Rabu, 15 Juli 2015

Aku Melamar Adikku

Kondisi  Jalan Banten Selatan (dok.Pribadi)


Perjalanan di Jalan Toll antara Bandara Soetta hingga pintu Toll Serang Timur dapat dikatakan lancar, jalanan bisa dikatakan lengang. Tak seperti biasanya, ketika hari-hari week end begini, jalanan Toll biasanya ramai, tapi untuk kali ini, hanya sebelum masuk pintu Toll Cikupa saja, agak sedikit tersendat. Selepas pintu Toll Cikupa, semuanya lancar. Di sebelahku, kulihat Paman tidur dengan nyenyak, agaknya beliau cukup lelah selama perjalanan dari Sidoarjo. Sebelum subuh, tadi pagi beliau sudah harus tiba di Bandara Juanda Surabaya, lalu dengan flight pertama, terbang ke Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta.
Memasuki pintu toll Serang Timur, Paman terbangun, kulihat agak segar beliau kini.  Paman adalah adik kandung dari Bapak, mereka dua bersaudara. Setelah Bapak berpulang keharibaanNya beberapa tahun lalu, maka Pamanlah kini, satu-satunya anggota keluargaku dari pihak Bapak, beliaulah kini yang menggantikan fungsi yang tak dapat dilakukan oleh Bapak. Tujuan perjalanan kami kini, ke Bayah, sebuah kecamatan di Lebak Selatan. Wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat dari sisi Laut Selatan. Kabupaten Sukabumi, tepatnya Pelabuhan Ratu. Paman akan melamar Icha, anak pak Andi. Untuk jadi istri, pendamping hidupku.
“Sam, Serang luar biasa perubahannya ya” Kata Paman, membuka pembicaraan, ketika kendaraan yang kukemudikan, memasuki kota Serang, lepas dari pintu toll Serang Timur tadi.
“Paman sudah pernah kemari?” tanyaku, agaknya Paman pernah kemari, hingga dapat memperbandingkan dua hal. Serang tempo dulu dan Serang yang sekarang.
“Dulu pernah, sudah lama sekali, Dua puluh tujuh tahun lalu” Jawab Paman. Wajah Paman terlihat berkerut, aku tak tahu maksudnya. Mungkin Paman sedang mencoba mengembalikan ingatannya pada masa lalu itu, pada dua puluh tujuh tahun yang telah lalu.
“Dalam rangka apa Paman ke Serang?” tanyaku lagi ingin tahu.
“Paman membuat Bendungan Irigasi di daerah Malingping, waktu itu Paman masih bekerja di kontaktor Nindya Karya” jelas Paman lagi.
“Berapa tahun pelaksanaannya, Paman?”
“Hampir dua tahun. Paman ketika itu, jadi site manager, pekerjaan yang banyak meninggalkan kesan untuk Paman” jelas Paman lagi. Aku tak tahu maksudnya. Tapi, biarlah itu menjadi kenangan untuk beliau yang tak perlu beliau ceritakan padaku.
Kendaraan kami terus melaju, kini sudah memasuki Baros, Kota Serang sudah kami tinggalkan sejak tadi, kini jalan sudah mulai menanjak, udara sejuk mulai terasa, tidak sesumpek dan sepanas kota Serang. Aku coba menyetel Radio Elshinta, eeeeeh……, ternyata siaran Radio Elshinta tertangkap, padahal ketika di Serang tadi, tidak tertangkap, apakah ini, akibat Baros lebih tinggi dari Serang?. Kendaraan kami terus melaju, jalan terus mendaki, jalanan yang kami lalui cukup mulus, lalu Pandeglangpun kami singgahi, ketika melalui alun-alun kota Pandeglang, Paman minta untuk istirahat sejenak. Kami ngopi bersama di seberang alun-alun Selatan, lalu Paman minta di foto pada posisi dia berdiri di bawah patung Badak yang dengan gagahnya berdiri di alun-alun Selatan Pandeglang itu. Aku tak tahu, apakah Paman hanya sekedar ingin foto sebagai bukti mengunjungi Pandeglang, atau kota ini memiliki kenangan tersendiri untuknya, mengingat Paman, pernah kemari dua puluh tujuh tahun lalu. Bahkan pernah tinggal selama dua tahun. Semua keinginan beliau aku turuti saja. Tokh menyenangkan hati orang tua merupakan Ibadah.  Apalagi beliau sudah datang jauh-jauh untuk menemaniku melamar Icha.
******
Kota Pandeglang sudah lama kami tinggalkan. Kini perjalanan memasuki daerah saketi. Di Saketi ini, terdapat simpang tiga, simpangan ke kanan, arah ke Labuhan, Pantai Carita dan Pantai Tanjung Lesung, terus ke Ujung Kulon. Sedangkan simpangan arah kiri, kami akan menuju Bojong, lalu Picung, Banjar sari, Malingping dan Bayah. Aku mengambil arah kiri.  Tiba-tiba di depan kami, ada tikungan tajam disertai turunan tajam. Di ujung turunan tajam itu, terletak pasar Saketi. Beberapa saat kemudian, setelah melewati pasar Saketi, kami segera terjebak dengan jalan jelek. Sepanjang pandanganku ke depan, yang kulihat, hanya jalan ini jelek semua. Agaknya kami akan melalui jalan jelek ini, hingga ke Bayah kelak. Itu artinya, sepanjang seratus kilometer yang akan kami lalui, akan diwarnai dengan jalan yang berlubang dan penuh genangan air. Membayangkan hal demikian aku kasihan pada Paman.
“Sam… ini luar biasa” kata Paman, aku tak tahu jelas, apa yang dimaksud luar biasa oleh Paman.
“Maksudnya gimana Paman?”
“Sejak Paman meninggalkan daerah ini, dua puluh tujuh tahun lalu, kondisi jalan ini tak pernah berubah..”
“Maksud Paman, apakah kondisinya rusak seperti ini?” aku ingin memastikan maksud beliau.
“ya.. persis. Tak ada yang berubah. Dulu alasan Pemerintah karena kita jauh dari Ibu kota provinsi Jawa-Barat. Bandung. Tapi kini, setelah Banten jadi Provinsi sendiri, apa lagi alasan mereka?” jawab Paman coba, menjelaskan duduk masalahnya.
“Meneketehe…”Jawabku asal saja, karena tak tahu, harus menjawab apa
“Apa kata dunia?” Paman melengkapi Joke yang aku lempar tadi. Lalu kami tertawa terbahak-bahak berdua. Tiba-tiba…. Huks, kami tiba-tiba terdiam, perut ini terasa nyesek sampai ke hulu hati, mobil yang kami tumpangi masuk lubang.
Selepas Banjar sari, kondisi jalan makin parah, kondisi jalan yang berbentuk kubangan makin sering saja kami temui. Kulihat Paman makin sering meringis, mungkin menahan mual di perutnya.
“Sam…” sapa Paman agak keras.
“Ya Paman..”  jawabku sambil menoleh ke kiri, menatap padanya, agaknya ada yang ingin beliau sampaikan padaku.
“Tadinya, Paman akan mengajakmu mampir di Malingping. Paman akan tunjukkan padamu, kondisi Bendungan yang dulu Paman buat”
“Ide yang bagus Paman. Saya setuju. Mumpung kita lewat. Hitung-hitung nostalgia untuk Paman, dan pengetahuan baru untuk saya” jawabku.
“Tapi Paman jadi ragu Sam. Jalan provinsi saja, kondisinya begini hancur, bagaimana pula kondisi jalan menuju Bendungan itu? Gak jauh sih, jaraknya dari jalan provinsi, hanya sekitar 3 km, tapi Paman kasihan Sama kamu, kalau kita harus jalan kaki menuju lokasi itu”
“Atau Paman yang gak pede, membayangkan Paman akan kelelahan?” Jawabku
“Itu juga salah satu alasannya” Jawab Paman. Lalu kamipun tertawa bersama-sama.
Menjelang sore, kamipun tiba di Bayah. Perjalanan Bayah-Saketi yang hanya sekitar 100 km itu, kami tempuh dalam waktu lima jam. Kalau saja bukan karena Icha, aku tak akan mau mengulangi lagi perjalanan yang berat dan menjemukan itu. Kisah perjalanan yang sungguh tidak menyenangkan, pada jarak Bayah-Saketi.
Di Bayah, kami tidak langsung ke rumah Icha, tapi, menginap di sebuah hotel Melati, tak jauh dari pasar Bayah, sisi kiri Jalan, pada jalan yang menuju arah Cikotok. Pada Icha, kukatakan nama Hotel tempat kami nginap. Icha membalasnya, bahwa Icha akan datang ke Hotel tempat kami menginap bersama ayahnya, pak Andi. Beliau ingin bertemu. Ingin ngobrol-ngobrol santai, terutama pada Paman, sebagai pembuka acara,  sebelum acara lamaran yang sebenarnya besok diadakan. Rencana kedatangan pak Andi, segera kukabarkan pada Paman. Kulihat Paman senang, ada riak senang yang tergambar pada wajahnya, mungkin ngobrol dengan Calon besan, merupakan salah satu obat mujarab penghilang penat selama diperjalanan, begitu pikirku.
******
Mobil kami sudah memasuki halaman rumah Icha. Suasana terlihat sepi-sepi saja, aku sedikit aneh, apakah begini cara menerima calon besan, bukankah pak Andi semalam sudah cerita banyak dengan Paman di Hotel tempat kami menginap. Atau memang demikian cara yang berlaku di Bayah ini? Tokh ini hanya acara lamaran saja, belum acara pernikahan. Begitu pikiranku, coba menafsirkan kondisi yang kulihat dengan berpikir positif saja.
Aku dan Paman, telah duduk di Ruang Tamu, di depanku, duduk Pak Andi, Icha, adik dari Ibu Icha, Ibu Icha sendiri, telah lima tahun meninggal dunia. Tak ada yang lain.
Setelah pembicaraan basa-basi, kesana-kemari. Sebagaimana biasanya orang timur, Paman mengutarakan maksudnya.
“Jadi demikianlah maksudnya pak Andi. Saya mewakili orang tua Sam, melamar anak Bapak, untuk menjadi istri dari Sam. Menyatukan dua keluarga besar kami dengan keluarga Besar Pak Andi, dengan sebab pernikahan anak-anak kita” Kata Paman, mengakhiri kata-katanya, ketika melamar Icha, pada Pak Andi. Lalu, kini, giliran pak Andi untuk bicara, apakah akan menerima lamaran kami atau tidak.
“Sebelum saya memutuskan, menerima atau menolak lamaran ini. Saya ingin tahu dulu, apakah hubungan antara Pak Yudho dengan orang Tua nanda Sam?” kata pak Andi.
“Orang Tua kami kakak beradik pak…” jawabku singkat.
“Maksudnya sekandung?” kejar pak Andi lagi.
“Benar pak. Ayah saya dua bersaudara, yang paling tua Ayah saya, adik ayah, pak Yudho. Mereka bersaudara kandung, satu ibu dan satu Ayah” aku coba menjawab pertanyaan pak Andi dengan lengkap dan detail.
“Itu Jawaban jujur nak Sam, tak ada yang ditutupi?” Kejar pak Andi lagi. Mendengar pertanyaan yang terakhir ini, aku merasa tak enak, sepertinya ada yang aneh, apa maksud pak Andi menyangsikan kejujuranku, kulihat Icha hanya menunduk, sedangkan Bibi Icha, tajam menatap pak Andi tak berkedip.
“Itu, jawaban yang jujur pak, tak ada yang ditutupi” Jawabku singkat, dalam hati masih menyisakan tanya, ada apa sebenarnya ini.
“Baiklah, jika itu jawaban jujur. Maka pernikahan ini, tak dapat dilangsungkan” Jawab pak Andi singkat. Aku kaget bukan main mendengar pernyataan pak Andi, kulihat Pamanpun demikian. Icha, sejak tadi masih juga menunduk. Ada apa ini, apakah aku salah dengar? Kucoba mencubit tanganku, terasa sakit. Aku bukan mimpi, ini adalah kenyataan. Kenyataan pahit yang aku tak tahu apa penyebabnya. Sebagai seorang dokter muda, aku harus tahu, apa alasannya? Alasan itu harus logis. Aku tidak mau, alasan karena kami berbeda suku, aku suku Jawa dan Icha suku sunda. Perbedaan suku sudah bukan alasan untuk membatalkan perkawinan. Apalagi hubunganku dengan Icha, sudah cukup lama. Empat tahun, rasanya waktu yang cukup untuk kami saling mengenal. Empat tahun yang dimulai ketika Icha, masuk ke Rumah Sakitku, sebagai dokter muda. Selesai menjalani koas.
“Tapi… kenapa pak? Apa alasan logisnya”. Tanyaku. Aku harus tahu alasannya.
“Karna kalian bersaudara, darah yang mengalir di tubuh Sam dan Icha, sama” Jawab pak Andi singkat. Aku makin bingung, bagaimana mungkin? Aku orang Jawa kok punya darah Sama dengan Icha  yang dari suku Sunda. Kulihat Icha masih tetap menunduk, kulihat  wajah Paman terlihat bingung dan berubah-ubah bak pelangi. Mejikuhibiniu, merah, jingga, kuning, hijau, biru nila ungu. Semuanya sungguh membingungkan, ada apa ini.
“Saya masih tak mengerti pak?”
“Tentu nak Sam tak mengerti, Bapak paham itu. Bapak akan membuka rahasia antara kalian berdua, mengapa masih bersaudara, bahkan masih sedarah, sehingga agama kita melarang pernikahan ini”
“Tolong Jelaskan pak? Saya harus tahu masalah ini, sehingga keputusan yang Bapak ambil, merupakan keputusan logis”
“Begini nak Sam, peristiwa ini, bermula tadi malam dan peristiwa dua puluh tujuh tahun lalu. Semalam, ketika Bapak, menemui nak Sam dan Paman nak Sam, Bapak kaget luar biasa. Paman nak Sam, merupakan sosok yang tak asing bagi Bapak. Meski ada sedikit keraguan, apakah benar ini orangnya, maklum peristiwa itu sudah sangat lama berlalu, dua puluh tahun lalu. Tetapi, ketika Paman nak Sam memperkenalkan diri, dengan menyebut namanya Yudho, maka kesimpulan Bapak tidak salah lagi”
“Lalu gimana Pak?”
“Syukur Pak Yudho, tak ingat sama Bapak. Karena ketika peristiwa itu terjadi, Bapak bukan siapa-siapa, Bapak hanya sebagai asissten Surveyor saja, sedangkan pak Yudho adalah site manager.”
“Maksud pak Andi, ketika saya mengerjakan proyek Bendungan di Malingping itu pak?” Tanya Paman pada pak Andi. Suaranya begetar, kulihat wajah Paman agak pucat.
“Betul pak, saya akan membuka rahasia ini, karena terpaksa, kalau tidak saya buka, maka kita semua akan berdosa. Ketika itu, di staff pak Yudho ada seorang gadis yang juga teman saya sekolah ketika saya masih SMP, setamat saya SMP saya meneruskan meneruskan ke sekolah guru, sedang sang gadis itu meneruskan ke SMA, ketika kami tamat sekolah, dan kami belum bekerja, lalu saya melamar dan diterima menjadi asisten surveyor dan gadis itu menjadi staff Bapak.  Singkat cerita, sang gadis itu, akhirnya menikah siri dengan Bapak, lalu setelah proyek selesai, Bapak kembali ke Surabaya. Tinggallah istri sirri Bapak di Malingping. Ketika Bapak meninggalkan istri Bapak, istri  Bapak sedang hamil satu setengah bulan. Bapak tentu tidak mengetahuinya, karena ketika istri Sirri ingin memberitahukannya pada Bapak, Bapak telah pulang ke Surabaya, alamat jelas di Surabaya, istri Bapak juga tidak punya. Untuk menutupi aib itu, akhirnya istri Bapak mau saya nikahi. Pertimbangannya untuk menutupi malu, karena perutnya tak mungkin selamanya akan ditutupi. Enam bulan kemudian, ketika usia kandungannya memasuki bulan ke delapan, saya diangkat jadi guru di Bayah ini, dengan berjalannya waktu, rasa cinta, diantara kamipun tumbuh. Kami menjalani rumah tangga dengan bahagia. Sayang jumlah anak, dalam keluarga kami, tidak pernah bertambah. Tetap satu. Lima tahun lalu istri saya meninggal. Anak satu-satunya kami itu. Inilah Icha. Anak semata wayang yang saya besarkan dan sekolahkan dengan penuh kasih sayang. Meskipun secara biologis dia adalah anak Pamanmu Sam. Anak Pak Yudho.” Begitu penjelasan pak Andi.
Aku sungguh terkejut, kenyataan ini, sungguh diluar nalarku, kulihat Icha, mulai sesenggukan, dia masih menunduk, tetapi air mata yang mengalir di pipi itu, jelas terlihat olehku, Paman kulihat berdiri. Lalu melangkah mendekati Icha. Menyeberangi meja tempat kami duduk.
“Icha…, maafkan ayah” hanya itu yang mampu diucapkan Paman. Paman mengelus kepaka Icha, kulihat Icha, menengadahkan wajahnya, tak ada kata yang terucap, tiba-tiba Icha berdiri, lalu Icha dan Paman saling berpelukan. Ayah dan anak itu dipertemukan dalam suasana yang tak terduga Sama sekali. Pak Andi juga menetaskan air mata, demikian juga dengan adik Ibu Icha. Aku sendiri tak tahu harus berbuat apa. Semuanya serba mendadak, serba mengejutkan. Aku tak tahu dengan perasaanku sendiri, apakah harus kecewa atau harus gembira. Yang pasti kutahu, ternyata aku telah melamar adikku. Yang dalam syariat agama terlarang untuk kunikahi. Syukurlah Paman ikut dalam lamaran ini. Kalau saja Paman tak ikut, apa jadinya dengan pernikahan itu kelak…?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar