Jumat, 10 Juli 2015

Aku Yang Diperebutkan Dua Wanita



 Hari belum siang benar, baru sekitar pukul sepuluh pagi kurang, masih tersisa sejuk pagi tadi, sementara di sebelah belakang Hotel Yuriko ini, Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, kokoh berdiri, memperhatikan sekaligus menjadi saksi pada ulah manusia, yang terjadi dibawah pengawasannya, terutama pada mereka yang berada di Bukittinggi. Kota sejuk di Sumatera Barat yang pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia tercinta.
Kedua puncak Gunung yang mengapit Bukittinggi itu, masih terselimut awan. Belum sepenuhnya membuka diri. Belum sepenuhnya mau memperlihatkan keindahan yang dimilikinya.  Padahal, jika saja mereka sedikit rajin, untuk membuka selimutnya. Eksotis nian, pemandangan yang dihadirkan oleh mereka berdua..
Mama, sengaja memilih untuk bermalam di Hotel Yuriko, karena, inilah jarak terdekat pada sesuatu dimasa lalu Mama. Hanya dengan berjalan kaki, Mama menunjukkan tempat sekolahnya dulu, SMPN 8 Bukittinggi. Juga, hanya dengan berjalan kaki, kami segera sampai di Jam Gadang. Icon Kota Bukittinggi. Di bawah Jam Gadang itu pula, dulu , Papa pernah menyatakan kesungguhannya untuk menjaga Mama seumur hidupnya. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Melewati onak duri kehidupan yang kadang tidak ramah, kadang bersikap tidak bersahabat pada manusia. Janji itu dibuktikan Papa, sayang penjagaan Papa pada Mama tak lama, hanya hingga aku berumur delapan tahun. Papa lebih dulu meninggalkan Mama menghadap sang Maha Kuasa. Sebelah kiri Jam Gadang, ada jalan agak menurun, diujung jalan menurun itu, lalu berbelok ke kiri,
ada sebuah kampung yang bernama Kampung Cina. Di Kampung Cina itu, kakek memiliki usaha Penginapan yang dikelola dengan rasa kekeluargaan. sesama tamu, dapat saling ngobrol dengan akrab, pagi hari dapat sarapan pagi dan kopi dapat dipesan tiap saat dengan gratis. Artinya, jika tamu terlibat obrolan santai, mereka dapat memesan kopi sebanyak yang mereka mau tanpa ada tambahan biaya.  Sayang, penginapan kakek, kini telah berganti pemilik, semua dijual ketika kakek meninggal, karena, semua anak-anaknya tak ada yang tinggal di Bukittinggi dan tak ada yang berminat untuk meneruskan usahanya. Sungguh sayang memang.
Kemarin, kami ke Danau Maninjau, sesaat sebelum jalan menurun, mengikuti kelok 44 yang legandaris itu, kami, aku, Eli istriku dan Mama, berhenti sejenak. Tempat kami berhenti itu, namanya Ambun Pagi. Dari Ambun Pagi, terhampar dihadapan kami Danau Maninjau yang sangat indah, disana terhampar pemandangan kelok 44 dan Rumah Bujang. Sungguh sulit untuk digambarkan keindahannya. Agaknya, ada keterbatasan redaksi  untuk menggambarkan keindahan itu, dalam sebuah kalimat. Pantas saja, dari Ranah Minang yang eksotis ini, lahir para pujangga hebat, seperti Motinggo Busye, yang rumah orang tuanya, berjarak hanya satu  setengah kilometer dari tempat kami berdiri itu, ada Buya Hamka, yang asli dari tepian Danau Maninjau. Lokasi yang sebentar lagi kami kunjungi. Kami juga mengunjungi Puncak Lawang, sebuah negri diawan, dari Puncak Lawang itu, para penggila Paralayang dapat berlama-lama diatas hingga kelak paralayang itu tiba di tepian Danau Maninjau.
Hari ini, kami sengaja beristirahat di hotel Yuriko saja. Setelah kemarin tenaga terkuras di Danau Maninjau dan Puncak Lawang. Rencana, nanti malam, kami akan ke Jam Gadang, lalu dengan Bendi, memutari Gedung-gedung tua bersejarah yang berada di sekitar jam Gadang. Gedung yang digunakan sebagai Pusat Pemerintahan, dan sebagai saksi,  ketika, Bukittinggi dijadikan Ibu Kota Negara Indonesia, ketika Soekarno dan Hatta ditahan oleh Belanda di Yogyakarta. Pucuk Pimpinan Republik, ketika itu, digantikan oleh Syafrudin Prawiranegara.
Kami masih duduk di halaman hotel, aku, Mama dan Eli. Kulihat Eli, agak cemberut, terlihat samar memang, tetapi, aku sebagai suaminya, tahu kalau ada yang mengganjal pada Eli, sesuatu yang membuatnya tidak senang. Dua tahun membina rumah tangga bersama dengan Eli, membuat aku tahu persis, kapan Eli senang, kapan dia lagi susah. Orang lain boleh dia samarkan oleh tampilannya, hingga tidak tahu apa yang dirasakan Eli. Tetapi, untukku tidak, tak ada yang bisa Eli sembunyikan dariku.
******
Malam itu, ketika kami telah di dalam kamar, sepulang kami dari Jam Gadang dan memutari pusat kota, mengelilingi Gedung tua bersejarah dengan mencarter Bendi. Aku bertanya pada Eli.
“Ada apa sebenarnya?” tanyaku pada Eli, sambil sebelah tanganku memeluknya.
“Gak apa-apa…” jawab Eli, antara isi jawaban dan nada suaranya, jelas terasa beda.
“Tapi kok cemberut? Ayolah, coba ceritakan pada abang” bujukku pada Eli, coba untuk  merayu Eli.
“Soal Mama..” jawab Eli singkat. Sungguh, aku terkejut, Mama yang selalu baik, kok mengecewakan Eli. Bagaimana hal itu, bisa terjadi.
“Kenapa Mama? Apa yang salah pada Mama?” tanyaku, tak menyangka masalahnya pada Mama. Aku yakin ini hanya soal salah pengertian saja.
“Mama terlalu dominan bang. Mama terlalu, memanjakan abang, melupakan Eli. Eli kan istri abang, memang kenapa, apa Eli gak boleh melayani abang?”
“Contohnya gimana, sayang?” tanyaku  melunak, aku ingin menyelesaikan masalah ini  sebijak mungkin. Tak mau menyalahkan Eli, apalagi Mama..
“Apa abang gak perhatiin..?” tanya Eli, masih terasa nada sewotnya.
“iya.. sorry, abang kurang perhatiin” aku agak merapatkan tubuhku pada Eli. Memeluknya.
“Sudah dua hari ini, kalau Eli, bawa nampan kopi untuk abang, susu untuk Mama, dan teh manis untuk Eli. Mama selalu mengambil nampan itu dari Eli. Lalu Mama yang kasi gula ke dalam kopi dan menghidangkan untuk abang”
“Apa itu salah?” Jawabku untuk meredamkan kekecewaan Eli pada Mama.
“Gak salah memang, tapi kenapa Mama tidak membiarkan saja, Eli yang kasi gula, lalu menghidangkannya ke abang, abang kan suami Eli…”  
“Hanya itu..?” tanyaku, aku mulai paham masalahnya, coba untuk memahami dari sisi Eli.
“Sementara  itu dulu. Ini soal prinsip bang” Tegas Eli.
“Eli cemburu pada Mama?” tanyaku, merajuk hati Eli, coba membuat suasana yang sedikit kontaradiktif.
“Gaklah… tapi ini soal prinsip bang”
“Eli…Eli.. abang kok memandangnya dari sisi lain. Dari sisi latar belakang, sisi yang Eli kurang tahu dan kurang pahami”
“Maksudnya?” tanya Eli, sekarang agak melunak, meski masih sedikit sewot.
“Begini Sayang…. Abang ini anak tunggal, satu-satunya yang Mama miliki. Tak ada yang lain. Papa meninggal sejak  abang umur delapan tahun. Sejak itu, hanya ada abang yang Mama miliki. Mama bekerja keras untuk kehidupan kami. Apapun Mama lakukan untuk kehidupan kami. Disela-sela kerasnya kehidupan kami, Mama selalu sempatkan untuk membuat sarapan untuk abang. Bukan hanya memasak. Tetapi  hingga menyajikannya. Jadi apa yang Mama lakukan itu, bukan hal baru sayang, Mama sudah lakukan itu, sejak abang kecil, itu sebabnya, abang pastikan, bukanlah Mama mau merebut abang dari Eli atau mau menganggap Eli tak ada..” jawabku, coba menjelaskannya pada Eli dengan detail.
“Tapi… Eli kan istri abang? Sudah saatnya, apa yang dulu dikerjakan Mama, diserahkan saja pada Eli untuk melanjutkannya” sanggah Eli lagi, kelihatannya Eli belum sepenuhnya paham akan apa yang baru saja kujelaskan.
“Justru karena Eli istri abang, makanya, abang pikir, masalah itu, masalah sederhana”
“Kok sederhana? Eli jadi gak ngerti pola pikir abang, mestinya abang bela’in Eli”
“Ok, sekarang coba berpikir dengan angka-angka saja..”
“Maksudnya?” Tanya Eli heran
“Sudah berapa tahun kita berumah tangga?” tanyaku pada Eli.
“Dua tahun..” jawab Eli singkat. Dia belum tahu kemana pembicaraan ini, akan kuarahkan.
“Itu artinya, sudah tujuh ratus dua puluh hari kita hidup bersama. Berapa hari selama dua tahun itu, kita bersama-sama dengan Mama? Kalau dijumlah-jumlah, paling banyak dua puluh hari. Kalau dalam dua tahun perkawinan itu, Mama membuatkan sarapan dan menyajikannya pada abang, itu baru berjumlah dua puluh hari, sisanya yang tujuh ratus hari, siapa yang melayani abang? Eli kan? Istri  abang sayang”  
“Tapi, kan….” Eli, coba memotong kalimat yang kuucapkan.
“Belum lagi, kalo dihitung dari usia, Mama hanya bisa membuatkan sarapan dan menyajikan itu dalam sisa usianya yang tak berapa lagi. Setelah itu, maka seluruhnya kegiatan dipagi hari itu dapat Eli lakukan sepuas Eli, hingga maut memisahkan kita. Jadi menurut abang, yang dibutuhkan hanya soal kebesaran jiwa saja. Kenapa sih, Eli gak bisa mengalah, sedikit bersabar dan sedikit berbagi  pada Mama” uraiku lagi.
“Tapi, bang..”
“Soal berbagi… Ilustrasinya begini sayang. Ketika kita dikaruniai anak, maka anak itu, akan menyusu pada Eli, lalu Eli akan mendekapnya dengan sepenuh cinta. Sang anak akan menghisap dada Eli dengan sepuas reguknya, menelan sepuas dahaganya demi untuk kehidupannya dan mendengarkan detak cinta yang berada dibalik dada yang sedang dia dekap dan dia reguk itu. Lalu apakah abang sebagai suami Eli, tidak marah ketika dada istrinya didekap dan direguk oleh makhluk kecil itu?. Apakah abang sebagai suami Eli tidak cemburu, ketika istrinya mencintai makhluk lain, selain suaminya, dengan cinta yang tulus dan abadi sepanjang hidupnya?  Tentu jawabannya tidak marah dan tidak cemburu. Karena memang sudah seharusnya demikian. Itulah yang disebut dengan hukum alam. Hukum yang memaksa makhluknya untuk menerima semuanya dengan senang dan suka cita. Dengan abang tidak marah dan tidak cemburu, maka abang akan mendapat dua cinta sekaligus. Cinta, dari anak, sang buah hati dan Cinta dari Istri sebagai belahan jiwa. Demikian sebaliknya, jika abang marah dan cemburu, maka abang akan kehilangan dua cinta sekaligus. Dari anak dan Istri. Begitu juga dengan Eli, dengan sedikit sabar akan perilaku Mama, maka Eli akan mendapat dua cinta sekaligus, cinta dari abang dan cinta kasih sayang dari Mama” uraiku panjang lebar.
“Oooo…” Jawab Eli singkat, kulihat Istriku mulai mengerti, mulai lunak, wajah itu mulai rileks, tak sekeras  tadi. Dengan sepenuh cinta, kudekap Istriku. Kuusahakan mentransfer cinta yang ada di dada ini, dalam sebuah bentuk nyata dalam dekapan hangat.
“Jangan posisikan abang pada posisi sulit. Harus memilih Eli atau Mama. Karena Eli dan Mama bukanlah pilihan, bukan dua hal yang berlainan dan bertentangan, tetapi dua hal yang saling melengkapi menuju sebuah kesempurnaan, Mama dan Eli, adalah milik abang yang paling berharga. Karunia Tuhan paling Indah yang pernah abang miliki” bisiku disela-sela dekapan hangatku pada Eli.
“Oooo…” Desah Eli mulai cair.
“Mungkin inilah tafsir yang pernah abang dengar dulu,  ketika abang kecil, ketika Ustadz abang pernah mengatakan, ketika kita mencintai Tuhan, maka cintai pula apa yang Tuhan cintai. Tuhan tidak pernah cemburu pada hambaNya, ketika hambaNya mencintai apa yang Dia cintai”
“Oooo…”
“Jadi, abang mohon pada Eli, kita sebagai anak, idealnya kita bersabar dan mencoba untuk mengerti orang tua kita, semoga saja, jika kita memiliki anak kelak, anak kitapun akan bersabar dan mengerti apa yang kita lakukan. Ingat Eli, liburan kita di Ranah Minang ini, masih lama, masih seminggu lagi. Mari kita nikmati liburan di kampung Mama ini, dengan penuh suka cita. Dengan demikian, semoga saja Tuhan akan dengan suka cita pula memberikan kita keturunan” bisiku pada Eli, pelukan ini makin erat saja pada Eli. Eli sudah paham apa yang kumaksudkan, aku juga sudah paham apa yang lebih dibutuhkan Eli pada moment-moment seperti saat ini. Aku dan Eli sudah tidak butuh lagi kata-kata itu, kami hanyut dalam aksi yang melelahkan tanpa kata malam itu. Hingga kami dibangunkan ketika adzan Subuh, memanggil umatNya untuk absen, sebagai awal kegiatan dari sejibun aktifitas  yang akan kami kerjakan sepanjang hari, ketika siang menjelang.

******
Sebulan sudah berlalu, dari perjalanan liburan kami di kampung halaman Mama. Aku sudah kembali pada aktifitas rutinku, demikian juga Mama lebih disibukkan dengan kegiatan di tokonya. Kami tenggelam dalam rutinitas masing-masing.
Sore itu, aku agak terlambat pulang, karena, kerjaan akhir-akhir ini memang semakin banyak saja. Menjelang  adzan Maghrib berkumandang, aku baru memasuki halaman rumah. Kulihat Mama sedang memeluk Eli. Ada bekas merah di mata dua wanita yang kucintai itu. Agaknya, mereka baru selesai menangis, aku tak tahu apa yang mereka tangiskan. Kedatanganku, mengejutkan mereka.
Mama melambaikan tangannya padaku, mengisyaratkan agar aku mendekat. Sebagai anak, aku patuh, lalu mendekat, Mama memelukku, Mama membisikan di telingaku, bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek, Eli sudah terlambat kedatangan tamu rutinnya.
“Lengkap sudah kebahagiaan Mama, nak” demikian kata Mama, ada bening air mata, yang jatuh disudut mata tua itu, air mata bahagia. Tanpa kusadari, kedua wanita yang sangat kucintai itu, sudah dalam pelukanku, kami bertiga berpelukan, tak ada kata yang terucap. Tetapi kami, aku, Eli dan Mama tahu, bahwa Tuhan telah mengabulkan mimpi-mimpi kami. Sebentar lagi, rumah ini tak kan sepi lagi.   Akan ada tangisan yang akan meramaikan rumah kami. Akan ada makhluk yang membuktikan buah cinta kami, cinta yang akan semakin dewasa. Karena kami, sudah menjadi orang tua.






 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar