Jumat, 10 Juli 2015

Alkisah tentang Natsir kecil

M Natsir dan H. Agus. Salim (sumber: Google)
Kisah ini terjadi sekitar awal tahun 1983-an, tanggal dan bulannya saya sudah lupa, tetapi tahun dan lokasi kejadiannya saya masih ingat.
Ketika itu, saya dan seorang teman, kini beliau sudah menjadi ulama besar di Tanjung Karang, Lampung, mengunjungi pengajian di sebuah Mesjid (sengaja nama Mesjid ini tidak saya sebutkan) di daerah Tanah Abang. Sebagaimana kita ketahui, rezim orba saat itu sedang gencar-gencar melakukan tindakan refresif pada umat Islam. Sebagai penceramah malam itu adalah ustadz Natsir, agar tidak keliru dengan M Natsir mantan Perdana Mentri RI, ketua Umum Masyumi, maka kami menyebutnya beliau dengan nama Natsir kecil.

Singkat cerita, malam itu ust Natsir kecil memberikan materi ceramah dengan materi “menghindari diri dari sifat sombong”.  Setelah bla…..bla….bla… mukadimah dengan segala kepiawaian beliau memberikan ceramah, maka masuklah pada inti ceramah tentang sombong tadi. Masih segar dalam ingatan saya beliau mengatakan sebagai berikut:
Lalu apa yang menjadikan kita sombong?                                                                                              Bukankah kita ini merupakan kumpulan dari tai. (kotoran)
Mata kita yang indah ini, ketika bangun tidur ada belekan, itu adalah tai mata.
Hidung yang melambangkan kegantengan kita, setelah beberapa hari ada upil, itu adalah tai hidung.
Badan kita yang kekar ini, ketika kita mandi ada daki yang kita bersihkan di sana, itu adalah tai badan.
Telinga yang kita gunakan, setelah beberapa hari ada yang harus kita bersihkan, itu adalah tai telinga.
Jadi, kesimpulanya, kita ini adalah kumpulan dari tai, lalu mengapa kita harus sombong pada manusia yang lain, merasa hebat, merasa punya kelebihan, bukankah kita sama-sama kumpulan dari tai. Jadi……
Kalau kita Presiden maka itu adalah Presiden tai
Kalau kita Mentri maka itu adalah Mentri tai
Kalau kita Panglima maka itu adalah Panglima tai
Kalau kita anggota DPR maka itu adalah anggota DPR tai
Kalau kita Gubernur maka itu adalah Gubernur tai
Kalau kita Bupati maka itu adalah Bupati tai
Kalau kita Kepala Dinas maka itu adalah Kepala Dinas tai
Kalau kita Camat maka itu adalah Camat tai
Demikianlah, beliau terus berceramah dengan berapi-api, hingga akhirnya ceramah itupun selesai. Lalu kejadian selanjutnya, kami harus menemani beliau hingga pagi menjelang, karena beliau tidak berani keluar dari mesjid, karena diluar mesjid para Intel dan Tekab sudah mengepung Mesjid.
Lalu pertanyaannya, apakah cerita ini, masih relevan dengan kontek kekinian, apalagi jika dihubungkan dengan akan diadakannya Pilkada, Pemilu Legialatif dan Pemilihan Presiden?  Hanya untuk menjadi Bupati, Gubernur. Anggota legislative dan Presiden, kita harus melakukan berbagai intrik pada rakyat, mulai dari pembohongan, tindakan pemaksaan, penggunaan fasilitas Negara yang bukan pada tempatnya, money politic dan prilaku-prilaku yang tidak terpuji lain.
Bukankah kita, ketika perpilih kelak, hanyalah menjadi  ******  tai, yang membedakan kita satu dengan lain, bukan pada jabatan yang kita sandang, tetapi dari apa yang telah kita perbuat, itupun akan memiliki nilai pahala jika dilakukan dengan ikhlas, bukan karena mengharapkan pamrih lain…….Wallahu’alaam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar