Jumat, 31 Juli 2015

Selamatkan Indonesia -Refleksi HUT RI ke 70-



Merdeka adalah bebas dari penjajahan. Untuk selanjutnya, bebas menentukan nasib diri sendiri dengan segala konsekwensinya. Artinya, bangsa merdeka adalah bangsa yang bebas berbuat sesuatu dan bebas menentukan sesuatu, dengan hak dan kewajiban yang melekat pada dirinya.
Kebebasan untuk menentukan pilihan dan melaksanakan pilihan yang sudah disepakati sebagai sebuah bangsa merdeka, tidaklah kalah beratnya, jika dibandingkan dengan perjuangan untuk merebut dan meraih kemerdekaan itu sendiri. Sebab, kegagalan pada pelaksanaan terhadap apa yang sudah menjadi pilihan, dapat mengakibatkan negara ini, menjadi sebuah Negara yang gagal. Akibatnya, Indonesia bisa saja, kelak, hanya menjadi sebuah catatan sejarah masa lalu. Bahwa, pernah ada sebuah Negara yang bernama Indonesia.

Selasa, 28 Juli 2015

Biarlah Tulisan Itu Mengikuti Takdirnya


Jika ada tiga orang yang perlu mendapatkan apresiasi dalam gaya menulis, menurut saya pribadi, maka tiga orang itu adalah WS Rendra, Buya Hamka dan Thamrin Dahlan. Kebetulan ketiga orang yang saya apresiasi itu, memiliki benang merah antara ketiganya.
WS Rendra, dalam sebuah kesempatan, menulis, Jika ada orator terbaik di Indonesia, yang mampu membuat audiencenya terpaku, lalu mengikuti segala tetek bengek uraiannya dalam berorasi, maka orang pertama itu, Ir Soekarno. Lalu, orang kedua itu, Buya Hamka.
Masih menurut  Rendra, Soekarno dengan pidatonya yang gagah berani, mampu memukau dan menggerakkan audience untuk mengikuti apa yang dipidatokannya, sementara Buya Hamka, dengan kefasehan dalam bersasatra yang diejawantahkan dalam orasi, mampu memukau apa yang diceramahkannya. Dua-duanya, mampu meninggalkan kesan mendalam pada audience, hingga tak sedikit, mereka mampu, mengulangi kata perkata dari apa yang telah dipidatokan, baik oleh Soekarno maupun oleh Buya Hamka.

Senin, 27 Juli 2015

Cerita Sekitar Bahasa


Gayatri  Dwi Wailissa baru saja berpulang keharibaanNya, kehilangan yang tak hanya dirasa oleh anggota keluarga, melainkan oleh seluruh anak bangsa. Remaja yang disebut anak ajaib ini, memang luar biasa. Menguasai empat belas bahasa dunia. Kemampuan yang perlu dapat acungan jempol. Kemampuan yang menginspirasi remaja lain, untuk bisa mengikuti jejaknya.
Bahasa menunjukkan bangsa.  Demikian pepatah yang memiliki multi tafsir. Bahasa yang digunakan menunjukkan sifat dan karakter bangsa penggunanya. Cara  menggunakan bahasa menunjukkan pribadi si pemakai bahasa itu, hingga rasa bahasa tidak selalu dapat dialih bahasakan ke dalam bahasa lain.

Perjamuan Di Gerbang Pertama


Silaturahmi, memperpanjang umur dan menambah rezeki, demikian kata yang sering saya dengar. Kata-kata  yang dua ratus persen benar. Hasil silaturahmi saya malam itu membuahkan rezeki ilmu yang ingin saya bagikan pada pembaca semua.
Malam itu, kami membahas fenomena orang dekat pada Allah dengan segala kelebihan yang mereka miliki, entah itu kemampuan terawangannya, kemampuan menaklukan makhluk halus dan Jin,  serta kemanjuran do’a-do’anya yang mereka panjatkan. Do’a mereka selalu terkabul, bahkan sebelum mereka berdo’a mereka sudah yakin akan makbulnya do’a yang akan mereka baca. Seakan, Allah tunduk akan keinginannya.
Kok…. Allah bisa tunduk dengan keinginannya? Tanya salah satu teman diskusi.

Minggu, 26 Juli 2015

Perjalanan Terakhir Bagas


Selamat Tahun baru dik Mini. Seperti biasa, ketika kita memasuki tahun baru, kita selalu mengharapkan sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih baik. Sesuatu yang memberikan makna lebih. Minimal lebih baik dari tahun sebelumnya.
Masih ingatkah dik Mini, di alun-alun kidul dulu, ketika Mas memberanikan diri, meminta dik Mini untuk menemani Mas, untuk melewati hari-hari esok, sepanjang masa, selama hayat dikandung badan. Mengarungi bahtera rumah tangga kita. Menghadang badai gelombang yang kelak, bisa saja menghadang bahtera rumah tangga kita, atau melewati jalan setapak, yang mungkin saja penuh onak dan duri. Hingga akhirnya, bahtera rumah tangga kita selamat hingga tepian tanah tujuan. Tanah harapan kita, yang disana kelak, kita akan hirup dan mereguk kebahagiaan itu sekuat kita dapat mereguk, semampunya kita dapat menikmati bahagia. Syurga sesungguhnya yang dapat kita ciptakan dan nikmati bersama.

Kemiskinan Sebuah Fenomena



Dalam kesehariannya, hal yang sangat laku dijual, baik oleh pemimpin bangsa, politisi maupun masyarakat yang mengaku peduli pada masyarakat miskin serta masyarakat madani adalah tentang kemiskinan segala fenomena yang mengiringinya. Berbagai upaya dilakukan, berbagai isu dibicarakan, serta berbagai seminar diadakan. Tujuannya satu. Bagaimana mengentaskan kemiskinan. Tujuannya satu. Walau untuk beberapa politisi dan kaum avonturir, apa yang mereka lakukan, terkadang hanyalah sebuah jembatan, sebuah cara untuk dikenal dan pencitraan. Karena, soal berapa yang telah berikan pada kaum miskin, berapa kemajuan pencapaian dalam pengentasan kemiskinan. Tetapi, apa dampaknya untuk karir politik mereka, berapa side efek yang kelak akan mereka terima dari apa yang telah mereka citrakan pada kaum miskin dan termarginalkan itu.

Hari Pertama



Semua proses, dari mulai proses seleksi penerimaan fasilitator sudah selesai, demikian juga dengan proses pelatihan pratugas selama dua minggu di Anyer. Demikian juga, ketika tiga hari pertama, setelah pelepasan Fasilitator oleh satker Provinsi, kami terlebih dahulu beradaptasi di Ibu kota Kabupaten. Istilahnya, pengenalan lingkungan.  Semuanya, terlewati dengan baik.
Hari ini, adalah hari pertama saya mengunjungi kecamatan dimana saya akan ditempatkan. Kecamatan  Gigemblong, salah satu daerah yang terletak di Kabupaten Lebak. Banten.
Pagi itu, saya bersama rekan kerja, seorang FK. Bersepakat untuk melalui rute, Rangkas Bitung, Kadubanen, Saketi, Banjar sari, Malingping, Cijaku dan berakhir di Cigemblong. Kesepakatan kedua. Sehubungan teman FK, tangannya sedang dalam tahap penyembuhan, dikarenakan kecelakaan motor yang beberapa waktu sebelumnya terjadi. Maka, teman FK akan membonceng dengan saya. Kesepakatan lainya, bila hujan turun, maka kami akan berteduh, hingga hujan usai. Lalu, meneruskan kembali perjalanan. Setelah semua kesepakatan kami sepakati. Maka, kamipun berangkat.

Sabtu, 25 Juli 2015

Berlomba Mengejar Pahala



Seminggu lalu, seorang adik menelpon dari Ponselnya.
“Bang….. mohon do’anya, mudah-mudahan selamat pergi-pulang..”
“Emang mau kemana dik?” tanya saya
“Ini diatas pesawat Emirat, sedang bergerak mau take off, sebentar lagi HP akan saya matikan Bang. Saya mau berangkat Umroh. Mohon do’anya, salam untuk seluruh keluarga abang..”
“Iya dik, abang do’ain semoga selamat pergi-pulang. Abang jadi ikut bahagia mendengarnya”. Jawab saya pula. Tak lama kemudian ponsel dari sana mati, saya pun meneruskan kegiatan. Sejam kemudian, saya kembali menghubungi ponsel sang adik, tetapi tidak aktif, saya tersadar, ternyata adikku benar-benar telah terbang. Semoga dia selamat pergi-pulang, semoga pula ketika pulang kelak menjadi haji mabrur.

Ketika Bajay Tiba-tiba Berbelok



Percaya dengan takdir? Percaya dengan suratan nasib? Percaya dengan garis tangan? Dan hal-hal sejenis itu?
Segala perbincangan tentang itu sudah dibahas panjang lebar oleh banyak orang, pada banyak tempat, pada banyak waktu, hingga detail sekali, dengan segala argument dan dalilnya yang mengiringinya. Dari mulai alasan yang sifatnya logis hingga dengan sandaran hadist dan ayat. Namun, pembahasan yang kelewat panjang, menyakiti kaum ibu, sedangkan yang kelewat lebar, tidak memberikan rasa nikmat untuk kaum bapak. (halah… ngomong apa saya ini? Heheheh)

Wisata Alternatif

Selat Bali (dok.Pribadi)
Jika kita membaca kata destinasi, maka memori dalam pikiran kita, membayangkan obyek wisata yang indah yang telah kita kunjungi. Bisa juga, kita hanyut dalam khayalan tentang obyek wisata yang belum kita kunjungi. Berbagai gambar khayal muncul, akan bagaimana dan akan apa yang kita kerjakan di tempat indah yang akan kita kunjungi itu.   
Berbagai persiapan dan bekal, kita lakukan untuk mengunjungi destinasi wisata, baik yang telah pernah kita kunjungi ataupun yang belum pernah kita kunjungi. Persiapan itu, bisa dengan pertanyaan, kapan akan kita kunjungi? Berapa lama waktu untuk tinggal disana? Berapa lama waktu dalam perjalanan? Berapa biaya yang diperlukan dalam perjalanan ke sana. Apa saja agenda acara yang akan kita lakukan disana? Setelah semua persiapan  matang, perjalanan itupun dilakukan.
Jika tak ada hal-hal diluar perkiraan, maka perjalanan itu, tentu akan sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan.
Ketika kita selesai dengan acara yang telah kita “schedule” kan, maka kita pulang dengan kondisi kejiwaan yang lebih fresh, segar dan siap untuk melakukan aktifitas lain yang lebih  menantang.

Analogi Surat Dari Mertua



Sudah semua kita tahu, bahwa Jodoh, maut dan rezeki hanya Allah yang tahu. Kita tidak tahu kapan waktunya ajal itu akan datang, dimana tempatnya kita berada, ketika ajal itu datang serta bagaimana kondisi kita ketika ajal itu menjemput.
Begitu juga dengan rezeki, kita tidak tahu, umur berapa ketika rezeki itu datang dengan jumlah besar, kapan waktu datangnya, serta berapa nominal besarnya rezeki yang akan datang? Bisa juga, bahkan rezeki itu, datang dengan jumlah nominal yang minimal saja sepanjang hidup kita, sehingga mereka menamakan kita sebagai kaum dhu’afa dan masakin (miskin).
Demikian halnya dengan jodoh. Dengan siapa kita akan berjodoh, umur berapa kita akan menemukan jodoh dan bagaimana dengan jodoh kita? Apakah akan panjang atau harus berakhir dengan perceraian. Tak satupun manusia yang mengetahuinya. Meski kita semua berharap agar joodoh kita panjang, hingga hanya maut yang mampu memisahkan kita.

Jumat, 24 Juli 2015

Wanita Di Halte Itu

Apalah yang abadi dipermukaan bumi ini. semuanya berubah dan berganti. Sesungguhnya, yang abadi, adalah perubahan itu sendiri. Mengingkari perubahan, sama dengan meniscayakan sesuatu yang telah pasti. Waktu berputar terus, detik berganti dengan menit, menit berganti jam. Jampun terus berputar, jam satu, jam dua, jam tiga. Dua    puluh empat, lalu berulang menjadi satu lagi.
Hari Senin, lalu selasa, rabu hingga minggu, lalu berulang senin kembali. Berputar…… untuk akhirnya sampai pada titik yang sama, walau sebenarnya tidak juga sama persis. Bisa saja ditempat yang sama, tetapi sudah pada waktu yang lain. Bisa saja, harinya sama, tetapi waktunya  sudah berbeda. Senin yang sekarang akan beda dengan senin minggu lalu. Diantara perputaran waktu pada ruang dan tempat yang sama, terjadilah peristiwa-peristiwa, kisah ini.

Sebisa Yang Dapat Kuberikan

Eka baru saja membelakangiku, meninggalkan ruangan tempat aku kini duduk, ada raut kecewa di wajahnya. Aku tak pedulikan semua itu, peduli syetan semuanya, aku telah muak dengan semua yang terjadi. Telah kuhabiskan seluruh waktu untuk mereka semua. Seakan aku mengabdikan diri pada profesi, tetapi semua itu hanya pelarian, semacam sebuah balas dendam karena suatu sebab. Kini “Sebab” itu telah dekat pada diriku, seakan sudah dapat kuraih dengan sekali rengkuh.
Sore tadi sebuah sms masuk. “Benk, aku tunggu di atas. Jam delapan sore ini, jangan terlambat…..Hartini”
“Ok, aku datang on time” Balasku singkat.
“Kamu tahu tempatnya kan? Tempat terakhir kita ketemu dulu” balasan smsku masuk lagi
“Ok, tempat itu, aku tau, tak mungkin aku lupa” balasku lagi. Mana mungkin aku bisa melupakan tempat itu. Sampai kapanpun, tak mungkin terlupakan.
Lalu, siapa sangka Eka, manajer sekaligus istriku datang menemuiku, meminta untuk menghadiri makan malam yang diadakan EO untuk pihak yang mengundang kami. Kalau saja bukan Hartini yang meng”sms”ku, aku pasti akan menuruti permintaan Eka, tapi untuk kali ini, aku berontak, harus ada penolakan dariku, paling tidak hanya untuk kali ini, setelah sekian ribu kali aku selalu mengabulkan permintaannya. Selalu aku mengikuti kemauannya.
*********

Ritual Ziarah Di Stasiun Itu



Senja temaram mulai turun, rona merah sisa Mentari jatuh dilereng pegunungan nan hijau. Indah sungguh sebenarnya, tetapi bagiku, keindahan itu menyimpan banyak kenangan warna-warni yang menyertainya. Aku masih duduk di Emplasment Stasiun, masih menatap ke arah sisi lereng pegunungan itu. Tampak temaram sinar senja yang bertelingkah dengan hijaunya lereng pegunungan. Pegunungan yang menyimpan banyak cerita masa laluku.
Stasiun ini, sudah kembali dipugar, dikembalikan pada bentuk awalnya. Tak ada lagi kekusaman yang kutemui seperti ditahun-tahun sebelumnya. Memang, dulu stasiun ini, merupakan stasiun yang hidup dan cukup sibuk. Bahkan sebagai stasiun transit untuk mencapai daerah destination wisata di daerah tinggi dikaki pegunungan itu, beberapa pesohor dunia pernah datang kemari. beberapa Kereta yang dari Bandung ke Surabaya atau arah Solo, akan berhenti di sini pula, lalu dari stasiun ini. Sebagian diantara mereka meneruskan  perjalanan dengan Kereta Api lain ke kaki gunung itu. Tetapi, sejak Gunung itu meletus tiga puluh  dua tahun silam, jurusan kereta api ke kaki Gunung itu berhenti. Stasiun inipun tak disinggahi lagi. Lalu mulailah perlahan-lahan stasiun ini mulai kusam dan lapuk di sana-sini. Persis  seperti rumah yang ditinggalkan penghuninya. Merana, perlahan-lahan kusam dan mati.

Kamis, 23 Juli 2015

Pada Sidang Sugih

Ruang ini tidak begitu luas, tetapi bagiku terasa amat luas, pada sisi depan kiri, duduk Jaksa penuntut umum.  Pada bagian depan tengah, terdiri dari tiga kursi, yang terdiri dari dua kursi Hakim Anggota yang mengapit kursi tengah Hakim Ketua. Pada sisi kanan, agak mundur sedikit, terdapat  kursi yang menghadap kursiku, itulah kursi pengacara, sedang aku sendiri, duduk pada sisi tengah, tepat dihadapan Hakim Ketua, sebagai terdakwa.
Hari ini, adalah sidang yang kesekian kalinya, jika semuanya lancar, maka setelah sidang hari ini, akan dilanjutkan sidang berikutnya, yakni sidang tuntutan Jaksa, yang menuntut hukuman yang pantas untuk aku terima,  setelah itu baru sidang putusan Hakim, putusan yang menentukan bagi nasibku telak, berapa lama aku harus mendekam dalam LP.

Rinai Gerimis Diantara Apartemen Kemayoran

Temaram senja baru saja meninggalkan maya, semburat merah masih terbayang diatas langit sana, pada sela-sela diantara lingkup bangun pencakar langit. Senja baru saja lewat. Orang Jakarta kini lebih suka tinggal di sana. Apartemen namanya. Sebagai tempat pelarian dari banjir yang kian sering menyergap. Mungkin, sebagai solusi dari kondisi yang makin tak bersahabat, Jakarta kini, memang sudah tak ramah lagi, hujan yang datang sebentar saja, telah mengakibatkan genangan air dimana-mana, apatah lagi jika turun hingga dalam hitungan jam, akan menyebabkan banjir dimana-mana. Sementara, rintik hujan masih setia membasahi bumi Jakarta, tak henti dan tak kenal lelah, paling tidak untuk hari ini dan beberapa hari yang lalu. Sementara lalu lalang masih menyisakan kerumitan dan kemacetan yang belakangan ini, makin membuat krodit Jakarta.

Mas P

Acara pameran itu, usai sudah, penutupan sudah selesai beberapa waktu lalu. Aku baru saja membuka pintu kamar tempatku menginap, untuk coba merebahkan diri, melepaskan lelah, karena besok rencana akan pulang ke Tanah Air. Pameran lukisan yang diadakan di Hotel Ibis Hongkong dijalan Onham strand W yang diapit jalan Wing look street dan Queen street terbilang sukses, semuanya sesuai dengan harapanku, demikian juga sesuai dengan harapan sponsor penyelenggaranya. Apa yang menjadi idamanku selama ini terwujud sudah, demikian juga dengan nominal profit yang diharap sponsor terwujud.
Baru saja, langkah kaki ini memasuki kamar tempatku menginap. Tiba-tiba hpku berbunyi, ada sms yang masuk “Mas, saya tunggu di ruang lobby”  tertulis di HP  Sally.
Segera niat untuk merebahkan diri kubatalkan. Aku segera turun, menuju ruang lobby hotel, sebagaimana yang tertulis di pesan singkat pada HPku, tak berapa lama, aku sudah keluar dari lift dan tiba di ruang lobby. Kulihat Sally, sedang  duduk, pada ruang agak ke pojok, membelakangi arah aku datang, dekat kolam renang, ada kaca tebal yang memisahkan antara lobby dan kolam renang dimana Sally duduk. Sally tidak mengetahui kedatanganku.

Rabu, 22 Juli 2015

Mande, Aku Pulang

Kalau ada tamsil tentang gembiranya Mande, itu layaknya, seperti seorang lelaki yang telah kehilangan Untanya, lalu dia mencari kesana kemari Untanya, hingga sangat letih, hingga lelaki itu tertidur lelap dalam keletihannya. Ketika lelaki itu terbangun, ternyata Unta itu telah berdiri didepan matanya. Begitulah gembiranya Mande mendengar kau akan pulang, bahkan lebih gembira dari lelaki itu, karena Mande bukan lelaki, tetapi seorang ibu, dan kau bukan Unta, tetapi anak Mande.
Begitulah akhir kalimat Mande yang sangat aku ingat ketika, aku menelpon Mande, mengabarkan bahwa aku akan pulang. Kantor Pusat telah memutuskan untuk memutasi aku pindah ke Kantor Cabang di Bukittinggi. Pertimbangannya sangat logis dan sederhana, tenaga Ahli dengan spesialisasi yang kumiliki, cukup banyak di Surabaya, sedangkan di Bukittinggi tak satupun ada, kebetulan aku berasal dari sana, jadi kecil kemungkinan setelah bertugas setahun atau dua tahun, untuk minta dimutasi kembali ke Pulau Jawa. Mereka yakin, aku akan tetap betah untuk bekerja di kampong halaman sendiri.

Latina, Kau Tak Tergantikan

Tanah merah masih segar, kayu nisan baru saja ditanamkan, bunga melati dan mawar baru beberapa menit lalu ditaburkan diatas pusara. Aku masih berjongkok disisi kubur, ketika sebuah tangan menggapai pundakku..
“Ayo ayah, kita pulang” bisik suara anakku Lastri.
“Ya…nak” jawabku lirih, aku berdiri, mengiringi langkah Lastri. Lastri berjalan didepanku, diantara sisi-sisi makam, aku mengikuti  selangkah dibelakangnya, langkah kakiku turut mengiringinya. Air mata ini, tanpa terasa menetes.
Lastri adalah anak sewata wayang kami, hasil buah Cintaku dengan Latina. Dialah satu-satunya milikku kini, setelah beberapa saat sebelumnya Latina, berbaring untuk selamanya di tanah pekuburan yang baru saja kutinggalkan bersama Lastri.
*****

Ketika Ari Pulang Kampung

Jam menunjukkan pukul dua belas, tengah hari bolong. Mentari tepat tegak lurus di atas kepala, udara begitu cerah, tak satupun awan diatas, semua biru dilangit sana, sinar Mentari tembus tak terhalang sesuatu apapun membakar bumi. Memang di bulan Juni, sudah biasanya demikian. Kemarau ini masih akan berlangsung lama, kira-kira tiga hingga empat bulan ke depan.
Ari melambaikan tangan, menggapai sekumpulan tukang ojek yang sedang mangkal. Seorang diantara mereka mendekati Ari, agaknya tukang ojek itu sudah kenal dengan Ari
“Pulang Kang” demikian tukang Ojek
“Hehehe… iya” Jawab Ari
Ari segera menaiki ojek yang arahnya sudah diketahui oleh tukang ojek, perjalanan ini akan menuju rumah di kampung, perjalanan yang sebenarnya dengan jarak dekat, hanya delapan kilometer. Tetapi, medan yang ditempuh bukan ringan, melewati satu sungai Cikandea yang besar, Jembatan gantung dengan panjang lima puluh dua meter, dan jalan yang seluruhnya masih tanah merah.

Kamis, 16 Juli 2015

Harimau dan “Harimau”



Jam menunjukkan pukul dua siang, terik Matahari masih memancarkan sinarnya dengan garang, Medan memang panas, apa karena udara panas itu pula, maka masyarakatnya memiliki karakter yang keras. Meskipun hati mereka umumnya lembut. Kondisi mereka itu, seperti yang diistilahkan temanku sebagai “Wajah seperti Rambo, tapi hatinya seperti Rinto”.
Bus ALS jurusan Jakarta – Medan baru saja meninggalkan kota Medan. Perjalanan ini akan memakan waktu lama, tiga hari tiga malam, jika semuanya lancer sesuai rencana. Akan melelahkan dan menjemukan sekali, apalagi ini Bus Ekonomi, tanpa AC. Kita harus-harus pintar menjaga stamina dan pintar-pintar mengalihkan perhatian. Jika tidak, akan sangat meletihkan dan menjemukan.
Perjalanan ini, bagiku bukan perjalanan yang pertama, tetapi sudah beberapa kali kulakukan. Aku yang akan bepergian ke Jakarta dengan isi kantong pas-pasan tentu tidak berharap untuk naik Bus AC, apalagi bermimpi untuk naik pesawat. Bagiku, banyak alasan yang dapat  kusampaikan pada mereka yang bertanya, mengapa kok naik Bus ekonomi? Apakah tidak membosankan, apakah tidak membuang-buang waktu yang demikian lama, apakah tidak merasa terganggu dengan bau keringat penumpang ketika sudah memasuki hari kedua dan ketiga?

Guru Regar Dan Guru Manurung



Pepatah lama mengatakan, Jodoh, pertemuan, rezeki dan maut. Tak seorangpun yang tahu. Semuanya menjadi rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahui. Kita Manusia tak diberi ilmu tentang itu. manusia hanya menjalani, apa yang telah ditakdirkan padanya, kalaupun ingin merubah kondisi yang sedang dialaminya, hanya dapat dilakukan dengan Usaha dan do’a. soal hasilnya, semua bergantung pada Yang Maha Kuasa. Demikianlah, pepatah lama itu, kini benar terjadi pada diriku. Hanya beberapa saat lalu, semuanya terjadi, sesuatu, yang benar-benar diluar dugaan, diluar dari semua yang kupikirkan dan rencanakan.
Tiba-tiba, handphone dalam saku bajuku bergetar, sebuah sms masuk.

Dari Tepian Danau Sentani



Kapal Umsini baru saja merapat, Pelabuhan Jayapura ini termasuk besar, penerangan disana-sini cukup memadai, malam menunjukkan pukul 23 WIT, udara malam itu cukup cerah, ada bintang bersinar terang yang dapat kulihat, dibalik sorotnya lampu penerangan di Pelabuhan. Perjalananku ke tanah Papua ini merupakan perjalanan melelahkan. Bayangkan saja, kamis pukul 13 Kapal meninggalkan Tanjung Priok, kini Kamis malam Jum’at pukul 23, aku baru meninginjakkan kaki di Jayapura. Delapan hari sepuluh jam, lamanya perjalanan, mengarungi lautan.. Bukan main!.
Aku masih belum beranjak meninggalkan Pelabuhan, menunggu seseorang. Sesuai janji,  aku akan dijemput. Aku masih melihat ke kiri-kanan, ketika sebuah tangan menepuk pundakku. Reflek aku menolehkan wajah. Sederetan gigi putih menyeringai di depanku, kurasa hanya gigi itu saja yang terlihat putih, Martin sahabatku, seorang putra daerah Papua telah berdiri dihadapanku. aku menjabat erat tangannya.

Cintaku Di Rumah Para Dewa



Waktu  pagi belum sepenuhnya tiba, masih terang tanah, gelap belum sepenuhnya pergi, masih ada beberapa kendaraan yang menyalakan lampu kendaraan, ketika Honda CB 100ku mulai menapaki jalan daerah Baciro, lalu berbelok menuju jalan Godean, terus dan teruuuuss ke arah barat. Agak dingin memang, memang begitulah biasanya pagi di Jogya, kota Gudeg dimana aku kini masih menempuh pendidikan. Tetapi, dingin itu tidak di dalam hati ini. Pipit merapatkan tubuhnya padaku, mungkin dia merasakan kedinginan itu, atau hanya alasan untuk merasakan hangatnya tubuhku, atau…. itu hanya isyarat kalau dia ingin lebih dekat denganku, mumpung masih ada waktu. Masih ada kesempatan.
“Pit…”
“Ehmmmm”
“Pegangan yang erat, nanti jatuh” aku coba mengingatkan Pipit, lebih tepatnya sebagai isyarat padanya, kalau aku memang memberikan perhatian lebih padanya.
“yupz..” jawab Pipit singkat, secara reflek aku merasakan ada tangan kecil yang makin erat memegang pinggangku, ada tubuh kecil imut yang makin merapat ke depan, mendekapku. Sedikit kehangatan yang ditimbulkannya, mengalahkan hangatnya hati ini, di dalam dada ini.

Rabu, 15 Juli 2015

Mak Rabiah Dari Muara


Mak Rabiah kembali lagi kerumah, wajahnya terlihat murung dan sedih, sementara senja mulai menebarkan kegelapan. Segelap hati Mak Rabiah  yang kini sudah menapaki usia senjanya. Sebentar lagi, diusia senja itu, akan juga gelap, lalu orang tak mengenalnya lagi. Dia akan kembali pada sang Adzali, ditelan perut bumi.
Hampir setiap sore Mak Rabiah selalu berdiri di Dermaga Muara itu, mata tuanya memandang jauh ke tengah laut, melihat kapal yang datang. Lalu, menelisik mereka yang turun, adakah Pamenan diantara mereka. Anak itu sudah lama nian merantau, tak ada kabar berita yang dia kirimkan, apakah masih hidup atau sudah tiada. Mengapa tak juga memberi berita?.
Dari lebaran ke lebaran, Mak Rabiah selalu berharap jika saja Menan pulang. Lebaran tahun ini tak pulang, mungkin saja lebaran tahun depan, demikian berulang-ulang harapan itu, harapan yang selalu kandas, pada kenyataan, bahwa Menan tak juga kunjung menemui bundanya, Mak Rabiah.
Tapi kehadiran Menan tahun ini sudah sangat mendesak, rindu ini sudah tak tertahankan lagi, Mak Rabiah takut usianya tak ada lagi, dia ingin menutup matanya setelah melihat Menan. Kehadiran Menan juga diharapkan oleh Buya Rusdy dan Datuk Sutan. Mereka berdua itu, tokoh agama dan tokoh Adat yang mewakili pemerintah di Desanya. Kedua mereka  tak bisa mengambil keputusan hukum, tanpa hadirnya Menan. Itu karena, keinginan Mak Rabiah sudah bulat, menyerahkan satu-satu miliknya, untuk diwakafkan pada perjuangan rakyat Gaza.

Cinta yang Datang Terlambat



Jakarta yang ramai, sesak, penuh dan pengap, serta asap kenalpot Bus kota yang menyesakkan dada. Tetapi jangan bayangkan Jakarta seperti Sekarang. Jakarta tahun 1978 sama sekali berbeda dengan Jakarta tahun 2015. Ketika itu, jumlah motor masih dapat dihitung dengan jari sebelah tangan, tak ada Bus Kota AC. Yang merajai jalan-jalan di Ibu kota Negara tercinta ini, hanya beberapa merk Bus saja, seperti Bus Mayasari Bhakti, Bus Merantama dan PPD. Semuanya tanpa AC.
Memasuki Terminal Cililitan, ada rasa lega, dada ini terasa lapang.  Karena, sebentar lagi, aku akan berganti shift dengan Manulang, selanjutnya aku akan pulang ke Condet,  merebahkan badan lelah penuh debu ini. Untuk sorenya duduk di tepi jalan, sambil main catur bersama teman-teman yang masih lajang atau mereka yang jauh dari keluarga. Umumnya, karena alasan ekonomilah, mereka meninggalkan keluarganya di Kampung, Krena untuk membawa keluarga ke Jakarta, itu berarti akan menambah anggaran rumah tangga,sedang penghasilan hanya pas-pasan, agar penghasilan cukup, maka terpaksa, keluarga ditinggalkan di kampong. Atau sekali-kali godain cewek abg yang lewat. Hidup harus dibuat ringan, untuk apa dibuat ribet, buang semua beban hidup yang gak perlu. Apa yang harus dikejar? Realistis saja, bekal ijazah SMA yang kubawa dari kampung tak menjadikan aku apa-apa dan siapa-siapa di Jakarta ini. Tujuh tahun berlalu sudah, sejak aku meninggalkan kampong. akhirnya terdampar jadi kondektur Bus kota, sudah tak lagi berharap banyak, hanya jika ada keajaiban saja yang akan merubah segalanya. Tanpa keajaiban itu, apalah awak ini. Sudah dapat Makan dan membayar uang kost tiap bulan saja, sudah syukur. Untuk menikah dan berumah tangga, masih dalam khayalan. Singkat kata, aku masih lajang hingga kini. Lajang  tua yang tak laku-laku. orang kampungku menyebutnya sebagai bujang lapuk.

Aku Melamar Adikku

Kondisi  Jalan Banten Selatan (dok.Pribadi)


Perjalanan di Jalan Toll antara Bandara Soetta hingga pintu Toll Serang Timur dapat dikatakan lancar, jalanan bisa dikatakan lengang. Tak seperti biasanya, ketika hari-hari week end begini, jalanan Toll biasanya ramai, tapi untuk kali ini, hanya sebelum masuk pintu Toll Cikupa saja, agak sedikit tersendat. Selepas pintu Toll Cikupa, semuanya lancar. Di sebelahku, kulihat Paman tidur dengan nyenyak, agaknya beliau cukup lelah selama perjalanan dari Sidoarjo. Sebelum subuh, tadi pagi beliau sudah harus tiba di Bandara Juanda Surabaya, lalu dengan flight pertama, terbang ke Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta.
Memasuki pintu toll Serang Timur, Paman terbangun, kulihat agak segar beliau kini.  Paman adalah adik kandung dari Bapak, mereka dua bersaudara. Setelah Bapak berpulang keharibaanNya beberapa tahun lalu, maka Pamanlah kini, satu-satunya anggota keluargaku dari pihak Bapak, beliaulah kini yang menggantikan fungsi yang tak dapat dilakukan oleh Bapak. Tujuan perjalanan kami kini, ke Bayah, sebuah kecamatan di Lebak Selatan. Wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat dari sisi Laut Selatan. Kabupaten Sukabumi, tepatnya Pelabuhan Ratu. Paman akan melamar Icha, anak pak Andi. Untuk jadi istri, pendamping hidupku.

Selasa, 14 Juli 2015

Adik Iparku Besanku



Kalau ada lelaki yang kokoh bak batu karang, maka akulah orangnya. Bukannya, aku tak punya kelemahan, tentu saja, aku memilikinya, namanya juga manusia. Tetapi di depan Assad, aku harus bersikap dan berperilaku sebagai bapak Singa. Bahkan jauh sebelum aku memilki anak, Assad. Ayahku selalu mengingatkan akan arti namaku. Togar.Kau tahu arti Togar? Begitu selalu Ayah bertanya. Artinya adalah tegar, kokoh, bak batu karang di tepi laut. Selalu dihantam ombak dan badai. Namun, selalu saja berdiri kokoh tak bergeming. Bahkan, kau harus lebih kuat dari itu. Batu karang tak memiliki otak dan tak sekolah. Tetapi, kau memiliki dua-duanya. Itulah Ayah, selalu menjawab apa yang dia tanyakan sendiri. Jadi bagiku, perilaku  kokoh bak batu karang itu, bukan hanya di depan anakku, Assad, tetapi juga sebuah amanat yang diberikan Ayah atas nama yang kusandang.

Yang Tersisa dari Yun dan Mas.



Pagi masih menyisakan embun, ketika aku memacu kendaraan, aku ingin sepagi mungkin tiba di rumah Mas, Masdar teman satu kelas dulu, ketika di SMA.  Ada misi suci yang aku bawa, yang aku tidak ingin sampaikan pada Mas, biarlah kejutan itu berjalan alami,  tanpa rekayasa. Tanpa Mas sendiri menyadarinya.
Masih jam enam pagi, ketika aku mengetuk pintu Mas, Mas telah siap untuk meluncur, aku lihat dia hanya memakai kemeja putih dan celana Jean.  Sederhana sekali, sekaligus flamboyant. Masih seperti dulu, ketika kami satu SMA. Tak banyak yang berubah pada Mas. Tanpa banyak asesories. Kesederhanaan yang menimbulkan kesan Jantan.  Kami dulu satu sekolah, Kami yang datang dari seberang, segera akrab ditengah dinginnya kota Bandung saat itu. Tanpa, banyak prolog lagi, aku dan Mas segera naik kendaraan yang aku kendarai  sendiri. Sayup terdengar, dari tape mobilku  lagu Mus Mujiono.
Perjalan yang penuh likunya….
Kini telah tiba…
Disisimu selamanya…

Tempat Kembali Ketika Lelah




Sebuah kapal laut besar memerlukan pelabuhan besar untuk menambatkan sauhnya, untuk berhenti sejenak guna mengisi segala kebutuhan navigasi, sebelum kemudian, berlayar kembali menempuh samudra luas, sebagai kodrat yang harus dijalaninya menjadi kapal besar. Kafilah besar yang melintasi buasnya padang pasir, diantara terik matahari dan ganasnya hewan berbisa, memerlukan sebuah oase untuk istirahat sejenak, sebelum akhirnya menaklukan padang pasir buas berikutnya. Demikian halnya dengan diriku, aku juga membutuhkan sebuah tempat, untuk perhentian sejenak guna melepaskan segala jenis kepenatan sebelum akhirnya kembali meneruskan perjalanan dalam sebuah tugas besar sebagai manusia, yang ditugaskan memakmurkan jagad bumi, beserta isinya.

Tak Ada Lebaran Tanpa Puasa



Malam tanggal tua begini biasanya bulan tinggal seperti tanduk runcing,  malam-malam seperti biasanya, pada tanggal 26 ramadhan.  Tetapi malam ini, terasa lebih mencekam. Sejak sore tadi, hujan gerimis turun tiada hentinya
Bagi sebagian orang tak begitu mengganggu,  tapi bagi Haris, terasa sangat mengganggu dan mengganjal. Sesuai hasil rapat dua hari lalu, pengecoran harus selesai pada tanggal 26 Ramadhan. Itu artinya, pengecoran harus diselesaikan malam ini, tak ada kompromi dalam masalah ini.
Sejak tadi siang,  selepas tengah hari pengecoran telah dimulai, diperkirakan jika semuanya lancar, maka lewat tengah malam nanti semuanya akan selesai. Di proyek tinggal mereka berdua yang mewakili perusahaan. Haris sebagai Chieft Supervisor dan Rudi sebagai Site Manager. Sedangkan yang lain, selesai Maghrib tadi telah pulang semua. Ada yang pulang ke rumah, bagi mereka yang berdomisili di Ibu kota, ada yang langsung mudik. Tak banyak lagi waktu tersisa. Jika tak cepat-cepat mudik, maka akan mengalami krodit dijalan pantura kelak, seperti yang dialami Haris pada tahun-tahun kemarin, serta tahun-tahun sebelumnya. Semua karena dialah yang menjadi penjaga gawang terakhir, sebelum proyek ditutup sementara, untuk liburan lebaran.
Untuk para tenaga cor, tenaga yang standby  bekisting selama pengecoran, dan tenaga logistic  yang akan mudik lebaran, perusahaannya telah menyediakan bus khusus untuk mereka. Semacam bus sebesar Metro Mini.  Semua dilakukan agar pengecoran malam    ini dapat dilakukan, tanpa itu, mereka tidak bersedia melakukannya, mereka memaksa pulang mudik seminggu sebelum lebaran, lewat tanggal itu, maka akan ada biaya tambahan yang disebut toeslag. Untuk menghindari toeslag itulah, alasan mereka pulang cepat. Solusinya, mereka mau bekerja hingga malam ini, dengan konsekwensi mereka diantar pulang mudik. Untung tujuannya tak begitu jauh. Cirebon dan sekitarnya.
Menurut  perjanjian dengan perusahaan angkutan, bus akan datang jam 11 malam. Jam satu diperkirakan pengecoran selesai, lalu mereka, para pekerja bersih-bersih badan, kemudian naik bus yang tersedia, lalu tidur dalam bus dan sekitar jam delapan pagi, bus telah tiba di Cirebon. Begitu skenarionya.

Surau Imam Malik


Entah siapa yang memulai, surau Nurul Iman itu berubah nama menjadi Surau Imam Malik? Setiap penduduk yang ditanya dimana letak Surau Imam Malik, tentu dapat menunjukkan dimana letak surau itu. Tidak demikian halnya, jika penduduk Muara Batang Gadis, ditanya dimana letak Surau Nurul Iman? Kebanyakan dari mereka akan balik bertanya, Surau yang mana ya? Rasanya baru mendengar nama surau itu. Lalu mengapa pula, kok jadi bernama Imam Malik? Apakah karena Marbot Mesjid itu bernama Malik? Lalu darimana kata Imam? Apakah karena Marbot itu sering mengimami sholat di surau itu? Bisa jadi, semua jawaban itu benar. Bisa juga karena masyarakat ingin mudahnya saja. Daripada susah menghafalkan nama Nurul Iman, yang nama itu sendiri sudah tak ada yang melekat pada tubuh surau itu, maka disebutlah surau Imam Malik. Yang artinya, Surau dimana Malik suka menjadi Imam di surau itu. Mungkin saja begitu penjelasannya, Wallahu A’laam. Hanya Allah yang tahu segalanya.

Senin, 13 Juli 2015

Sang Paman



Sore baru saja meninggalkan Mayapada, semburat jingga merah masih menyisakan sedikit berkas diufuk barat sana. Kemarau tahun ini, terasa sedikit berbeda disbanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Langit selalu cerah, membuat siang seakan lebih terasa lebih lama. Karena malam tak segera mendekap gelap, masih tersisa kecerahan di ufuk barat sana. Sementara hembusan dingin angin kemarau melantakkan tubuh Indra, membuat dia dan Hasnah mengakrabkan diri dengan jaket, untuk mengusir rasa dingin yang mulai selalu datang.
Hari ini, ramadhan telah usai, selesai berbuka sore nanti, suara takbir akan mulai terdengar di surau diujung jalan ke rumah Indra. Tiba-tiba ada suara ketukan pada pintu rumah yang ditempati Indra dan Hasnah. Refleks Indra menuju pintu yang diketuk,  lalu membukanya.

Ramadhan Terakhir Reem Salih di Gaza.



 Kondisi Porak Poranda di Gaza
Sinar Matahari mencorong dengan garangnya, tanpa tedeng aling-aling, tanpa penghalang, tepat langsung menghunjam  bumi Allah, Gaza. Tak ada satupun pohon besar yang dapat mengahalangi sinar itu. Sang penguasa tunggal siang itu, membakar kulit Armand, walau tertutup baju khas timur tengah yang disebut Thawb dan kafiyeh,  serasa mutung rasanya tubuh Armand, belum lagi suhu udara siang itu yang mencapai angka 40 derajat Celsius. Hanya bangunan yang masih tersisa yang mampu menghalangi sinar Matahari. Selain itu, sinar Matahari tepat menghujam bumi Gaza.
 Armand tiba di Gaza empat bulan lalu, ketika itu dia bersama dengan tiga rekannya yang semuanya tenaga medis. Mereka berempat, semua dari Indonesia. Dikirim oleh yayasan yang peduli dengan nasib rakyat Palestina. Khususnya yang berada di Gaza. Sejengkal  tanah yang diapit oleh Mesir pada sisi sebelah barat daya, dan Israel pada Timur dan Utara, sedang pada sisi lain, berbatasan langsung dengan Laut Tengah. Negara mungil dan kecil yang kini terkenal diseantero dunia, meski luas totalnya hanya 365 km persegi, dengan populasi penduduk yang hanya sekitar 1,7 juta jiwa. Bayangkan dengan Jakarta, yang pada siang hari berjumlah 12 juta jiwa.
Armand masih ingat ketika itu, diperbatasan Mesir mereka harus tertahan dengan waktu yang tak jelas, hingga kapan. Masalahnya, mereka di curigai memiliki tujuan lain, selain untuk melakukan misi kemanusiaan. Maklum, Mesir sedang bergejolak. Presiden Moersi baru saja ditumbangkan rezim Militer. Keselamatan merekapun tak terjamin. Sewaktu-waktu bisa saja ajal menjemput. Untunglah, memasuki hari ketiga Makhmoud, relawan yang asli Gaza, berhasil meyakinkan petugas Mesir hingga mereka dapat masuk Gaza.

Resiko Aku Selingkuh



Pagi masih baru saja tiba, nampak cerah dan gembira, semburat warna keemasan nampak diujung langit, memberitahukan bahwa sang surya sebentar lagi akan menyusul menghias sang cakrawala, mengirim sinarnya untuk kehidupan semesta, semua terlihat begitu indah dan menyenangkan. Sangat kontras dengan suasana rumah tanggaku pagi ini. Suasananya begitu krodit dan amburadul. Istriku, Yulia terlihat kusut masai saja, tak biasanya dia belum mandi, kondisi yang sangat langka, sebab biasanya, sebelum subuh dia sudah mandi dan wangi, hingga ketika usai sholat subuh, disela-sela ketika dia menghidangkan kopi untukku, wangi tubuhnya sempat tercium oleh panca inderaku, harum tubuh itu pula yang terkadang menjadikan aku suka terlambat tiba di kantor, aku terkadang, tak dapat menghindar dari pesona tubuh dibalik harum wangi itu, hingga kami larut dalam lusuh, kusut masai, lalu terlempar dalam hempasan gelombang dahsyat pergumulan di pagi buta yang menggelorakan dan melelahkan, akibatnya mudah ditebak, aku terlambat tiba di kantor.

Petuah Ayah



Langit pagi ini begitu cerah, masih tersisa bintang yang kesiangan, satu dua ada yang masih  terlihat. Biru merata seputar atas langit sana, hujan telah lama tak mengunjungi  bumi di daerahku. Selesai sholat subuh tadi, sebentar aku bertadarus membaca ayat-ayatNya lalu membasuh diri. Mandi.
Aku akan pergi ke Sekolah pagi ini, kepergian yang menentukan masa depanku kelak, apakah aku lulus atau tidak. Pagi ini hari pengumuman hasil ujian SMP. Tentu akan ada yang lulus dan sekaligus ada yang tidak lulus. Aku bukanlah murid yang bodoh, ulangan mata pelajaran matematika, selalu aku dapat nilai Sembilan. Hanya sekali-kali dapat nilai delapan, tak pernah dapat nilai tujuh, tetapi semua itu, bukan jaminan kalau aku pasti lulus. Masih tersisa sedikit kegalauan dihati ini. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, bisa saja aku tidak lulus ujian.

Pesantren Tepi Danau



Tanah pekuburan itu masih merah segar. Nisan  yang ditanamkan masih berbentuk kayu, mungkin beberapa bulan lagi, baru akan kuganti dengan batu,  Hari ini, hari terakhir  takziyah, atau yang biasa  orang kampungku sebut dengan yasinan, hari ketujuh berpulangnya pak Danu seto menghadap sang Khaliq.
Besok hari, akan menjelang, rumah kami akan kembali sepi. Seperti hari-hari sebelum datangnya pak Danu. Memang, sebelum datang pak Danu, rumah ini, pernah juga sepi, setelah kematian ibu mertuaku. Namun, kesepian itu, berangsur hilang setelah pak Danu masuk, sikapnya yang hangat, mau mengerti dan membantu beberapa pekerjaan rumah, membuat semuanya perlahan-lahan menjadi ramai kembali. Awalnya, anggota keluarga ini bertiga, aku,Nurjanah Isteriku dan Mbok Tinah, mertuaku. Kemudian, setelah Mertuaku meninggal, jadilah kami berdua, lalu masuklah Pak Danu, dalam keluarga kami. Jumlahnya, kembali bertiga. Belum dua tahun setelah pak Danu hadir, giliran Nurjanah Isteriku yang berpulang menghadapNya. Penyebabnya, karena Nurjanah melahirkan. Anak yang dilahirkan Nurjanah selamat, sedangkan Ibunya tak tertolong. Kembali anggota keluarga ini tetap tiga orang.

Minggu, 12 Juli 2015

Penebusan Dosa



Penyeberangan antara Batam-Singapore bukanlah penyeberangan perdana bagiku, penyeberangan ini terlalu sering kulakukan, tiap saat, ketika ada keperluan. Tak siang tak malam. Namun, penyebrangan kali ini, agak berbeda dengan penyeberangan yang sudah-sudah. Karena Boss besarku menyuruh aku langsung datang ke rumahnya, bukan ke kantor sebagaimana yang biasa kulakukan.
Taksi yang kunaiki, kini sudah berada di West Coast Highway, kecepatannya tidak begitu tinggi, aku sengaja memperingatkan supirnya agar tidak ngebut. Prilaku yang khas pada prilaku Supir, takut ngebut ketika kendaraan tidak dikemudikannya sendiri. Ada rasa kurang percaya pada supir lain. 

Nisan Makam Mak Nan Tak Bertepi



Nas masih berdiri di geladak Tanker Minyaknya, Diatas langit sana, warna hitam terlihat paripurna. Sempurna hitam pekat. Tak ada satupun bintang tampak, apalagi rembulan, kalau saja, kapal tanker itu tak memiliki penerangan cukup, Nas tak mampu melihat apapun. Bahkan telapak tangannya sekalipun. Sempurna hitam pekat.
Hanya tiupan angin kencang, hempasan air laut yang menghempas dinding kapalnya, begitu keras, sekeras-kerasnya, seakan dinding kapal itu akan robek terurai dalam banyak keping dibuatnya. Tak ada belas kasih disitu, seolah hanya kemarahan laut yang ada, kalau saja dinding kapal itu tak terbuat dari baja, tak tahulah apa yang akan terjadi. Membayangkan hal itu, Nas jadi bergidik. Masa lalu itu, kembali hadir dihadapannya.

Merdeka Itu Disini.



Aku baru saja memarkir sepeda motor yang kukendarai, memasuki halaman rumah Haidir saja, sudah membuatku tenang. Selalu saja begitu, apakah ini disebabkan  hanya sugestiku saja, atau ada alasan yang lebih rasional, yang dapat aku jelaskan. Rumah Haidir terlihat sepi, pintunya terlihat terkunci, meskipun ruang dalamnya, lampu terlihat menyala. Aku mengira Haidir sedang pergi keluar. Kalau tidak, tentu dia akan duduk diberanda rumah itu pada jam-jam segini.
Setelah membuka helm, aku segera menuju pintu rumah dan mengetuknya, masih berharap jika Haidir ada di rumah. Tak ada jawaban dari dalam, tetapi lamat-lamat kudengar ada suara langkah menuju pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Dihadapanku berdiri Ratih, istri Haidir.
“Assalamu’alaikum..” sapaku pada Ratih.
“Waalaikum salaam. Oh.. Abang, silahkan masuk Bang” jawab  Ratih ramah. Selalu demikian, keluarga Haidir selalu ramah padaku. Bukan hanya Haidir, tetapi juga Ratih, istri Haidir.
“Mas Haidir ada Tih? Sejak sore tadi HPnya mati terus” tanyaku pada Ratih.
“Mas Haidir sedang keluar Bang, sore tadi dia pamit mau ke rumah Wignyo, tapi janjinya jam delapan sudah sampai rumah lagi, sebentar lagi juga pulang..”
“Oooo.. “
“Masuk Bang, jangan berdiri disitu aja” ajak Ratih, mempersilahkan masuk. Aku tak enak untuk masuk, rasanya ada sesuatu yang janggal, jika aku duduk di dalam, sementara suami Ratih tak ada di rumah.