Sabtu, 25 Juli 2015

Analogi Surat Dari Mertua



Sudah semua kita tahu, bahwa Jodoh, maut dan rezeki hanya Allah yang tahu. Kita tidak tahu kapan waktunya ajal itu akan datang, dimana tempatnya kita berada, ketika ajal itu datang serta bagaimana kondisi kita ketika ajal itu menjemput.
Begitu juga dengan rezeki, kita tidak tahu, umur berapa ketika rezeki itu datang dengan jumlah besar, kapan waktu datangnya, serta berapa nominal besarnya rezeki yang akan datang? Bisa juga, bahkan rezeki itu, datang dengan jumlah nominal yang minimal saja sepanjang hidup kita, sehingga mereka menamakan kita sebagai kaum dhu’afa dan masakin (miskin).
Demikian halnya dengan jodoh. Dengan siapa kita akan berjodoh, umur berapa kita akan menemukan jodoh dan bagaimana dengan jodoh kita? Apakah akan panjang atau harus berakhir dengan perceraian. Tak satupun manusia yang mengetahuinya. Meski kita semua berharap agar joodoh kita panjang, hingga hanya maut yang mampu memisahkan kita.
Begitulah yang terjadi pada saya, sesuatu yang diluar dugaan dan perkiraan. Saya yang bermukim di Jawa Barat,  lebih dari tiga dasa warsa, tidak asing  dengan bahasa sunda. Bahasa inilah yang saya pakai sehari-hari. Bahasa inilah yang menjadi bahasa ibu, bagi putra semata wayang saya. Karena ibunya, -istri saya-, adalah wanita parahiyangan. Namun demikian, jika sudah berbicara bahasa sunda, ada bahasa yang tidak saya kuasai, yakni bahasa halusnya, persisnya bahasa halus yang tidak  digunakan dalam pergaulan  sehari-hari.
Suatu ketika, saya mendapat surat dari Mertua saya, bahasa yang digunakannya, bahasa sunda halus yang tidak lazim digunakan sehari-hari. Sehingga, arti dan maksud surat itu, tidak sepenuhnya saya kuasai. Namun, karena surat ini, datang dari orang yang sangat saya hargai dan hormati. Maka, surat itu saya baca setiap hari.  Saya berusaha keras untuk hapal semua apa yang beliau tuliskan, saya berusaha keras melafaz-kan bacaannya dengan lafaz yang benar dengan kaidah bahasa Sunda yang benar.  Hanya satu sisi, kelemahan yang saya miliki, saya tidak berusaha mengerti arti surat yang beliau kirimkan itu, dan tidak sepenuhnya paham akan maksudnya.
Waktupun berlalu. Pada ketika yang lain, saya berkunjung ke rumah Mertua. Mertua saya bertanya, apakah saya tidak tertarik dengan tawaran uang yang beliau tawarkan? Saya menjawab, tentu saja saya tertarik. Jika saya tertarik dengan uang tawaran dari mertua saya, mengapa saya tidak melakukan apa yang telah beliau perintahkan kepada saya? Demikianlah Mertua bertanya pada saya.
Saya bingung dan terheran-heran, apa maksudnya, kapan beliau menyuruh saya untuk melakukan sesuatu? Apa sesuatu itu?.  Untuk membuat semuanya menjadi jelas, maka, seluruh apa yang membuat saya bingung itu, saya tanyakan pada Mertua saya.
Beliau, balik bertanya, apakah saya pernah menerima surat dari beliau? Saya jawab, tentu saya pernah menerimanya, bahkan saya hafal dengan seluruh isi surat beliau, sayapun dapat membacanya dengan benar, sesuai dengan kaidah bahasa sunda yang benar. Hanya saja saya tidak mengerti seluruh artinya. Maka, untuk meyakinkan beliau, sayapun  mengulangi seluruh kalimat yang ada dalam surat beliau itu, dengan ejaan yang benar sesuai dengan kaidah bahasa Sunda yang benar.
Mertua saya tertawa kecut, beliau kecewa pada saya, dengan secara halus beliau bertanya pada saya, untuk apa semua hafalan itu? untuk apa semua ejaan itu? Jika saya tidak paham apa maksud isi surat yang beliau kirimkan itu.
Maksud surat itu, masih menurut Mertua saya, adalah, saya dimintanya untuk mencari pembeli tanah yang beliau akan jual. Jika tanah itu terjual. Maka, saya akan memperoleh bagian 10% dari nominal harga tanah yang terjual. Itulah maksudnya, mengapa beliau bertanya, apakah saya tidak tertarik dengan tawaran uang yang beliau tawarkan diawal pembicaraan dengan beliau. Mendengar penjelasan dari beliau, saya hanya terdiam, menyesali segala kebodohan saya, kesempatan emas yang beliau tawarkan itu, hilang begitu saja, disebabkan karena kebodohan saya. Saya tidak mengerti akan apa pesan beliau dari surat yang dikirimkannya.
Analog dengan cerita saya diatas. Betapa banyak diantara kita, termasuk manusia yang sungguh merugi. Betapa banyak diantara kita, setiap hari, secara rutin  membaca surat cinta yang dikirim oleh Allah pada kita sekalian. Bahkan banyak diantara kita hafal akan bacaannya, bukan hanya satu juz, tetapi banyak yang hapal tiga puluh Juz. Hapal di luar kepala. Bacaannya yang kita baca, juga sesuai dengan tajwidnya. Sesuai dengan dialog Qureis. Dialog bacaan yang benar.
Tetapi sayang, berapa banyak diantara kita yang tidak mengerti akan artinya, tidak mengerti akan maksudnya. Lalu diantara mereka yang mengerti arti dan maksudnya, berapa banyak yang telah melakukan apa yang diperintahkan dalam surat cinta Allah itu? Berapa pula yang telah menghindari serta menjauhi  dari apa yang dilarangNya?
Adalah aneh, jika kita membaca surat cinta dari Kekasih kita, dengan rutin dan hafal akan bacaan surat cinta, tetapi tidak mengerti akan maksud isi surat cinta itu, lalu minta upah membaca.
Bukankah, logisnya, kita meminta upah. Jika kita telah membaca surat cinta itu, lalu kita berbuat dan melakukan sesuatu,  sesuai dengan  isi pesan yang tertera dalam surat itu. Apakah melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sesuai yang diperintahkan dalam surat Cinta Allah.
Jadi, upah hanya layak diterima oleh mereka yang telah berbuat sesuai dengan isi pesan dalam surat cinta yang diperolehnya. Tanpa itu, agaknya naïf untuk meminta upah pada sang Pengirim surat, apalagi memindahkan upahnya pada orang lain.
Kini timbul pertanyaan. Apakah membaca dan menghafalkannya tidak perlu?. Jawabnya tentu saja perlu. Tetapi, tindakan itu, hanya langkah awal. Langkah yang paling krusial adalah ketika kita melaksanakan apa yang kita baca dan kita hapalkan itu. Tindakan nyata yang kita perbuat setelah kita membaca dan menghafalkan, merupakan bukti nyata, kalau kita benar mencintai sang Pengirim surat.  Tanpa itu, kesungguhan cinta kita patut diragukan. Bahkan bisa saja disebut sebagai cinta palsu, tidak sungguhan atau PHP serta kebohongan semata.
Kinilah, saatnya, kita berpikir ulang. Apakah kita sudah membuktikan “cinta” kita, dengan melakukan apa yang dipesankan dalam surat yang dikirimkan oleh yang kita cintai? Atau kita hanya seorang pecundang yang memberikan PHP semata pada yang kita cintai, sebuah bentuk cinta palsu serta kebohongan semata…………. Wallahu A’laam.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar