Kamis, 31 Desember 2015

Refleksi Akhir Tahun 2015, Kita Hanya Pandai Bicara

Pencapaian tahun 2015, berkunjung ke Istana (dok.Pribadi)
Tulisan ini, agaknya tidak popular bagi mereka yang tersentil didalamnya. Maka, sebelum saya lanjutkan, saya terlebih dahulu, mohon dibukakan pintu maaf.
Tahun baru, hanya tinggal menghitung jam. Setelah itu, kita akan katakan pada tahun 2015, selamat tinggal dan tahun 2016 selamat datang.
Berbagai capaian telah kita torehkan pada tahun 2015, meski jujur, tentu ada perolehan yang gagal untuk kita capai.  Untuk selanjutnya, di tahun 2016. Kita berharap akan lebih banyak lagi perolehan yang akan kita capai pada tahun 2016, baik secara kualitas maupun kuantitas dengan seminimal mungkin, kegagalan yang akan menyertainya, seperti yang kita alami selama tahun lalu.
Untuk merayakan pencapaian ditahun sebelumnya, serta harapan yang lebih baik lagi ditahun berikutnya. Maka, kita  merayakan penyambutan tahun baru. Caranya bermacam ragam, ada yang keluar kota, ada yang dengan pesta pora ada pula yang merenung. Mengkalkulasi apa sebenarnya yang telah terjadi dan akan terjadi?

Selasa, 15 Desember 2015

Istana dan Cinta Istri



Iskandar Zulkarnain, Thamrin Dahlan, Isson Khaerul di Depan Istana (dok.Pribadi)

Saya baru saja mandi, siang itu. Maklum, hari itu, hari jum’at tanggal 11 Desember 2015, rencana mau berangkat ke Mesjid untuk sholat Jum’at. Tiba-tiba Ponsel saya berbunyi, tertulis di sana Nurhasanah Admin Kompasiana. Refleks saya angkat ponsel dan benar, itu suara mbak Nurhasanah Admin Kompasiana, saya kenal benar suara itu. Mbak Nur menanyakan apakah saya bersedia untuk datang ke Istana. Pada besok hari, sabtu 12 Desember 2015.
Acaranya, makan siang bersama Presiden. Sebab, Presiden yang awalnya direncanakan untuk datang ke acara Kompasianival, sedang kurang sehat. Sebagai gantinya, Presiden mengundang 100 Kompasianer ke Istana. Jika saya jawab bersedia, maka tidak bisa dibatalkan lagi. Demikian Mbak Nur. Lalu, mbak Nur membacakan syarat-syaratnya. Harus berbaju batik lengan panjang, memakai sepatu, celana berbahan dasar –Jean’s haram masuk Istana-.

Rabu, 09 Desember 2015

Indonesia Sudah Terkepung ISIS




Pelangi di Pantai Pasput Malingping. Banten (dok. Pribadi)

Keindahan memang relative, kondisi gedung tinggi pencakar langit mungkin indah bagi mereka yang sekali-sekali melihatnya. Pantai mungkin indah bagi mereka yang hidup di dataran tinggi. Demikian juga pegunungan, mungkin oase pelepasan segala rutinitas bagi yang hidup di kota sesumpek Jakarta. Semua itu, gambaran tentang keindahan.
Semua gambaran diatas tentang keindahan. Tetapi soal rasa, adalah sesuatu hasil dari pengalaman yang berulang-ulang. Sehingga, bisa dikatakan ada beda yang terbentang antara rasa dan keindahan.
Hanya mereka yang terbiasa sejak kecil, makan rendang, akan tahu apakah rendang yang dia makan saat itu enak atau tidak?  Bagaimana pula akan mengetahui nikmatnya gudeg, kalau baru mencoba gudeg. Nikmatnya rasa spaghety hanya orang Italia yang tahu. Nikmatnya Papeda hanya orang Papua yang tahu.

Cinta nan Tak Bertepi

Du Yuanfa yang setia merawat Zhou (dok.Merdeka)
Terkadang kehidupan yang sederhana justru memperlihatkan kisah cinta yang sejati.

Seorang pria renta di desa terpencil Sunjiayu, Provinsi Shandong, China, dengan tulus hati dan penuh cinta merawat istrinya yang lumpuh hingga hanya bisa terbaring di tempat tidur selama 56 tahun.

Koran the Daily Mail melaporkan, Jumat (20/11), Du Yuanfa, nama pria itu, berhenti dari pekerjaannya sebagai penggali tambang demi merawat istrinya, Zhou Yu'ai karena sakit lumpuh sejak 1959.


Senin, 07 Desember 2015

Ingin sukses? Ini syaratnya



Bukan hanya Mercy"s Kereta Kencana sekalipun bisa dibeli (Dok.Pribadi)

Banyak diantara kita merasa diri kurang sukses. Benarkah demikian? Benar. Jika, indikatornya menurut indikasi diri sendiri. Bukan seperti nilai yang disepakati bersama.
Beberapa puluh tahun lalu, ketika Ibu saya masih hidup. Adik beliau yang saya panggil dengan Paman, seorang PNS. Pernah curhat pada Ibu. Paman mengatakan pada Ibu, kalau beliau kurang sukses. Ibu hanya mendengar segala curhat Paman.  Paman mengindikasikan ketidak-suksesan beliau, dilihat dari perolehan materi yang dimilikinya, kurangnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan kurangnya teman, terutama pada tetangga dilingkungannya berada.
Di akhir curhatan Paman, Ibu menganjurkan beliau untuk berhenti jadi PNS. Menurut Ibu, dengan berhenti jadi PNS, Paman dianjurkan untuk berjualan kecil-kecilan saja di rumah, waktu yang cukup itu, gunakan untuk bergaul dilingkungannya. Tuntaskan waktu dengan lingkungan. Jika perlu, jadilah RT atau RW atau apapun itu dilingkungan tempat tinggal.

Kamis, 03 Desember 2015

Refleksi Cinta Pada Bunda



Cover Buku "Mandeh, aku Pulang" (dok. Pribadi)


Ibu adalah kata kramat bagi seorang anak.
Air dari dada Ibu, itu yang pertama dinikmati seorang anak, untuk kelangsungan hidup diri sang anak selanjutnya. Hanya seorang Ibu yang rela menumpahkan darah untuk menyambut kedatangan sang buah hati. Dengan dekapan ibu yang hangat, sang anak mampu merasa tentram ketika dunia yang baru dilihatnya demikian luas. Keluasan yang menimbulkan ketakutan. Namun, ketakutan itu, segera enyah dalam hangat dekapan sang Ibu.

Minggu, 22 November 2015

Merantau Ke Deli


Cover Merantau ke Deli (dok.Pribadi)

Merantau ke Deli, awalnya berupa cerita bersambung yang dimuat pada majalah “Pedoman Masyarakat” dan diterbitkan untuk pertama kali oleh Penerbit Cerdas Medan pada tahun 1941.
Novel yang menurut saya kaya dengan konflik. Bukan hanya, pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel Merantau ke Deli. Juga, bagaimana Buya Hamka, mengangkat konflik adat pada sang tokoh utama, Poniem dan Leman, dalam hal ini, Adat Jawa dan Adat Minangkabau. Penajaman justru terletak pada adat Minangkabau.
Adat yang terasa janggal. Bagaimana dalam masyarakat Indonesia. Umumnya,  dominan memakai sistem patriarchat, adat Minangkabau justru berdasarkan matriarchat.
Sebagai anak, dari kedua orang tua yang berasal dari Minangkabau dan lahir serta besar di “rantau”. Saya mengalami kesulitan untuk memahami konsep “Adat bersandikan syara’ dan syara’ bersandikan kitabullah”. Karena, dalam prakteknya, banyak hal, tidak sejalan dengan syara’ itu sendiri. Seperti, bagaimana garis keturunan ditentukan oleh garis keturunan Ibu, bagaimana anak laki-laki tidak mendapatkan warisan dari keluarga sama sekali. Turunan aplikasi dari kedua “adat” itu, menimbulkan banyak konflik dan itu sangat disadari oleh mereka yang “peduli” akan adat ini. Hingga, untuk meluruskan apa yang dianggap tidak lurus itu, lahirlah novel-novel yang bercerita tentang “akibat” dari adat yang dianggap “nyeleneh” itu. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk bercerita akibat yang dialami seorang anak akibat pernikahan campuran antar etnis suku, dikarenakan sistem keturunan yang didasarkan dari garis keturunan dari Ibu. Sedang Merantau ke Deli, lebih tegas lagi bercerita tentang warisan yang tak diterima oleh anak laki-laki serta apa yang akan dialami lelaki Minang di hari tuanya, jika dihubungkan dengan Adat.

Rabu, 18 November 2015

Hari Guru antara Teori dan Realita.


Kondisi Sekolah di Banten Selatan tahun 2011 (dok,.Pribadi)

Setiap tanggal 25 November, kita memperingati hari Guru. Sebagai penghargaan pada jasa-jasa yang telah diberikan oleh sang Guru. Sang Pahlawan tanpa tanda jasa, pada, kita semua. Karena Gurulah. Maka, kita sekarang menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Tanpa mereka, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Sebagai individu yang telah menerima begitu besar jasa sang Guru. Apa yang sudah kita berikan pada mereka? Sebagai sedikit “balas jasa” dari semua yang telah kita terima selama ini dari Guru.
Sebagai upaya kecil untuk membalas jasa Guru, maka saya buatlah tulisan ini.
Pada masyarakat umum, predikat Guru berlaku secara umum. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menjadikan muridnya menjadi pintar. Mampu mengerti apa yang baik, dan apa yang tidak baik. Mampu mengerti apa yang perlu untuk dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Mampu mengerti untuk menjadi sesuatu dan mampu mengetahui bagaimana untuk hidup bersama. Sedangkan aplikasinya, seorang Guru, mampu menghantarkan muridnya, untuk bagaimana melakukan semua itu. meng-ejawantah-kan semua yang diketahuinya, menjadi sebuah satu kesatuan dalam praktek kehidupan, yang kelak akan mereka lakukan, dalam perjalanan hidup sebenarnya dalam kehidupan di masyarakat.

Selasa, 17 November 2015

Kau Beda Dengan Yang Lainnya



Jika aku takut pada yang lainnya, maka aku akan menghindarinya, sebisa yang dapat kulakukan. Semua akses untuk bertemu dengannya aku putuskan. jalan untuk bertemu dengannya aku hindari. Kalau perlu, aku akan berpindah tempat, berpindah kota lain, atau kalau perlu pindah Negara lain.
Tetapi….
Jika aku takut pada Kau, aku akan menghampiriMu, aku akan menangis di haribaanMu, aku akan bersujud dan mengibakan diriku padaMu, karena aku tahu, Kau tak akan memarahiku, tersebab prilakuku. Selama aku mau takut padaMu. Akan Kulabuhkan semua rasa takutku padaMu.
Jika aku meminta pada yang lainnya, maka mereka akan member. Tetapi, hanya sedikit.  Ketika, aku meminta tambah lagi, mereka akan marah, paling tidak mereka akan menggerutu, mengatakan aku matre, tidak tahu berterima kasih, tidak tahu diuntung. Meminta sesuatu, yang diluar kewajaran dan tidak seimbang jerih payah yang kupersembahkan pada mereka dengan apa yang kuminta dari mereka.

Minggu, 15 November 2015

Ini Alasan Kenapa Jokowi Di Berhentikan



Pulang dari mengikuti upacara peringatan hari pahlawan di alun-alun Kecamatan. Kami, para pensiunan yang sudah udzur ini, merasa sedikit terhibur. Betapa tidak, sudah lama rasanya tak saling kunjung, tidak saling bertemu. Maklum, tempat kami tinggal, berada pada desa yang berlainan. Kalaupun kami saling berkunjung, biasanya selalu ditemani oleh anak, atau cucu-cucu, sesekali ditemani oleh isteri. Kenapa sesekali ditemani isteri? Karena, sang nenek lebih betah untuk bercanda dengan sang cucu, daripada menemani sang kakek ke rumah temannya.
Akibatnya, pada setiap kunjungan ke rumah para teman-teman itu, kami tak leluasa untuk bercengkrama seperti ketika muda-muda dulu. Maklum, di depan kami, ada anak atau cucu yang ikut mendengarkan segala pembicaraan, memperhatikan segala yang kami lakukan. Lebih tak nyaman lagi, kami tak dapat merokok sambil mengopi dengan leluasa. Maklum, ada cucu yang akan melaporkan pada neneknya kalau sang kakek kembali menghisap rokok. Atau ada anak yang akan melarang ayahnya untuk merokok. Untuk seusia bapak, merokok tak baik untuk kesehatan. Demikian, selalu alasan yang dikemukakan oleh sang anak. Lalu… kami dengan patuh akan mematikan rokok yang sudah terlanjur dibakar.

Jumat, 13 November 2015

Durhaka Ayah Pada Anak Dan Isteri.



Ilustrasi Ayah yang tersia-sia.

Tadi pagi saya bepergian dengan seorang sahabat. Di tengah perjalanan, saya mengisi BBM di sebuah SPBU. Ketika mengisi BBM itu, ada seorang yang jika saya perkirakan, telah berusia sekitar 60 tahun. Beliau ingin ikut dengan mobil saya, dengan menyebutkan nama daerah tujuannnya, yang kebetulan akan saya lewati. Tanpa berpikir panjang. Lalu, saya persilahkan orang tua tersebut untuk ikut. Dalam perjalanan bersamanya, tak banyak yang dapat saya ceritakan.
Setelah orang tua tersebut sampai tujuan dan turun. Sahabat saya, berkata pada saya, ”Kasihan ya, setua itu, beliau bepergian seorang diri, dan terlihat tidak memiliki biaya yang cukup untuk perjalanan itu”.
Saya menjawab ringan:”Itulah type orang tua yang durhaka pada anak isterinya, sehingga miskin di hari tuanya?”
“Kok bisa. Orang tua, durhaka pada anak dan isterinya?” Tanya sahabat saya dengan rasa penuh ingin tahu.

Selasa, 10 November 2015

4 Tahun di Kompasiana, 5 Buku Terbit.



lima buku dalam empat tahun (dok.Pribadi)

Saya mulai menulis tanggal 16 November 2011 artinya beberapa hari lagi, genap 4 tahun saya menulis di Kompasiana. Banyak hal yang dapat diceritakan selama perjalanan 4 tahun menulis di Kompasiana. Mulai dari mana saya tahu Kompasiana, tentang tulisan pertama di Kompasiana, perolehan ilmu apa yang saya peroleh selama di Kompasiana, dll.
Tetapi, pada kesempatan ini, saya hanya ingin membatasi diri pada Buku. Bagaimana akhirnya saya terjebak pada kenyataan, bahwa saya benar-benar telah melahirkan buku.

Minggu, 08 November 2015

Perjalanan Dengan KM Kelud



KM Kelud dengan segala kebesarannya (dok.Pribadi)

Sesuatu yang pernah dialami, kadang ada keinginan untuk mengulanginya kembali. Semacam reuni begitu. Begitu juga dengan perjalanan dengan kapal laut. Sekitar tahun 1984-an saya akrab dengan perjalanan dengan kapal laut, khususnya ketika masih sering melakukan perjalanan ke Indonesia bagian timur.
Penulis dianjungan KM Kelud (dok.Pribadi)
Ketika saya di Medan beberapa waktu lalu, dan memiliki cukup banyak waktu. Mengapa tidak mencoba lagi perjalanan pulang ke Jakarta dengan kapal laut. Inilah, sedikit oleh-oleh perjalanan dengan kapal laut menggunakan KM Kelud.

Sabtu, 07 November 2015

Kakek Tua dan Ayam Jago


Jenis Anjing Shih-Tzu (sumber: Google)

Kadang aku sering salah dalam melihat masalah. Apakah karena usia ini yang sudah lanjut atau karena kurang rasa syukur pada Allah yang memberikan aku usia panjang. Awalnya, aku merasa senang dengan usia panjang ini. Bayangkan saja, teman-teman di Desaku sudah pada berpulang, bahkan anak-anak mereka semua sudah pula dipanggil oleh Allah untuk menghadap padaNya. Demikian juga dengan anak-anakku, semuanya telah almarhum. Sedang aku? Meski semua rambut di kepala sudah beruban semua, aku masih sehat dan segar bugar.
Hanya, karena cucuku yang mengkhawatirkan kondisiku saja, makanya aku sekarang terdampar di kota ini. kalau tidak, maka aku masih di kampungku. Masih dengan segala kebiasaanku. Kebiasaan yang terlihat aneh dimata masyarakat kampungku. Kebiasaan berbicara dengan hewan. Tak ada satupun warga desa, percaya dengan omonganku, jika aku memiliki kemampuan untuk berbicara dengan hewan. Aku mengerti apa yang mereka katakan dan mereka mengerti apa yang aku katakan. Aku dianggap kakek tua pikun oleh masyarakat kampungku. Hanya karena kebiasaanku itu.

Kamis, 05 November 2015

Terobosan Melahirkan Budaya Menulis


Beberapa Buku Karya Penulis (dok.Pribadi)

Sudah banyak pemikiran tentang bagaimana caranya, agar lahir generasi yang “menulis minded”. Banyak tulisan tentang itu. Tema bahasan juga beragam. Dari manfaat menulis, cara menulis, dan efek luas yang dapat diperoleh oleh penulis sendiri, oleh pembaca pada umumnya. Hingga pada kesimpulan bahwa menulis dapat mempengaruhi budaya dan memajukan peradaban suatu bangsa.
Sebut saja misalnya, mereka yang mempengaruhi budaya dan kemajuan peradaban seperti, Leo Tolstoy, Shakespeare, John Steinbeck, Kalr Mark, Al Ghazali dan lain-lain. Sedangkan untuk penulis dalam negri, sebut saja misalnya, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Kartini, Muhammad Yamin, Muhammad Diponegoro, Pramoedya Ananta Toer dan masih banyak yang lain.

Senin, 02 November 2015

Hari Pahlawan Dalam Konteks Kekinian


Kebakaran Hutan, akibat salah kebijakan

Tidak seperti pada beberapa Negara lain. Hari Pahlawan, biasanya didasarkan pada hari kelahiran sang Pahlawan. Tetapi, untuk Indonesia. Hari Pahlawan, didasarkan pada peristiwa heroik yang melatar belakangi kejadian tersebut. Dengan peristiwa heroik itu. Maka, ditetapkan saat kejadian itu, sebagai hari Pahlawan. Jadi, memperingati hari Pahlawan, memiliki sifat aktif dan progresif. Kejadiannya boleh sekali. Tetapi, ruh yang melatar belakangi peristiwanya, tetap aktual untuk dijadikan spirit kedepan.

Selasa, 20 Oktober 2015

Sawarna Yang Beraneka Warna



Pantai Sawarna (dok.Pribadi)

Jika kita mengunjungi Pantai, maka dalam pikiran kita, akan terbayang indahnya Pantai yang landai, pasir yang putih dengan airnya yang jernih. Lalu, kita berlama-lama di Pantai hingga hari sore dengan harapan, akan menikmati sun set dan mengabadikan keindahan itu. Keindahan yang luar biasa. Lalu, keesokan harinya, kita akan bangun pagi-pagi sekali, denngan harapan mampu mengabadikan sun rise.
Lalu, bagaimana, jika saya katakan  bahwa ada Pantai yang tidak lazimnya, seperti gambaran yang ada diatas. Di Pantai itu, ada beberapa lokasi yang bisa untuk mandi, berenang, juga di Pantai itu, ada lokasi untuk selancar, tetapi di Pantai itu pula ada bagian yang terlarang untuk berenang. Di Pantai yang sama juga ada Gua, ada sawah yang berbatasan dengan laut dan ada karang terjal, seakan menjaga laut dari perompak yang akan datang mengganggu mereka yang sedang pesiar di Pantainya. Juga Pantai itu, dikelilingi oleh hutan lindung.

Senin, 19 Oktober 2015

Brigjen Polisi Kaharoedin Anomali Celoteh GusDur


Brigjend Polisi  Kaharoedin (sumber gambar Merdeka.Com)

Belum lama ini, dalam perjalanan jalur selatan, saya melewati Patung Polisi yang berada di sisi jalan. Teman seperjalanan saya dengan berkelakar mengatakan “Itulah prototype seorang Polisi jahat. Saking jahatnya, hingga dikutuk masyarakat menjadi batu”. Ketika itu, saya hanya tertawa. Tidak berusaha untuk memberi komentar. Karena, saya ketika itu ingat Gus Dur.
Bukankah celoteh Gus Dur, “Di Indonesia ini, hanya ada tiga Polisi jujur. Yakni, Polisi tidur, patung Polisi dan Hoegeng”. Lalu, bagaimana dengan patung Polisi yang saya jumpai di tepi jalan itu? Apakah dia sosok Polisi yang sangat jahat hingga dikutuk jati batu, atau Polisi jujur versi Gus Dur.
Ternyata, berbicara tentang Polisi tidak sesederhana seperti celoteh Gus Dur.
Masih banyak Polisi lain dengan kejujuran yang perlu diteladani. Sebut saja misalnya Soekanto, Mohammad Jasin, Anwar Maksum, Hoegeng dan Kaharoedin.

Minggu, 18 Oktober 2015

Program Bela Negara, Siapa Bela Siapa


Sebelum menerbangkan Penumpang, Pilot Menerbangkan dirinya sendiri (dok.Pribadi)

Wacana adanya bela Negara membuat heboh masyarakat Indonesia. Emang Negara dalam kondisi bahaya. Sehingga, perlu adanya mobilisasi massa untuk membela Negara yang dalam kondisi terancam itu. Apakah ABRI sebagai pengawal kedaulatan Negara tidak cukup memiliki kekuatan untuk itu?
Karena secara fisik, pengertian Bela Negara, dapat diartikan, sebagai upaya pertahanan dalam menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak luar yang mengancam ekistensi Negara. Lalu, pertanyaannya. Negara mana yang akan berpikir untuk menyerang Indonesia? Negara dengan luas wilayah yang demikian luas. Dengan kekuatan militer yang konon berada pada rangking 12 dunia. Rasanya, pemikiran akan datangnya bahaya serangan secara fisik dari luar, mustahil akan terjadi.   

Sabtu, 17 Oktober 2015

Maafkan Atau Hancur



Tiba-tiba saja, Melati, sebut saja begitu, mengajak saya mampir ke rumahnya, setelah acara halal bi halal keluarga besar itu selesai. Sebagai Abang yang dituakan, saya tentu menyanggupi. Permintaan Melati yang begitu mendesak, tentu ada yang hal yang urgen. Soalnya, ketika saya suruh ceritakan saja di acara halal bi halal itu, Melati menjawab, tak ingin merusak suasana acara. Jika  nanti, tanpa bisa ditahan, bisa-bisa menangis.
Di rumahnya, Melati bercerita, bahwa dia sedang mengajukan proses perceraian pada sang Suami. Saya diminta saran, apa saja yang harus dilakukannya setelah itu? sebisa mungkin bisa menemaninya dalam proses perceraiannya.

Rabu, 14 Oktober 2015

Hadiah Hijrah Untuk Mande


Rumah Sutan Batuah  (dok.Pribadi)

Kuhirup udara segar khas Agam, sekuat yang mampu aku lakukan, bau udara segar ini, selalu khas terasa. sebentar lagi, kurang dari setengah jam, aku akan menginjakkan kakiku di kampung. Untuk mereka yang sama-sama berasal dari daerahku, keputusan yang aku ambil kini, terasa aneh. Semua yang yang mereka impikan, bagiku bukan mimpi, jabatan dan status sosial itu, hanya selangkah lagi akan dalam genggaman. Tetapi semua aku lepaskan. Aku lebih memilih Mande. Memilih untuk kembali ke kampung. Memilih melupakan semua impian mudaku, untuk selanjutnya menemani Mande menghabiskan sisa hari-harinya di dunia.
“Coba kamu pikir lagi Man, kurang cantik apa Ida yang tergila-gila sama kamu” kata Afrizon, teman se daerahku. “IPnya hanya selisih nol koma dibanding kamu. Kamu nomer satu, sedang Ida nomer dua. Pasangan yang pas”  tambah Afrizon lagi.
“Bener juga sih” jawabku singkat, tak ingin berdebat dengan Afrizon. Sayangnya Afrizon gak tahu, bagaimana cantik-cantiknya gadis di desaku, dilereng Danau Maninjau sana.

Pesan Hijrah Untuk Jokowi

Hari ini, satu Muharram 1437 H. tahun baru Islam. Tahun  baru yang dilekatkan pada peristiwa hijrahnya –berpindahnya- Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Maka, momen penting ini, perlu diberikan pada Jokowi juga, sebagai momen penting bagi Jokowi untuk melakukan hjrah. Dari kerja yang kurang memuaskan menuju hasil yang lebih memuaskan. Menuju pencapaian yang lebih mensejahterakan rakyat.
Hijrah yang berasal kata dari Hijriah. Memiliki  arti berpindah, berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari kondisi yang kurang baik ke kondisi yang lebih baik, dari system yang kurang baik ke system yang lebih baik, kondisi kurang sejahtera, menuju lebih sejahtera. singkat kata, hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok akan lebih baik dari hari ini. Jika kondisinya stagnan, maka tidak terjadi hijrah disana.
Untuk kondisi hari esok, lebih baik dari hari ini, maka Jokowi perlu melakukan hijrah.
Konteknya dapat diterangkan sebagai berikut:

Senin, 12 Oktober 2015

Sumpah Pemuda, Sumpah Bangsa Indonesia


Pemuda Indonesia

Ketika saya menginjakkan kaki di Papua pertengahan tahuan 1984’an, seorang teman berseloroh, bahwa di Papua, ada Sapi main bola. Saya tertegun sejenak. Apa maksudnya? Benarkah ada Sapi di Papua yang dapat bermain bola. Belum sempat saya bertanya lebih lanjut, sang teman segera menjelaskannya. Begini bu, (bu dalam bahasa sehari-hari Papua, artinya Abang). Jika bu, bertanya pada seseorang “Kopi mana?” (berasal dari Kou mau pergi kemana). Maka, seseorang yang bu tanyakan tadi, akan menjawab; Sapi main bola (saya mau pergi main bola). Demikian, sang teman menjelaskan.
Saya, tertawa mendengar penjelasan sang teman, teman saya juga tertawa, di akhir tawanya ditambah dengan kalimat hahay… Belakangan saya tahu, tawa yang diakhiri dengan hahay adalah tawa ngakak.
Hari-hari berikutnya, saya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, masih di Papua. Satu hal yang membuat saya kagum. Seluruh masyarakat yang saya jumpai mampu berbicara dalam bahasa Indonesia. Meski, terkadang, bahasa yang mereka gunakan bahasa Indonesia yang terpengaruh dengan dialog lokal. Seperti sapi main bola yang saya tulis di awal tulisan.  Bandingkan dengan kondisi di Pulau Jawa. Jika kita masuk kedaerah pedalaman, sering kita jumpai mereka yang tak mampu berbahasa Indonesia. Fenomen yang lazim terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Bagaimana bisa Papua yang jauh di Timur Indonesia, masyarakatnya mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Mungkin salah satu faktor jawabannya. Inilah, hasil yang patut disyukuri dengan adanya Sumpah Pemuda tanggal 28 oktober 1928.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Saluang, Musik Yang Makin Terdesak


Peniup saluang di Rumah Makan Gunung Medan. (dok. Pribadi)

Awal tahun 1990-an musikus Kenny G begitu fenomenal, dengan irama saxophone yang dia mainkan, begitu menyita perhatian khalayak penggemar musik Indonesia. Lagu ”Forever in Love” dengan iringan saxophone Kenny G mendominasi udara indonesia. Bahkan Presiden Amerika ketika itu, Bill Clinton Mendapat Applous luar biasa ketika mampu memainkan saxophone dengan sempurna.
Awal 1992, saya mengerjakan Proyek Kilang Minyak di Indramayu, di sini saya juga mengenal irama  musik yang tidak kalah fenomenalnya, musik yang dikenal dengan Tarling –Gitar Suling- mendominasi udara Indramayu, diperdengarkan hampir setiap rumah, setiap stasiun Radio dan diputar hampir pada setiap hajatan.
Apakah musik dengan alat tiup hanya saxophone dan Suling saja? Apakah Kenny G dan Tarling saja. Ternyata tidak, di Jawa Barat ada Rebab dengan kendang dan suling, dalam Irama Dangdut, gak kebayang jadinya, kalau suling ditiadakan.

Jumat, 02 Oktober 2015

Islam Itu Nyata, Bukan Wacana


Mesjid Pakan Kamih, Agam. (dok.Pribadi)
Malam itu, sebagaimana biasa saya menghabiskan malam dengan duduk di kedai kopi. Lazimnya di kedai kopi, pembicaraan ngelantur ke sana kemari, tak tentu juntrungannya. Teman saya membicarakan tentang Islam dengan segala analisanya. Mengatakan bahwa agama Islam sangat sempurna dan tak ada yang lebih sempurna dari agama Islam. Dengan berbagai dalil yang dikemukakannya. Saya hanya mendengarkan semua paparan yang dikemukakan sang teman, tidak membantah dan tidak meng-iya-kan. Sementara teman saya yang satu lagi, asyik membantahnya. Semua yang dikatakan teman pertama, selalu dicari alasan penolakannya oleh teman ke tiga. Akhirnya, teman pertama, bertanya pada saya. Apa pendapat saya tentang yang dia kemukakan. Demikian juga pendapat saya tentang pendapat teman ketiga itu? untuk mengemukakan pendapat itu, maka tulisan ini saya buat.

Kamis, 01 Oktober 2015

Nasi Kapau, Beli Motor di Jepang




Papan Selamat Datang di Nagari Kapau (dok.Pribadi)

Ketika mengunjungi Sumatera Barat tahun 2011, saya sudah wanti-wanti sama adik, bahwa saya akan mengunjungi Kapau. Sang adik heran bercampur ingin tahu, kenapa saya ingin mengunjungi Kapau. Tokh, kalau sekedar ingin makan nasi Kapau, di Pasar Atas Bukittinggi, jumlah warung nasi yang menjual nasi Kapau cukup banyak. Lalu, apa perlunya harus mengunjungi Kapau?.
Untuk menjawab pertanyaan sang adik, saya memberikan tamsil. Jika selama ini saya membeli motor di dealer motor. Maka, sekarang saya ingin membeli motor di Jepang, Negara dimana motor itu di produksi. Demikian juga dengan Kapau, jika selama ini saya makan nasi Kapau di warung nasi Kapau, maka kini, saya ingin makan nasi Kapau di Kampung Kapau langsung. Mumpung kita masih di Bukittinggi.

Rabu, 16 September 2015

Kedai Kopi, ini Dunia Laki-laki Bung..!!!

kopi Aceh....maknyussss (dok.Pribadi)
Ketika Kompasianival tahun 2014, saya ketemu dengan Boss Penerbit Jentera Pustaka. Lelaki yang sayang keluarga dan Bapak yang baik untuk anak-anaknya. Kami ngobrol kesana-kemari, hingga beliau akhirnya bertanya tentang asal daerah saya. Ketika saya sebutkan asal daerah saya, beliau menyebutkan, jika beliau juga berasal dari daerah yang sama. Bahkan Kampung kecilnya, hanya terpisah Desa saja dengan saya.
Satu hal yang saya ingat dari pertemuan itu, beliau mengatakan, mengapa banyak penulis-penulis handal lahir dari daerah beliau? Jawabnya, dikarenakan adanya budaya “maota di lapau”.

Selasa, 15 September 2015

Yang Tersisa Pada Ramadhan di Pesantren



Ada masa ketika, kita merasakan sesuatu yang kurang nyaman, lalu dirasa berat, padahal sesungguhnya, kejadian-kejadian itu, kelak menjadi sesuatu yang begitu berarti, tak tergantikan dan tak mungkin terulang kembali. Sebabnya, mungkin saja karena kita sudah berada jauh dari lokasi yang dimaksudkan, atau memang zaman sudah berubah, hingga kita tak mungkin untuk mengembalikan jarum waktu pada ketika yang kita inginkan.
Berikut ini, hanya sepenggal kisah hidup ketika, saya menghabiskan masa-masa muda, sebagai seorang dengan idealis tinggi, ikut mencerdaskan anak bangsa jauh di sudut terjauh dari pulau Sumatera. Kejadian  yang terjadi pada saat Ramadhan, jauh dari sanak saudara, sementara santri yang akrab dengan kehidupan keseharian kita, sedang berlibur di kampong mereka masing-masing.
Sebagaimana biasa, ketika bulan Sa’ban tiba, kami warga Pesantren gembira, sibuk dengan berjibun kegiatan sekaligus sedih, gembira karena dipenghujung bulan ini, akan datang Ramadhan, bulan yang menjanjikan berbagai bonus pahala yang melimpah  dengan puncak bonusnya itqum minannar (terbebas dari api neraka), yang menurut logika agama, ketika seorang hamba terbebas dari api Neraka, maka tiada tempat lain yang akan dikunjunginya

Polygami itu Sunnah Rasul



ilustrasi Polygami (dok.Pribadi)

Belum lama ini, saya bertemu dengan seorang teman yang sudah sukses. Kami yang biasanya ngobrol di warung kopi pinggir jalan, kini berpindah ke warung kopi dengan pendingin ruangan. Tak terasa obrolan jadi ngelantur kemana-mana. Mulai dari perjuangannya meraih sukses pasca perpisahan kami yang terakhir, hingga niatnya untuk menikah kembali. Ingin menambah Istri lagi. Tokh, hal itu tidak salah, demikian penuturan teman saya, sudah ada Presedennya, sudah ada contohnya, yang dalam bahasa agama disebut dengan sunnah. Teman saya menyebutnya dengan istilah sunnah Rasul. 
Saya terkejut dengan istilah “sunnah Rasul” itu. saya katakan pada sang teman, jika ingin menambah istri. Maka, lakukan saja, tanpa ditambah dengan istilah sunnah Rasul. Tokh agama mengijinkannya dengan beberapa syarat yang mengiringinya. Tetapi, sekali lagi, kata saya, jangan gunakan istilah sunnah Rasul.
Teman saya bertanya, mengapa saya keberatan untuk menggunakan sunnah Rasul? Untuk menjawab pertanyaannya itu, maka saya buat tulisan ini.

Senin, 14 September 2015

Stasiun Binjai



Tampak Depan Stasiun Binjai (dok.Pribadi)

Binjai itu, seperti Bekasi untuk Jakarta. Kota yang mendukung Kegiatan kota Medan. Meski, bagi saya, Binjai memiliki arti dan kenangan sendiri. Banayak hal yang menyertainya, banyak kenangan yang berkaitan dengan Binjai.
Bagi mereka yang mengenal Bandung tahun 70-an, di sudut Jalan Braga Bandung, ada seorang pengamen buta yang memainkan alat musiknya, berupa Kecapi. Berbeda dengan pemain alat musik Kecapi lain, pemain musik dengan alat musik Kecapi ini, tidak memainkan lagu-lagu sunda. Melainkan, memainkan alat musiknya dengan lagu-lagu manca Negara yang sedang in ketika itu. sebut saja, judul lagu “love Hurt” oleh Nazaret, lagu “Delilah” oleh Tom Jones dan lagu Rolling Stones  seperti Paint It Black, Gimme Shelter, Sympathy for the Devil, Satisfaction, You Can’t Always Get What You Want, oleh Mick Jagger.

Minggu, 13 September 2015

Analisa Minat Baca Pemberdaya



Acara Coaching Clinic payuguban UPK&BKAD se Jawa Barat yang berlangsung di Purwakarta, dibuka oleh Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi (dok.Pribadi)

Untuk menjadi penulis yang baik, dibutuhkan banyak membaca. Sedangkan, banyak membaca belum tentu mengakibatkan seseorang menjadi penulis. Agak bingung ya?. Arti sederhana Kalimat itu, kira-kira demikian. Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus banyak membaca. Tetapi, membaca banyak saja, tidak otomatis menjadikan kita menjadi penulis. Ada syarat lain untuk menjadi penulis. Apa itu? ya banyak membaca, ya banyak menulis. Menulis tentang apa? Ya apa saja. Perjalanan waktulah, kelak yang yang menuntun “rasa” kita, kita cocoknya jadi penulis apa.

Sabtu, 12 September 2015

Karena Kompasiana, saya Eksis



acara bedah buku "Refleksi 70 tahun Kemerdekaan, Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan, Iskandar Zulkarnain, mbak Ella (dok. Pribadi)

Media sosial, sejak lama saya kenal. Namun, hanya sekedarnya. Bahkan ada kesan kurang baik yang timbul pada saya. Aneh saja, melihat teman yang asyik ber-fb-ria, seakan lari dunia nyata. Bukan untuk sesuatu yang penting-penting amat. Melainkan, hanya untuk menghindar dari beban kerja yang sudah nyata di depan mata. Lalu, apa indahnya baca berita di internet?  Jika ada Koran. Koran lebih lengkap beritanya, lebih lengkap analisanya. Jika dibandingkan dengan berita Internet, dengan berita singkatnya.

Minggu, 06 September 2015

9 Arti Ketika Tokek Bunyi Malam Hari


Tokek (sumber gambar google)

Semua kita tentu kenal dengan Tokek, minimal pernah mendengar namanya, ada juga yang pernah mendengar suaranya, ada juga, bahkan pernah  melihat bentuk fisiknya.
Tokek adalah nama umum untuk menyebut cecak besar. Ada banyak jenis Tokek. Namun istilah Tokek pada umumnya dimaksudkan dengan adalah anggota marga Gekko, suku Gekkonidae. Yang merujuk kepada Tokek rumah (gecko gecko) yang tersebar meliputi wilayah didaerah Asia Selatan, Asia Tenggara, Korea, Jepang, hingga kepulauan Solomon dan Santra Cruz di Pasifik.

Senin, 31 Agustus 2015

Kunjungan ke Mesjid Azizi Tanjung Pura Langkat



Mesjid Azizi dari Sisi Utara (dok.Pribadi)

Malam itu, sabtu malam atau malam Minggu, Taman Merdeka Medan yang merupakan alun-alun kota Medan, ramai dengan masyarakat. Alun-alun ini, sangat berbeda ketika saya tinggalkan dua puluh empat tahun silam. Pada sisi depan yang menghadap Kantor Bank Indonesia, berdiri stand jajanan kuliner. Beragam bentuknya, dari yang menyediakan menu tradisional hingga kuliner yang sedang “in” dari Manca Negara. Suasananya yang benar-benar Metropolis.

Minggu, 30 Agustus 2015

Kita Tak Butuh Jokowi


Judul diatas terasa provokatif, sepintas lalu, memang benar. Provokatif. Tapi, tunggu dulu, untuk sampai pada kesimpulan demikian, tentu ada alasannya. Maka jika anda semua sudah membaca tulisan ini seluruhnya, maka silahkan beri kesimpulan, apakah provokatif atau tidak.
Setelah Jokowi menjadi Presiden, maka seluruh kebutuhan masyarakat menjadi mahal, BBM naik, ongkos Kereta Api naik, gas Elpiji naik, harga daging Sapi naik, harga Ayam naik, harga Cabai naik, harga PLN naik dan yang paling krusial kini, yang paling membayahakan stabilitas Negara, harga Dollar naik. Lalu, apa kerja Jokowi? 

Jumat, 28 Agustus 2015

Bedah Buku “PNPM” di Kompas Gramedia.


narasumber Yusran Darmawan, Thamrin Dahlan, Iskandar Zulkarnain dan moderator mbak Ella
Hari-hari berlalu, semuanya berjalan dengan kejadian-kejadian yang menyertainya, berkelindan dengan manusia dimana hari dan kejadian itu berlangsung, semua peristiwa itu, tak akan berulang kembali, kejadiannya boleh sama, tetapi waktu yang menyertai kejadian awal tentu berbeda dengan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda. Semua itu adalah sejarah. Masalahnya, maukah kita menuliskan sejarah itu. Sejarah bukan dalam pengertian mainstream. Melainkan, dalam pengertian “kecil” yang terjadi pada sekelompok orang, beberapa orang bahkan pada satu atau dua orang saja.
Demikianlah yang terjadi pada tanggal 25 Agustus 2015, bertempat di Kompas Gramedia lantai enam, jalan Palmerah Barat. Sebuah sejarah telah ditorehkan. Sebuah buku, yang membahas tentang masalah kemiskinan, masalah masyarakat pinggiran dan masyarakat yang seakan asing bagi masyarakat Jakarta, telah dibedah dan dibahas dihadapan mereka yang menamakan diri sebagai kompasianer, para penulis atau blogger yang menuliskan buah pikirannya pada blog keroyokan yang bernama kompasiana.

Rabu, 12 Agustus 2015

Rumah Bung Hatta



Bugi yang diapakai Hatta sekolah (dok.Pribadi)

Bukittingi, yang kini dikenal sebagai kota wisata, sesunguhnya, menyimpan banyak sejarah. Apalagi, jika dihubungkan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Di  kota ini, pernah menjadi Ibu kota negara Indonesia. Mulai dari desember 1948 hingga Juni 1949. Setelah jogyakarta jatuh ke tangan Belanda.  Di kota ini juga, banyak melahirkan tokoh nasional, terutama pada awal-awal kemerdekaan. Sebut saja misalnya Bung Hatta, Bung syahrir, Agus Salim, M Natsir, Tan Malaka dan banyak lainnya. Sehingga untuk Sumatera, Bukittinggi layak disebut sebagai kota pahlawan, selain Surabaya, di Jawa Timur, tentunya. Di Bukittinggi juga terdapat jam Gadang, yang menjadi ciri khas kota di ranah minang ini. Jam gadang, juga konon, mesin mekanik penggeraknya, di dunia ini, hanya dibuat dua buah. Yang satu di Bukittinggi dan yang satu di Big Ben, Londong, Inggris.
Rumah Bung Hatta (do. Pribadi)

ISTIQOMAH



Agama Islam adalah agama yang rahmatan lil alamien, rahmat bagi seluruh alam semesta dan dapat dipahami oleh semua manusia, apapun pendidikannya, mulai  dari yang tidak sekolah sampai mereka yang bergelar professor. Rahmatnya meliputi semua tempat dan semua waktu, dari mulai Timur sampai Barat, dari mulai nabi Adam hingga ketika kita duduk di mesjid ini.  Sebagai bukti dari rahmat yang meliputi seluruh manusia itu, maka marilah kita simak ketika seorang Badui (Badui disini diidentikan sebagai orang yang berpendidikan kurang) menemui Rasulullah untuk menanyakan hakekat beragama, kata Badui itu “ ya Rasulullah, ajarkanlah padaku hakekat agama ini, sehingga aku tidak perlu bertanya lagi pada orang lain, setelah aku bertanya pada engkau ini, ya rasulullah”
lalu Rasulullah menjawab: “ katakanlah aku beriman pada Allah, kemudian beristiqomahlah kamu”.

ITU MAH RELATIF



Pada akhir februari 1992 saya meninggalkan Pinang lombang menuju ke Tanah Jawa, inilah awal perjalanan panjang yang kelak akan membawa banyak cerita. Di pinang lombang selama kurang lebih empat tahun saya berdomisili disini, tempat persinggahan yang cukup lama, karena setelah era pinang lombang ini, relatif  saya selalu berpindah tempat, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu proyek ke proyek yang lain, dari satu budaya pindah ke budaya masyarakat yang lain, dari satu kota besar ke kota besar lain, dari satu kota besar ke kota kecil, dari satu kota kecil ke kota besar yang lain, dari pulau Sumatera yang besar ke pulau Batam yang kecil.

TOBAT



Kesalahan dan maksiat, dua hal yang sangat dekat dengan kita, ketika zaman sudah begitu maju ini, maksiat dapat kita perbuat bahkan dari dalam rumah, kita tidak perlu keluar untuk sekedar berbuat maksiat, tayangan tv yang mengumbar aurat, tayangan diinternet yang akrab dengan kita,  seperti Facebook dan goggle dapat menimbulkan maksiat, bahkan paling tidak maksiat mata karena melihat aurat yang terpampang disana.

Jumat, 07 Agustus 2015

Saksi Bisu Kekejaman Rhomusa



Pondasi Jembatan Rhomusa (dok.Pribadi)

Sore itu, pada medio November 2011, saya yang baru saja mengunjungi daerah Banten Selatan, melakukan perjalanan ke Bayah, sebuah daerah kecamatan yang cukup besar. Sepanjang perjalanan dari Malingping ke Bayah yang berjarak 38 km, saya terkagum-kagum dengan pesona laut disebelah kanan jalan, lebih dari separuh perjalanan, saya disuguhi dengan pemandangan laut yang mempesona. 

Satu hal yang membuat tanya besar, adanya beberapa pondasi-pondasi jembatan yang kondisinya masih baik, serta gundukan tanah yang memanjang, hampir sepanjang perjalanan. Seluruh tanda tanya ini, akhirnya terjawab juga, ketika, seorang teman memberi tahu, bahwa itu adalah sisa-sisa jalur Kereta Api, yang memanjang dari Saketi ke Bayah, yang dikerjakan pada jaman Jepang, dan terkenal dengan kerja rodi Rhomusa.

Sampeyan Ngerti Borong? (Analisa rasa Gelisah)



Gelisah sangat manusiawi, setiap manusia mengalaminya, karena gelisah merupakan fitrah manusia, Al Qur’an sendiri mengakuinya,  dengan ayat yang berbunyi Inamal Insanu Halu’ah  (sesungguhnya manusia dalam kondisi gelisah).

Rumah Soekarno di Bengkulu



Papan nama roemah Soekarno (dok.Pribadi)

Beruntung Bengkulu pernah menjadi tempat pengasingan Soekarno. Karena, dengan sebab pengasingan itu. Maka, kota Bengkulu, selalu menjadi buah bibir yang akan selalu dibicarakan ketika kita membicarakan Soekarno.
Sebab pengasingan itu pula, first Lady pertama Negara kesatuan Indonesia ini, berasal dari Bengkulu. Di samping tentunya, keunikan-keunikan lain yang dimiliki Bengkulu. Seperti, satu-satunya wilayah di Pulau Sumatera yang pernah di jajah Inggris dan satu-satunya pula daerah di Sumatera yang tidak pernah di jajah Belanda, dalam artian, Belanda datang dengan melalui perdagangan atau peperangan.

Kembali pada jejak Soekarno di Bengkulu, selain Masjid Jamik yang merupakan karya Soekarno di Bengkulu, hal yang paling kita kenal tentang pengasingan Soekarno di Bengkulu, adalah rumah dimana Soekarno tinggal ketika mengalami pengasingan di Bengkulu. Untuk itulah, ketika saya mengunjungi Bengkulu, saya sempatkan untuk mengunjungi rumah tempat Soekarno ketika diasingkan di Bengkulu.

Karya Lain Soekarno di Bengkulu



Mesjid Jamik Bengkulu, Karya Soekarno (dok.Pribadi)

Minggu lalu, disebabkan urusan pribadi, memaksa saya untuk sampai di Bengkulu, kota yang terkenal dengan nama bunganya yang fenomenal, bunga Raflesia. Sebelum sampai di Bengkulu yang terbayang di kepala saya adalah Benteng Malborough dan sekelumit kisah romantis Soekarno di Bengkulu, ingat…. Soekarno pernah di buang oleh Belanda disini, kemudian mengajar di Perguruan Muhammadiyah Bengkulu, di samping membentuk dan memimpin group tonil Monte Carlo dan tentu saja tetap melanjutkan perjuangan untuk Indonesia Merdeka. Saya sebut sebagai kisah romantis Soekarno, karena di Bengkulu ini, Soekarno mengenal gadis cantik anak tokoh Muhammadiyah, yang kelak menjadi istri beliau, yang dari Rahimnya pula kelak lahir seorang Presiden Indonesia Perempuan pertama yang bernama Megawati…..wanita cantik itu bernama Fatmawati yang dalam catatan sejarah Indonesia,  Fatmawati lah yang menjahit Bendera Pusaka Indonesia yang dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Ternyata, dugaan saya tak seluruhnya benar. Masih ada karya lain soekarno di Bengkulu, yakni sebuah Masjid yang  bernama Mesjid Jamik Bengkulu.

Janda….. Memang Kenapa?



Maha suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatunya berpasangan, ada wanita ada pria, ada siang ada malam, ada yang menikah ada yang janda atau duda………
Lalu kalau ada Janda…, memang kenapa? Tokh tidak seorangpun wanita yang ingin menjadi Janda. Konsekuensi yang ditimbulkannya sungguh berat, dalam segala hal, baik secara material atau spiritual.
Janda adalah sebuah predikat bagi seorang wanita  yang tak lagi bersuami, baik karena ditinggal mati oleh suami atau akibat dari perceraian. Dalam kehidupan social predikat janda cerai menimbulkan “hambatan psikologis” dalam kehidupan sehari-hari. Karena cerai, umumnya diasumsikan sebagai langkah akhir dari sebuah peristiwa huru-hara dalam keluarga.

Aceng yang gak (ng)Aceng lagi



Saat ditanya pendapatnya soal ancaman Aceng, Ahmad Heryawan terlihat santai.
"Silakan saja dia laporkan saya. Ini kan negara hukum. Semua punya hak. Semua sesuai mekanismenya, apa keputusannya, kita lihat nanti," kata Ahmad Heryawan  di Jatinangor, Bandung, Minggu 6 Januari 2013. (Vivanews)
Paragraf diatas, adalah pernyataan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan ketika ditanya wartawan tentang bagaimana reaksi beliau ketika dilaporkan oleh Aceng (Bupati Garut) ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) terkait pernikahan kilat Aceng.
Sebenarnya, menulis tentang Aceng, sesuatu yang basi, telah banyak tulisan tentang Aceng, diberbagai media online dan media cetak serta media elektronika, dari segala sisi telah ditulis, tapi dengan perlawanan Aceng terakhir, mengadukan Gubernur ke PTUN dan

Kamis, 06 Agustus 2015

Jam Gadang, Icon Bukittinggi

Pagi itu udara sejuk Bukittinggi, menyapa lembut kami sekeluarga, setelah sarapan pagi ketupat (kalo di Jakarta, disebut ketupat Padang), kami mulai bergerak menuju Jam Gadang, karena waktu masih pagi, kami tidak terlalu tergesa-gesa untuk sampai di Jam Gadang.
Jam Gadang yang menjadi Icon kota Bukittinggi ini dibangun pada tahun 1926 oleh seorang arsitek bernama Yazin Abidin (Angku Acik) yang berasal dari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Dan Sutan Gigi Ameh.
Jam Gadang ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur atau sekretaris kota Bukittinggi pada masa pemerintahan Hindia Belanda