Jumat, 10 Juli 2015

Arfa yang Kutemui di Mangga Besar



Kuhirup udara segar sekuatku, memasukkan udara dengan komposisi O2 yang cukup  sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paru ini. Ada rasa lega yang terasa, ada rasa segar yang menjalari dalam setiap inchi paru-paru, segarnya udara menjalari seluruh bagian permukaan kulit tubuh, perlahan-lahan, baju yang basah keringat di tubuh, mengering.  
Suara hiruk pikuk itu, biarlah sementara begitu, tokh itu, hanya bagian telingaku saja yang menderita, sementara bagian tubuh lain sudah kembali segar. Setelah perjalanan nanti kuteruskan, setelah kutinggalkan stasiun Mangga Besar ini, setelah aku tiba di kantorku, tokh suara itu akan lenyap dengan sendiri.
Jakarta memang kejam, paling tidak untuk mereka yang memiliki kondisi ekonomi seperti aku. Perjuangan untuk hidup itu, tidak hanya dimulai ketika sudah tiba di tempat kerja saja, tetapi di mulai ketika keluar dari rumah dipagi buta. Bagaimana aku harus berebutan naik angkot untuk tiba di stasiun Depok, lalu berebutan naik KRL ekonomi Jurusan Kota, untuk akhirnya turun di Stasiun Mangga Besar.
Perjalanan dalam KRL ekonomi, perjalanan yang memiliki cerita heroic & nano-nano, yang harus kutempuh setiap hari. Bagaimana tidak, dimulai dari berjejalnya penumpang, penuh sesak, hanya untuk berdiri saja sangat sulit, jika saja kaki ini tak melekat pada tubuh, bisa saja kaki tertukar dengan kaki yang lain. Pedagang asongan hilir mudik tanpa henti, yang nyaris menabrak penumpang KRL, suara bising teriakan pedagangan asongan, pengamen yang menyanyikan lagunya dengan suara sekuat-kuatnya, towelan yang kadang membuat kaget dari pengemis yang memohon uang recehan, hingga para lelaki iseng yang memanfaatkan nafsu nyelenehnya pada wanita-wanita yang masih harum dipagi hari itu. 
“Bang…” tiba-tiba saja ada suara yang memanggilku, dari tukang parkir, aku tak menghiraukannya, mungkin saja dia salah panggil, aku kan tidak memarkirkan motor atau mobil di sana. Aku tetap saja berjalan, untuk segera tiba di kantor. Berharap agar tiba dikantor tepat waktu, lewat jam delapan mesin absen akan berwarna merah, tiga kali absen merah berturut-tururt, maka pimpinanku akan bertanya, pertanyaan yang biasanya dikeluarkan dengan suara lembut, tapi isinya nyelekit di hati.
“Bang…” kembali suara itu memanggilku, kini tukang parkir itu mengejarku. Akupun menghentikan langkah, lalu menoleh padanya, sambil ngo-ngosan, tukang parker, lalu, membuka topi yang menutupi wajahnya…. MasyaAllah..
“Arfa..?” teriakku sepontan.
“Iya Bang…” kami bersalaman erat, lama sekali.
“Kamu jadi tukang Parkir Fa?” tanyaku heran, tak menyangka kalau Arfa jadi tukang parkir.
“Hehehehe…. Abang sehat?” tanya Arif lagi, agaknya dia sengaja mengalihkan pertanyaanku tentang  profesinya sebagai tukang parkir. Apa dia malu, atau ada alasan lain, aku tak tahu.
“Kemana saja kamu Fa? Orang tua mu selalu saja bertanya, kalau Abang pulang”
“Ada aja Bang. Kapan abang terakhir pulang?” tanya Arfa lagi.
“Lebaran kemarin, Abang pulang, waktu Abang ke rumah orang tuamu untuk silaturahmi, mereka menanyakanmu” jelasku pada Arfa.
“Iya Bang, saya merasa malu untuk pulang. Kalau abang pulang nanti, katakan saja, saya sehat. Begitu kondisi memungkinkan saya akan pulang”. Ada getar haru dikalimat Arfa, membayang kesedihan diwajah itu, rasa sesal yang sulit untuk dilukiskan.
“Sebenarnya apa yang terjadi Fa?” tanyaku, coba mengorek apa yang terjadi padanya, sudah 12 tahun ini, Arfa seakan ditelan bumi. Tak ada kabar berita, tak juga pulang menjenguk orang tuanya.
“Abang ada waktu untuk mendengarnya? Cerita ini agak panjang, saya takut Abang gak jadi kerja kalau mendengarnya”.
“Tentu ada Fa, ok, Abang telpon ke kantor dulu, Abang ijin kerja hari ini” lalu akupun menelpon kantor untuk ijin kerja hari ini. Sementara Arfa berteriak memanggil seseorang untuk  menggantikannya, mengatur parkir liar di sekitar Stasiun Mangga Besar itu.

*****
Arfa, adalah tetanggaku di kampung dulu, orang tuanya, termasuk keluarga terpandang, mereka adalah salah satu tokoh masayarakat. Tak ada warga yang tak kenal dengan Pak Ibrahim, beliau yang santun, murah tangan dan dermawan. Tak ada yang bermohon padanya yang tak ditolong oleh beliau. Sebuah oasis pada gurun gersang, dijaman yang serba tak peduli pada sesama. Salah satu cita-cita beliau, agar anaknya kelak dapat menjadi tokoh agama di kampungku, untuk itulah beliau mengirim anaknya untuk sekolah di Pesantren Modern Gontor, dimana ketika itu, aku duduk di kelas 5 Pesantren Gontor.
“Begitulah Bang, setelah saya di usir dari Gontor saya ke Yogya, masuk SMA di sana” Arfa memulai kisahnya.
“Terus…” ujarku coba untuk mendengar dan ingin tahu apa yang terjadi pada Arfa.
“Setahun di sana, saya sempat datang ke Gontor,mencari Abang, tapi Abang sudah keluar, sudah selesai”. Jelas Arfa lagi
Pergaulan di Jogya, akhirnya, membawa saya ke lembah yang nista, saya salah memilih teman Bang, akhirnya, sekolah gak selesai, saya hanyut dalam pergaulan yang jauh dari agama Bang, dan semuanya berakhir di hotel Prodeo.
Selesai menyantren di hotel Prodeo, saya berusaha untuk hidup baik, lalu menikah dengan Hesty, tapi, kehidupan di luar, tak seramah yang saya bayangkan Bang, akhirnya saya kembali menghuni hotel Prodeo lagi. Saya yang kembali lagi, bukan saya yang dulu Bang, sekarang, saya bukan penghuni pemula, tapi sudah punya kedudukan Bang, sudah punya anak buah. Para koruptor yang masuk, harus menyetor uang keamanan pada saya. Anak buah saya melayani mereka semua, mulai dari cuci baju, beli rokok sampai memijit mereka jika mereka kecapean. Semuanya gak gratis Bang, ada sejumlah nominal uang yang mereka harus bayar.
Hesty tercukupi Bang, uang belanja rumah tangga aman, bahkan rumah di Klender saya beli saat saya di hotel Prodeo itu Bang.
“Lalu… kenapa kamu sekarang jadi tukang parkir Fa?” tanyaku heran.
“Itulah masalahnya Bang. Setiap saya keluar,  saya selalu bingung, bagaimana membiayai Hesty dan anak-anak, semua seakan buntu dan tertutup untuk saya”
“Gak coba kerja?” tanyaku Polos, aku tak habis pikir, ada orang bisa beli rumah sementara dia sendiri dalam penjara.
“Akh  Abang becanda, siapa pula yang mau menerima kerja, mantan napi seperti saya?”
“Jadi kau akan jadi tukang parkir terus?”  tanyaku pada Arfa lagi.
“Iya gak lah, Bang”
“Terus, apa rencana kamu selanjutnya?” tanyaku lagi.
“Itulah Bang, kemarin ada temen yang mengenalkan saya pada cukong. Sang cukong itu ngasi orderan sama saya”
“Orderan apa Fa? Proyek ya? Kalo iya, ajak-ajak Abanglah”
“Bukan Bang.” Kata Arfa lagi.
“Lalu apa?”
“Bunuh  orang Bang. Sang cukong, minta saya untuk membunuh saingannya, saingan itu tinggal  di Depok?”
“Kamu mau?” tanyaku lagi, kaget bercampur ingin tahu.
“Maulah Bang, bukan soal uang upah membunuhnya Bang”
“Lalu soal apa?” tanyaku heran, lalu apa tujuan membunuh, kalau bukan soal uang.
“Kalau saya jadi membunuh, lalu saya tertangkap, dan akhirnya di tahan. Itu tujuan akhirnya”
“Maksudnya?”
“Di Penjara saya akan jadi Boss lagi Bang. Hesty dan anak-anak akan terjamin hidupnya”
“MasyaAllah… kau akan kasih makan, anak isterimu selamanya dengan uang haram Fa?”
“Habis gimana lagi Bang, hanya itu, satu-satunya jalan yang saya tahu”
“Abang rasa, kamu salah Fa. Allah memberi banyak jalan, hanya kamu saja yang gak mau coba”
“Contohnya apa Bang?”
“Kamu bisa jadi pedagang kaki lima, atau buka warung Padang, atau jadi keamanan” 
“Hahahaha. Abang bisa aja, ribet Bang” Arfa tertawa, persisnya mentertawakan ide yang kutawarkan padanya.
“iya.. itukan hanya contoh, mungkin masih banyak yang lain, selain contoh yang Abang kasi” jawabku lagi, aku gak bisa bayangkan, membunuh orang supaya bisa masuk penjara lagi. Lalu jadi Boss di penjara, diantara para preman.
“iya Bang..”
“Kapan orderan cukong itu akan kamu lakukan Fan?”
“Besok Bang, saya hanya mau minta tolong aja sama, jangan beritahukan kerja saya pada Mak dan Bapak Bang, kalau mereka tanya sama Abang, katakan saja, saya sehat-sehat saja, kalau sudah ada waktu kelak, saya akan pulang, mengenalkan istri dan anak-anak pada mereka”
*****
Sudah lima hari ini Arfa tak terlihat di tempat parkiran itu, dua hari lalu, aku sempat baca Pos Kota, dua orang perampok yang menyatroni rumah saingan sang cukong di Depok itu, mati terkena tembusan timah panas Polisi, aku sempat ke RSUP Cipto, tapi dua korban itu, bukan Arfa. Lalu kemana menghilangnya anak Bengal itu? Apakah cita-cita untuk kembali masuk ke hotel Prodeo sudah terpenuhi, hingga Arfa kembali menghilang. Kalaupun cita-cita itu terpenuhi, paling tidak dia kan bisa memberitahu, gak bisa telepon,  paling tidak, kan bisa sms, tokh nomer HPku dia sudah tahu.
Perjalanan hidup Arfa yang penuh warna, kadang membuat aku heran, bagaimana anak seorang dermawan seperti Pak Ibrahim bisa demikian kondisinya, apakah benar, bahwa soal nasib, tak ada hubungan antara seorang anak dengan orang tuanya. Apa pula dosa pak Ibrahim hingga harus kehilangan anak, harus memiliki anak seperti Arfa? Berpikir demikian, aku bisa mengerti, mengapa pula Seorang Nabi Nuh harus memiliki anak yang durhaka? Seorang Fir’aun bisa memiliki istri yang solehah. Kiranya, anak, istri, orang tua sekalipun, semuanya hanya cobaan bagi kita, masing-masing memiliki garis nasib yang tak mesti sama, bahkan mungkin sama sekali berbeda.
Yang tak banyak perubahan, hanya aku dan KRL yang kutumpangi ini, setiap pagi, berangkat dari Stasiun Bogor menuju Setasiun Kota, setiap pagi pula aku ikut naik dari Stasiun Depok hingga Stasiun Mangga Besar, setiap pagi juga terjadi suasana krodit dalam KRL ini, suasana hingar bingar, hiruk pikuk dan nano-nano.
Stasiun Manggarai sudah lama terlewati, sementara Stasiun Cikini baru saja aku tinggalkan, itu artinya, stasiun berikutnya stasun Gondangdia. Tiba di Stasiun Gondangdia ada pengumuman dari KS kalau perjalanan pagi itu hanya sampai Stasiun Gondangdia, karena  ada kerusakan tekhnis yang belum bisa dibetulkan. Hingga tak dapat ditentukan jam berapa KRL akan melanjutkan perjalanannya.
Beragam reaksi timbul, ada yang menggerutu, ada yang mencaci maki, ada yang menggeleng-gelengkan kepala, aku tak pedulikan semuanya, yang ada dalampikiranku, bagaimana secepatnya untuk turun ke bawah, lalu berganti angkot untuk menuju Mangga besar.  Aku tak ingin, terlambat masuk kantor. Aku tak ingin, absenku berwarna merah.
Satu angkot lewat,penuh sesak, angkot kedua lewat, kondisinya sama dengan angkot pertama, Metromini lewat, kondisinya sudah miring ke kiri karena kepenuhan, sedangkan Trans Jakarta, bukan jalurnya lewat Gondangdia, benar-benar pagi yang melelelahkan.
Tiba-tiba… sebuah tangan menyenuh bahuku, reflex aku menoleh, MasyaAllah Arfa, kami bersalaman. Terlihat wajahnya kini agak bersih, tak sekeruh ketika aku bertemu di Mangga Besar tempo hari.
“Abang sekarang, harus ikut saya Bang” kata Arfa, sambil membibing tanganku, tepatnya menyeret tanganku.
“Ada apa sebenarnya Fa?” tanyaku dengan suara agak keras, ada cemas juga dihati, ingat kalau Arfa adalah Preman besar, yang tak segan membunuh untuk mencapai keiginannya.
“Ikut aja Bang, nanti Abang akan tahu”
Tiba diujung stasiun, kami masuk warung Padang, ukurannya kecil saja, hanya ada enam kursi di warung itu. Arfa lalu langsung membuat kopi. Menghidangkan padaku.
“Ada apa sebenarnya Fa?” tanyaku, masih penasaran. Aku tak ingin jadi korban criminal orang sekampungku. Rasanya memalukan banget, jadi korban anak tetangga, walau kejadiannya di Jakarta.
“Saya hanya ingin menunjukkan pada Abang, kalau saya sudah taubat Bang, warung ini saya yang punya, saya dan Hesty yang masak, kami berdua bergantian menunggunya” ada rasa bangga diwajah Arfa, ada rasa sendu ketika dia menyebut taubat.
“Alhamadulillah….” Hanya itu yang dapat keluar dari mulut ini.
“Malam eksekusi itu, saya teringat kata-kata abang, sampai kapan saya akan memberi nafkah anak isteri dengan uang haram, sampai kapan saya harus tidak ketemu Mak dan Bapak karena malu, hidup bergelimang dosa? Saya putuskan untuk mengurungkan niat berangkat, kebetulan ada teman yang akan menggantikannya. Akhir kejadiannya, Abang tentu tahu, semua ada di Koran, mereka tewas diujung senjata Polisi, saya berhutang nyawa sama abang” kata Arfa lagi, kini nada suara itu penuh emosi, penuh haru. Terlihat wajah Arfa lega. Aku seakan melihat Arfa yang dulu lagi, ketika dia baru datang ke Gontor untuk menjadi santri di sana, sementara aku, ketika itu, sudah kelas 5.
“Syukurlah Fa” kataku, akupun hanyut, ikut terharu mendengar cerita Arfa.
“Saya bertekad untuk hidup lurus  Bang, bertekad secepatnya untuk pulang menemui Mak dan Bapak dengan uang keuntungan warung ini, dengan uang hasil cucuran keringat bang, dengan uang halal Bang” kata Arfa dengan antusias. Aku sekali lagi, terharu dengan semua yang dia katakana.
Arfa terus  saja bercerita tentang cita-citanya setelah tobat, tentang apa yang akan dia lakukan bersama Hesty. Capaian-capaian apa yang akan mereka targetkan. Tentang Rencana kepulangan Arfa untuk mengunjungi orang tuanya.
Sementara itu, aku sudah tak peduli dengan apa yang diucapkan Arfa, tak peduli juga jika hari ini aku harus terlambat masuk kantor, yang terbayang dalam pikiranku, bagaimana bahagia Pak Ibrahim dan isterinya, ketika anak yang hilang selama ini kembali pulang. Kembali mengunjungi orang tua yang telah sangat merindukan anak yang telah lama meninggalkan rumah.
Betapa bahagianya, pak Ibrahim dan Istrinya. Ketika Arfa, Hesty menantunya dan cucunya berhamburan memeluk mereka. Untuk menjadikan bahagia, seorang anak, tak harus menjadi tokoh agama memang, kepulangan seorang anak saja, sudah merupakan kebahagiaan yang tak terdefinisikan bagi orang tua. Termasuk untuk pak Ibrahim dan Ibu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar