Jumat, 10 Juli 2015

Aku Diantara Mereka



Belakangan ini, pekerjaan makin menumpuk saja, seakan tak ada ujungnya. Baru saja satu pekerjaan selesai, segera datang yang baru, bahkan sebelum satu selesai, telah menunggu yang lain. Namun, semuanya aku syukuri saja, sudah menjadi konsekwensi dari jabatan yang kupegang kini. Bersamaan dengan bertambahnya pekerjaan, badan ini, terasa makin sehat saja. Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya? Apakah karena, makin lengkapnya cinta yang kumiliki kini atau karena makin terasa, bahwa keinginan untuk memiliki apa yang sejak lama kuimpikan makin mendekati kenyataan.
Antara kerjaan yang makin berat, perhatiaan pada mereka yamg kucintai, selalu saja membuat diri ini makin bergairah menjalaninya. Tak terasa, tiba-tiba sudah sore, lalu malam, kemudian pagi lagi. Semuanya aku jalani saja dengan ringan.

Seperti sore ini, diantara tumpukan kertas-kertas yang minta segera dituntaskan, tiba-tiba telpon di mejaku bordering. Aku segera meraihnya. Kemudian  mengangkatnya.
“Kang jangan lupa ya….” kata suara diseberang sana, suara  Nia Istriku
“Iya Nia, sebentar lagi Akang meluncur…” jawabku singkat.
“Kasihan Dilla kalo kita datang kelewat malam” Sambung Nia lagi
“Iya sayang, Akang tahu”.jawabku lagi, coba menenangkan Nia. Akupun, sebenarnya sangat berkepentingan untuk datang ke rumah Dilla. Dengan Nia atau tanpa Nia sekalipun.
Aku segera berkemas, memasukkan segala peralatan kerja ke dalam tas, lalu turun ke halaman parkir dan menghidupkan kendaraan. Sore ini, aku dan Nia akan berkunjung ke rumah Dilla. Nia tadi siang dapat kabar kalau Dilla  sakit. Kasihan Dilla, demikian kata Nia, dia tidak  ada yang ngurus jikalau Dilla sakit, karena Dilla hidup sendiri, ibunya yang sepuh tinggal di Sumedang, sedang Dilla tinggal di Bandung Utara. Rencananya Nia akan ku jemput, lalu kami berdua meluncur ke rumah Dilla.
Sore itu, seperti biasanya Bandung macet, kota ini kurasa sudah jauh berbeda, kesejukan yang dulu kurasa, ketika masih sekolah di  SMA dan kuliah, sudah sangat berkurang, pohon-pohon besar disana-sini memang masih ada, tetapi kemampuannya untuk menyerap CO2 sudah tak memadai lagi, jumlah kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya bertambah luar biasa, menyebabkan Bandung sekarang, terasa jauh lebih panas dari dulu.
Setelah melewati RS Hasan Sadikin, lalu kendaraan aku belokkan ke kiri, lalu pada perapatan kedua aku belokkan lagi kekanan, akhirnya, kendaraanku memasuki jalan yang lebih kecil, hingga ketika adzan Maghrib berkumandang, sampailah kami di rumah Dilla.
Nia segera turun, sementara aku memarkir kendaraan, masih sempat kulihat kedua sahabat lama itu cipika-cipiki, ketika aku sampai di pintu, kulihat mereka sudah duduk di ruang keluarga, saling berdekatan, kulihat pada Dilla tak ada tanda bahwa Dilla sakit, kecuali sedikit pucat di wajahnya. Keceriaan jelas terpancar di wajah Nia dan Dilla, aku agak menjauh, duduk sendiri memperhatikan mereka berdua. Nia dan Dilla. Dua orang yang memiliki nilai luar biasa bagiku, meski cara mewujudkannya, sedikit berbeda. Antara satu dengan lainnya.
“Kang…. Sini gabung” kata Nia mengajakku bergabung dengan mereka, sementara Dilla kulihat hanya melihat sejenak padaku dengan pandangan agak lama. Seperti ada sesuatu yang akan diucapkannya. Entah apa. Aku tak tahu.
“Yups…” kataku lalu berdiri, berjalan menuju ruang keluarga, tempat Nia dan Dilla duduk. Aku duduk disebelah Nia, sedangkan disebelah ujung yang lain duduk Dilla. Nia berada diantara aku dan Dilla.
“Ini kang, kita dikerjain Dilla nih….” lanjut Nia lagi, sedikit manja. Sementara kulihat Dilla memandangku dengan tatapan yang lain.
“kok..bisa?” Jawabku tak tahu kemana maksud Nia.
“Ternyata Dilla gak sakit, dia cuma masuk angin, alasan utamanya dia cuma rindu, dah lama gak ketemu kita” kata Nia
“Hmmmmmm..” Jawabku singkat, aku melihat pada Dilla, Dilla memang sedikit pucat, pandangan mata Dilla sama seperti tadi, pandangan itu, seperti ada sesuatu yang akan dikatakannya. Entah apa, aku tak tahu. Seperti ada sebuah misteri yang mengiringi pandangan itu.

*********
Nia dan Dilla adalah teman akrab, bersama dengan Dadang dan aku, kami dulu teman satu kelas. Bahkan kami dulu satu geng. Sangat akrab dan cs banget, kemana-mana bareng. Kami  yang dari kelas IPA, ketika itu, merasa seakan mempunyai kelebihan dibanding dengan teman-teman dari IPS, kebanggan yang  belakangan kusadari sangat lucu dan menggelikan, semua berangkat dari cara pandang kami yang salah, bahwa bagi mereka yang mampu di bidang exacta,  seakan punya kemampuan lebih dalam segala hal. Sejak kelas dua kami selalu bersama, semua teman juga tahu. Hingga akhirnya kami berpisah ketika kami kuliah, Dilla dan Dadang kuliah di daerah jalan Dipati Ukur, sedangkan aku dan Nia disebelah atas. Dua perguruan Tinggi Negri yang punya nama di Kota Bandung, bahkan, perguruan yang terakhir, punya nama cukup tenar di Indonesia.
Awal berpisahnya kami, terasa berat, ada sesuatu yang hilang, terutama aku kehilangan Dilla, ada sedikit rasa yang tertinggal pada Dilla, aku tak tahu apa yang dirasa Dilla, tapi hati kecilku mengatakan, rasa yang kurasa sama dengan yang dirasa Dilla.
Walaupun satu kampus dengan Nia, jurusan kami beda. Walaupun demikian, pertemuan dengan Nia masih sering juga, walau tak seintens ketika SMA dulu, kami hanyut dalam tugas-tugas kuliah yang begitu menyita waktu. sedangkan dengan Dadang dan Dilla, bisa dikatakan putus sama sekali. Tak ada lagi komunikasi.
Selesai, kuliah aku ditugaskan ke seberang, Nia setengah tahun kemudian selesai juga, dua tahun diseberang aku kembali ke Bandung, ketika itu ada reuni di sekolah kami. Aku kembali bertemu dengan Nia, demikian juga dengan Dadang dan Dilla.
Reuni itu, membawa cerita lain. Aku segera saja menyadari bahwa aku jatuh cinta pada temanku sendiri, pada Nia. Cinta pada usia matang itu, ternyata tidak membawa hanyut semua emosi, seperti pada mereka yang remaja. Kami lebih menjalaninya dengan pertimbangan rasio, dibandingkan dengan perasaan.  
Setahun kemudian aku menikah dengan Nia. Usai pernikahan kami boyongan ke seberang, Nia mengikuti aku sebagai suaminya, Nia yang kini di rumah saja, akhirnya mengisi hari-hari kosongnya dengan menulis, jadillah Nia penulis yang cukup punya nama di republic ini.
Dua belas tahun kami di seberang, karierku cukup baik dan menjanjikan, sayang, kami belum diberikan keturunan, apakah karena tiadanya keturunan itu, serta rasa sepi yang menyergap kami itu, lalu kami tumpahkan pada kesibukan masing-masing, sebagai konsesinya.
 Akibatnya, bisa ditebak, karierku semakin cepat saja meroket. Nia semakin punya nama saja dengan hasil tulisannya yang menghiasi berbagai media. Hingga akhirnya, aku dipromosikan untuk jabatan yang lebih tinggi, aku dipindahkan ke kantor pusat di Bandung. Walaupun aku pulang kampung, tapi semuanya seakan menjadi asing. Tak  ada teman yang bisa dihubungi, beberapa yang kumiliki, aku datangi. Namun mereka semu tak berhasil aku jumpai. Alamat  mereka sudah pada pindah, nomer telpon yang bisa dihubungi,  aku juga tak punya. Begitulah tahun pertama dan tahun kedua yang terjadi pada aku dan Nia.
Hingga akhirnya, kesempatan itupun datang. Sekolah kami kembali mengadakan reuni. Aku dan Nia, kembali datang ke sekolah berdua, karena kami memang belum diberikan keturunan hingga tahun ke 13 perkawinan.
*****
Pagi saat reuni itu, ketika kami sedang menulis di buku tamu. Tiba-tiba ada suara panggilan keras.
 “Nia…” sebuah panggilan keras mengagetkanku
“Dilla..” kata Nia. Kulihat dua orang sahabat itu berpelukan erat, aku hanya bengong, sesaat lamanya, terlupakan oleh mereka. Mereka larut dalam kegembiraan.
“Kang..” kata Nia menoleh kepadaku, setelah mereka saling melepaskan pelukannya, aku tahu maksud Nia ingin mengatakan itu Dilla
“Dilla..” kataku, kupegang erat tangan Dilla, cukup lama.
“Ton…” kata Dilla menyambut erat tangan yang kuulurkan tadi.
“yuk…., Nia, Ton.. kita duduk disana”. Ajak Dilla, sambil memegang tangan Nia, bergerak kearah yang ditunjukkannya, sementara aku hanya ikut dibelakang mereka.
Kami duduk agak ke pojok sebelah belakang, aku, Nia dan disebelah ujung Dilla.
“Hapunten Dilla…. Dadang kok ga keliatan?” tanya Nia.
“iya…dari tadi, aku juga coba cari, tapi gak keliatan. Apa dia gak tahu kalau ada acara ini?” Jawab Dilla  
“Suaminya kok gak dibawa, Dil?” tanyaku, ikut meramaikan obrolan Dilla dan Nia.
“Nggak….” Jawab Dilla singkat.
“Curang nih… masak datang sendiri gitu” Nia ikut nimbrung
“Nah, kalian sendiri, kenapa cuma berdua? Anak-anak kenapa gak dibawa?”
“Kami belum beruntung Dil, sampai sekarang belum dipercaya Allah” Jawab Nia
“Yah,  nasib kita sama” Sambung Dilla. Sementara aku hanya menjadi pendengar.
“Tapi kamu masih beruntung Nia, kalau aku, gara-gara kosong itu, suamiku akhirnya diam-diam nikah lagi, dan ketika dia mendapatkan keturunan, kami berpisah. Dia lebih memilih istri mudanya yang telah memberikan keturunan, daripada mempertahankan rumah tangga kami yang sepi.”  Sambung Dilla lagi.
Acara Reunian masih terus berlangsung. Dimulai dengan kata sambutan panitia, ucapan selamat datang kembali ke sekolah tercinta oleh senior dan beberapa kata sambutan dari guru kami dan kepala sekolah yang sekarang, hingga puncaknya terjadi ketika acara hiburan. Beberapa teman-teman kami saling berjoget ada pula yang menyumbangkan lagu. Rame banget dan terasa nano-nano. 
Sementara, aku, Nia dan Dilla, ngobrol kesana-kemari. Segala kejadian masa lalu, jadi bahan pembicaraan kami. Hal-hal yang dulu sangat menjengkelkan, kini dalam pembicaraan kami, justru menjadi hal lucu. Ada rasa rindu pada guru fisika yang galak, tapi sayang beliau tak datang. Rindu pada guru biologi, yang sering membuat plesetan ketika mengajar. Dan banyak hal lain. semuanya seru.
Pulang acara reunian itu, Dilla ikut bersama kami. Kami muter-muter, mengunjungi tempat-tempat kami dulu kongkow-kongkow dulu, mencoba mengulangi semuanya kenangan lama. Namun saying, beberapa tempat yang kami datangi, sudah berubah. Ada yang berubah fungsi, ada yang berubah arsitekturnya, hingga nuansanya menjadi lain. tidak mewakili apa yang kami cari.  Malam itu, Dilla tidur di rumah kami. Nia dan Dilla terlihat akrab banget, aku hanya coba mengimbangi mereka berdua.
Sejak pertemuan kembali dengan Dilla. Mulailah, hidup kami kembali rame, tak lagi sepi, ada Dilla yang sering nginap di rumah, rasanya suasana ketika SMA dulu kembali lagi. Meski, hingga kini, kami masih tak berhasil menemukan sosok Dadang.
Pagi hari, jika Dilla menginap di rumah, ketika aku kerja, kadang aku mengantar Dilla ke kantornya dulu. Arah jurusan kantor Dilla searah denganku, bahkan melewati kantor Dilla, jaraknya hanya terpaut satu setengah kilometer. Tak jarang waktu istirahat siang, aku jemput Dilla, kami makan siang bersama. Begitu, begitu dan begitu terus, satu tahun lebih kami lakukan hampir rutin, sementara Nia tetap pada dunianya yang hanya duduk manis di rumah dengan dunia tulis menulisnya.
*******
 Aku lebih dahulu menuju mobil, memindahkan parker mobil kami, agar Nia lebih mudah untuk menaikinya, Nia masih di dalam rumah Dilla,  apa saja yang mereka obrolkan aku tak tahu persis, lalu kulihat Nia dan Dilla sudah dipintu rumah, setelah mereka berpelukan, kulihat Nia menuruni anak tangga, aku segera membuka pintu mobil untuk Nia, Nia duduk disampingku, dia melambaikan tangannya pada Dilla, hal yang sama juga kulakukan. Sekali lagi, pandangan Dilla menyiratkan ada hal yang ingin dia sampaikan.
“Kelihatannya Dilla hanya masuk angin saja kang” kata Nia setelah duduk disebelahku. Sementara mobil yang aku bawa sudah meninggalkan halaman Dilla.
“Iya..”Jawabku singkat. Sementara pandanganku terkonsentrasi pada jalan.
“Tapi keliatan dia pucat kang, kok aku merasa, dia terlihat manja sekali tadi, seperti tidak biasanya” kata Nia lagi. Sementara di luar, ada rintik hujan yang jatuh di kaca mobil. Musim hujan sudah mulai datang. Untuk beberapa bulan kedepan.Bandung akan terasa lebih sejuk. Selama musim hujan.
Aku belum sempat membalas kata-kata Nia, ketika SMS masuk, dari Dilla, isinya singkat, “Aku hamil Ton”
Untung ruang dalam mobil itu gelap, sehingga aku dapat menyembunyikan kalimat SMS itu dari penglihatan Nia. aku berharap Nia tidak melihat perubahan ekspresi wajahku. Segala rasa campur aduk dalam dada ini. Ada rasa senang tak terkatan, mengingat Nia ada di sebelahku. Yang  pasti, aku merasa telah menjadi laki-laki paripurna, ada Nia yang cerdas dan rasional, ada Dilla yang cantik, Dilla yang cinta terpendamku waktu SLA dulu, yang kini telah menjadi isteri siriku, Dilla juga telah melengkapi semuanya, dengan bakal hadirnya buah cinta kami. Hal langka yang telah aku tunggu lama,  bersama Nia.
Kondisi diluar kendaraan masih gerimis, kecenderungannya akan semakin lebat, udara semakin dingin saja. Seakan Cuacanya dan Udara tidak mewakili apa yang kurasakan kini. Yang ada dalam dada ini, setitik kecerahan yang makin benderang, kehangatan hati yang semakin hangat. Sementara gelap  dalam mobil telah menyamarkan semua ekspresi yang ada diwajahku.
Biarlah aku nikmati perjalanan pulang ini, dengan rasa bahagia dalam dada ini, dengan caraku sendiri. Soal bagaimana aku akan menjelaskan semua ini pada Nia, biarlah aku cari waktu yang tepat. Aku ingin Nia dan Dilla, serta anak kami kelak, merupakan bagian dari hidupku yang tak terpisahkan. Aku berharap akan menemukan cara terbaik, menyelesaikan masalah ini.
Bagaimana solusi tepat itu? Aku juga belum menemukannya solusinya. Waktulah kelak yang akan menjawabnya.




   

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih sudah hadir dan meninggalkan jejak, pak Tur..
      selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir bathin..

      Hapus