mesjidil Haram, ada perilaku mengejar pahala yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang berkulit hitam. Mereka mengejar pahala tidak mempergunakan uang, tetapi dengan tenaga dan rasa sympati pada sesama. Di Mesjidil Haram yang panas itu, disediakan bergalon air zam-zam dan gelas-gelas plastik oleh Tanmir Mesjid, mereka dapat meminum sesukanya dan sekuatnya. Tetapi yang menjadi masalah, begitu banyaknya jamaah yang berniat minum pada waktu yang bersamaan. Sehingga terkadang terjadi antrian. Nah…. Pada saat antrian ini, ada saudara-saudara kita yang berkulit hitam yang dengan setia mempermudah pemberian minuman di gelas ini. Mereka tidak menginginkan imbalan uang, tetapi imbalan pahala. Ada pula saudara-saudara kita yang berkulit hitam ini, membagikan gelas-gelas plastic yang berisi air zam-zam itu, pada mereka-mereka yang sedang duduk istirahat diantara kekhusukan ibadah sholatnya. Sungguh, sebuah cara cerdas untuk mengejar pahala. Hanya dibutuhkan tenaga dan rasa sympati pada sesamanya.
Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia? Begitu banyak ladang amal yang tersedia dengan tidak memerlukan uang untuk melakukannya. Begitu banyak tempat wudhu yang kotor di Mesjid-mesjid kita, mengapa semua ini tidak menjadi perhatian kita untuk membersihkannya. Dengan menyisihkan sedikit rasa gengsi dan mengucurkan sedikit keringat kita sudah mengejar ladang amal.
Begitu banyak halaman Mesjid yang kotor, sehingga mengurangi rasa indah pada Mesjid itu. Dengan membersihkan halamannya dari sampah dan menyapunya, kita telah menyediakan ladang amal untuk kita. Begitu  banyaknya anak-anak tidak mengaji di negeri ini, dikarenakan tiadanya biaya untuk membeyar uang mengaji pada ustadz yang mengajari mereka. Dengan  sedikit recehan kita dapat membayarkan uang belajar mengaji mereka.
Banyak hal dapat dilakukan untuk peduli pada sesama, banyak hal dapat dilakukan untuk mengejar pahala dan itu tidak memerlukan pengeluaran uang yang banyak. Masalahnya, kita peduli atau tidak, kita mau atau tidak?

Selamat pagi Indonesia
Menuju Indonesia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar