Selasa, 11 November 2014

Nisan Makam Mak Nan Tak Bertepi


Nas masih berdiri di geladak Tanker Minyaknya, Diatas langit sana, warna hitam terlihat paripurna. Sempurna hitam pekat. Tak ada satupun bintang tampak, apalagi rembulan, kalau saja, kapal tanker itu tak memiliki penerangan cukup, Nas tak mampu melihat apapun. Bahkan telapak tangannya sekalipun.
Hanya tiupan angin kencang, hempasan air laut yang menghempas dinding kapalnya, begitu keras, sekeras-kerasnya, seakan dinding kapal itu akan robek dibuatnya. Tak ada belas kasih disitu, seolah hanya kemarahan laut yang ada, kalau saja dinding kapal itu tak terbuat dari baja, tak tahulah apa yang akan terjadi.
Tapi bagi Nas, semua punya arti khusus. Arti yang tak mudah untuk dijelaskan, bahkan untuk menceritakan peristiwa itu sendiri, sudah sulit, apalagi memindahkan rasa yang dirasakannya pada lawan bicaranya. Itu sebabnya, Nas tak pernah menceritakan arti perairan Masalembo ini pada anak buahnya. Yang anak buah Nas ketahui, hanya perilaku Kapten Kapalnya saja. Sang Kapten akan selalu berdiri di geladak setiap kali kapal mereka melewati perairan Masalembo.
Nas masih berdiri di geladak kapalnya, memperhatikan perairan Masalembo itu, pandangnya jatuh sepanjang perairan itu, karena persis tempatnya Nas tahu, begitu panjangnya Nisan makam Mak, sepanjang perairan Masalembo. Memang ada angka yang menunjukkan bahwa posisi perairan Masalembo itu berada pada 114º25’60”BT - 5º30’0” LS, tetapi angka itu, tak mampu menunjukkan posisi persisnya dimana Mak di makamkan.
Berdirinya Nas di geladak, semacam bentuk ziarah seorang anak pada makam Ibunya, sebuah bhakti cinta sang anak pada sang Bunda. Sebagai ilustrasi penyesalan yang tak berujung sudah, ketika Nas tak mampu memegang tangan Mak, sehingga Mak terlepas, dan tak pernah Nas lihat lagi setelah peristiwa itu.
*****
Tut…tut..tut..suara itu berulang-ulang memekakkan gendang telinga Nas,  antara sadar dan tidak, suara itu kembali terdengar. Mimpi itu, menakutkan Nas, Kereta Mak Hitam* itu terus saja melaju, tak mengurangi sedikitpun kecepatannya. Nas yang berada ditengah jembatan itu panik. Jika tak segera mengambil langkah penyelamatan, Nas akan tertabrak Kereta Mak hitam, jika mengambil penyelamatan, bagaimana caranya?. Dibawah sana hanya ada air yang sangat dalam, berarus deras. Menghindari  dari arus deras dan dalam, itu berarti menyongsong Mak hitam yang sebentar lagi menghantam dirinya. Tak ada jalan, Nas segera melompat, menjemput air dalam dan berarus kencang….. aaaaargh.
Tiba-tiba…..sejenak sebelum tubuh Nas menyongsong air,  muka Nas telah tersiram air duluan. Nas gelapan, minta tolong dengan sekuat suara yang dapat diteriakkan. Sesaat kemudian, sebuah tangan, menggoyang-goyang tubuh Nas.
“Nas..Bangun. kau mimpi ya?” suara itu sangat jelas, suara Emak.
“Astaghfirullah… ya Mak, Nas mimpi, ngeri banget, Nas rasanya mau ditabrak Mak hitam, waktu Nas masih ditengah jembatan” jawab Nas. Mak hanya senyum, tak mengomentarinya. Mak terlihat telah  memakai mukena, itu artinya waktu subuh telah tiba.
Telah menjadi kebiasaan Mak, beliau bangun sebelum subuh, lalu mengerjakan sholat tahajud, berdo’a dengan panjang, setelah subuh tiba, Mak akan membangunkan Nas. Lalu mereka berdua akan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Nas yang anak laki-laki semata wayang Mak akan menjadi Imam Sholat Subuh.
“Sudah subuh, ambil wudhu ya Nas,..Mak tunggu”. kata Mak, lalu Mak melanjutkan sholat tahajudnya, Nas yang belum pulih benar dari mimpi menyeramkan itu, lalu segera mengambil wudhu. Tak ingin rasanya membiarkan Mak menunggu lama, atau kalau masih sempat, rasanya ingin ikut tahajud juga, walau dua rakaat sekalipun.
Baru saja, Nas akan melaksanakan tahajud, suara adzan subuh  terdengar, itu artinya Nas harus berhenti, menunggu selesai adzan, lalu mengerjakan sunah subuh sebelum mengerjakan subuh berjamaah dengan Mak.
***** 
Kepulan asap masih menari-nari dari gelas yang berisi kopi, Mak Nampak kurang sehat pagi itu, jika sudah demikian kondisinya, maka tugas Nas lah, ke pasar sendirian. Biasanya jika Mak sehat, Nas akan membonceng Mak dengan sepeda peninggalan Bapak, membelah jalan tanah menuju pasar dalam kondisi pagi yang masih terang tanah, beberapa tetes embun masih bertengger di dedaunan yang kadang tersenggol oleh Nas, pada kelokan jalan menuju pasar di daerah Nas. Atau pada jalan yang menurun, sejurus menjelang sepeda tua itu  tiba di pasar. Lalu, setelah membantu Mak, menata  jajanan pasar yang ditunggu Mak, Nas akan pergi ke sekolah Menengah Pertama satu-satunya yang ada di daerah itu. Ketika siang, jam sekolah usai, kembali Nas menjemput Mak, untuk kembali ke rumah.
“Nas, Mak kurang sehat, kau bawalah dagangan itu, titipkan saja di warung Mak Khadijah” pesan Mak, Mak Khadijah, adalah pedagang di pasar yang membuka kedai nasi, biasanya, kalau Mak kurang sehat, dagangan panganan jajanan pasar Mak akan dititipkan pada Mak Khadijah, atau sisa dagangan jajanan pasar yang belum juga habis ketika Nas pulang sekolah akan dititipkan Mak pada Mak Kadhijah.  Tentu harganya jadi berkurang, karena semua orang tahu, berapa biasa Mak menjual jajanan itu, sementara Mak Khadijah juga perlu dapat keuntungan. Selisih dari keuntungan yang diambil Mak Khadijah itulah yang akan Mak terima esok harinya.
“Iya Mak…” jawab Nas singkat, sebentar lagi, setelah sarapan, Mak akan membekali Nas sebungkus nasi untuk  dibawa sekolah dan sekotak besar  jajanan pasar yang akan dihantar pada Mak Khadijah. Dari berjualan jajanan pasar itulah, mereka berdua hidup.
“Mak gak apa-apa sendiri di rumah?”
“Gak apa-apa Nas, pergilah, jangan kuatir tentang Mak, kita sebenarnya, tak pernah sendiri. Selalu ada dua malaikat yang menemani kita, selalu ada Allah tempat kita curhat” Mak menguatkan Nas, agar jangan mengkhawatirkannya.
“Nas tahu itu Mak, tapi Mak sedang sakit” tak tega rasanya Nas meninggalkan Mak sendiri. Ingin rasanya Nas hanya mengantarkan jajanan pasar itu saja, lalu kembali lagi pulang menemani Mak, jika saja ini bukan hari terakhir Ulangan semester pertama SMP Nas di kelas tiga. Tapi begitulah Mak, pendiriannya teguh, Mak sudah mengatakan kalau Mak tidak pernah sendiri, ada Malaikat yang menemaninya, ada Allah tempatnya Curhat. Nas hanya bisa berharap agar tak ada sesuatu yang terjadi pada Mak.
*****
“Assalamu’alaikum”…. Nas sengaja mengeraskan suaranya, ada sesuatu yang lain di ruang tamu, diatas meja, ada buah apel, siapakah yang membawa buah kota itu? Orang kampung Nas, kalaupun menjenguk Mak, tentu tak akan membawa buah kota, mereka paling membawa buah Jambu air, atau paling tinggi membawa krupuk sanjai**. Nas langsung masuk ke kamar Mak, dilihatnya Mak sedang sholat, lalu siapakah yang membawa buah kota itu?
“Nas…” suara Mak memanggil Nas, sesaat Nas hendak keluar dari Kamar Mak
“iya Mak..” sahut Nas, Nas berbalik, menuju tempat Mak, Mak masih bersimpuh di tikar sembahyangnya.
“Pamanmu Leman datang tadi Nas, sekarang beliau lagi pergi mandi di Tabek Gadang*** kau gorenglah Ikan Bilih**** itu, kasi sambal, beliau sangat senang dengan sambal ikan Bilih itu..”
“Iya Mak.. sama siapa beliau datang?” tanya Nas lagi, Nas sebenarnya tidak begitu mengenal Paman Leman, karena ketika beliau berangkat merantau ke Makasar, saat itu, Nas masih kecil, Paman Leman adalah adik dari almarhum Bapak Nas.
“Sendiri Nas. Beliau sudah jadi orang sukses, rumah makannya di Makasar sudah tiga, agaknya, beliau sudah sulit untuk mengunjungi kita dikampung,  makanya beliau bermaksud mengajak kau dan Mak untuk ikut beliau di Makasar” kata Mak lagi, menjelaskan tentang Pamannya, Leman.
“Mak mau diajak ke Makasar?” tanya Nas lagi, agak aneh saja, kalau Mak mau, bukankah di negeri Ranah Minang ini, Wanita adalah tiang negeri, yang merantau itu, hanya para lelaki. Sedangkan kaum wanita menjaga dan menjadi taing negri, bagaimana jadinya, jika sebuah rumah tanpa tiang.
“Tadinya mak tidak mau, biarlah kau saja yang ikut beliau ke Makasar. Disana kau akan disekolahkan beliau, kalau kau tetap di kampung, akan jadi apa? Lagi pula,budaya kita, laki-laki harus merantau dulu, mencari ilmu sebanyak-banyaknya sebelum kembali lagi kelak ke kampung..” 
“Kalau Nas pergi sendiri, bagaimana dengan Mak?
“Nah..pertanyaan ini sudah Mak duga, maka demi Nas, supaya bisa sekolah lebih tinggi, makanya Mak mau diajak ke Makasar, Mak harap kau juga mau, semua demi masa depanmu Nas..”
****
Udara malam itu sangat cerah, dilangit nampak ditaburi bintang, Mak tertidur dengan lelap, tak ada yang menyangka jika takdir membawa Nas dan Mak akan berkunjung ke Makasar, atau lebih tepatnya pindah ke Makasar, menyongong masa depan yang lebih cerah, karena di Makasar lah kelak, Nas akan dapat melanjutkan pendidikan. Tak disangka, adik Bapak, Paman Leman begitu perhatian pada Nas. Pada masa depannya, semuanya untuk membangkitkan batang terendam keluarga kita…begitu Paman Leman menyebutnya. Surabaya telah siang tadi mereka tinggalkan, Nas masih ingat, siang tadi, 24 Januari 1981 pukul sepuluh lewat dua belas menit,  ketika Kapal Tampomas II bertolak, meninggalkan Pelabuhan Tanjung Perak. Diantara penumpangnya ada Nas, Mak dan sang Paman, Leman. 
Di samping Nas, ada seorang yang sebaya dengan Paman Leman, Pak Kasman. Beliau akan ke Goa, setelah mengunjungi kerabatnya di Mojokerto.
“Nas di Makasar tinggal dimana?” tanya Pak Kasman
“Persisnya kurang tahu Pak, saya baru pertama ini ke sana, tapi kata Paman di daerah Maccini.” Jawab Nas.
“Baru naik di Surabaya tadi ya?” tanya Pak Kasman lagi.
“Tidak pak. Kami naik dari Tanjung Priok. Kemarin siang”
“Emang dari mana nak Nas?”
“Dari Sumatera  Pak..”
“oooo…kapten kapal ini juga dari Sumatera lho, dari Bengkulu..”
“Kok, Bapak tahu?”
“Dari ABK yang kasitau Bapak, kebetulan dia,masih kerabat Bapak” jelas Pak Kasman..
Tiba-tiba Nas melihat Paman Leman tergegas menuju mereka…wajahnya terlihat kalut..
“Nas, Pak Kasman…… Ayo siap-siap, ada kebakaran di Kamar Mesin” kata Paman Leman.
“Sudah bisa di padamkan pak?’ Tanya Pak Kasman pada Paman Leman..
“Justru karena tak bisa dipadamkan, makanya kita diminta untuk siap-siap, menghadapi segala kemungkinan” jelas paman Leman.
Perkembangannya begitu cepat. Dalam sekejap saja, semua penumpang sudah ribut, kalang kabut, api sudah semakin besar di lantai bawah, dibeberapa tempat di geladak sudah terasa panas, penumpang berlari kesana-kemari menghindari lantai yang mulai membara. Paman Leman memberesi barang-barang yang dianggap penting saja, sementara Nas melindungi Mak, menuntunnya, menjaga harta yang sangat berharga baginya, demikian sebaliknya Mak.
Mak dan Nas sudah terjun ke laut, mereka beruntung mendapat potongan kayu yang cukup besar untuk digunakan sebagai pelampung. Tampomas II sudah mulai memerah ditelan sang jago merah, manusia berhamburan ke laut, sementara jerit dan pekik masih dapat di dengar Nas. Sementara di laut, ombak begitu besar, angin sangat kencang, satu-satunya penerangan hanya dari Tampomas II yang sedang terbakar. Suasana benar-benar krodit, tak ada kalimat yang pas dan mampu untuk menggambarkan kejadian yang sesungguhya.
Tiba-tiba sebuah ombak besar, menghantam balok kayu pelampung Nas, pegangan Nas pada Mak terlepas, Nas menjerit sekuatnya, memanggil Mak, tak ada jawaban atau balasan dari Mak, masih sempat Nas melihat Mak sejauh tiga meter dari kayu pelampungnya, setelah itu….Mak hilang terbawa ombak yang datang berikutnya. Itulah terakhir kali Nas melihat Mak.
****
Nas tersadar di Rumah Sakit di Surabaya, tak ada lagi Mak, tak ada lagi paman Leman, tak jadi kaki Nas menginjak Makasar.
Di Surabaya semuanya dilanjutkan, hingga peruntungan juga yang akhirnya menjadikan Nas seorang Kapten Kapal di Kapal Tanker Minyak itu….
Note:
1.     Kereta Mak Hitam, sebutan untuk Kereta  Api yang menggunakan Uap, sebagai tenaga penggeraknya. Lokomotifnya  yang berwarna hitam, karena itu  orang kampong Nas  menyebutnya sebagai Mak Hitam
2.     Kerupuk sanjai, adalah kerupuk yang terbuat dari ubi singkong, diberi garam dan irisan daun jeruk, kerupuk ini, adalah krupuk khas Bukittinggi.
3.     Tabek Gadang adalah tempat mandi, semacam pemandian umum, untuk laki-laki, umumnya tidak mandi di rumah, tetapi di Tabek Gadang
4.     Ikan Bilih adalah ikan yang hanya ada di perairan Danau Singkarak, besarnya hanya sebesar jari kelingking pria dewasa. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar