Kamis, 20 September 2012

Analogi Salah Kaprah


Jika kita melihat acara live di tv, terutama pada acara yang membahas soal politik, ekonomi dan sosial budaya, banyak ilmu yang dapat kita petik, wacana-wacana bernas, pemikiran-pemikiran cerdas serta analisa nan detail dari para pakar, sehingga dapat memperkaya pengetahuan kita, membuka cakrawala berpikir kita, sehingga acara-acara ini, pada sebagian masyarakat menjadi acara paforit yang selalu ditunggu dan disimak dengan cermat, seperti misalnya Indonesia lawyer Club, Bincang-bincang, Interview tokoh, debat terbuka dan banyak lagi acara yang serupa.
Tapi…..tak ada gading yang retak, banyak juga sisi lemah acara ini, terutama pada tokoh yang sering salah menganalogikan suatu hal yang dianggap baik di suatu negara agar segera ditiru di negara kita, agar kita juga dapat menjadi baik seperti Negara yang dijadikan analog.
Beberapa diantaranya, ketika seorang tokoh tua membandingkan soal lalu lintas masa kini dengan ketika Belanda masih menjajah negara kita, sepintas analogi bagus, tetapi jika kita mau sedikit saja kritis, analog tokoh tua ini sungguh menyesatkan, sisi kajian tidak semudah analogi demikian, Jumlah kendaraan antara dua zaman tersebut sangat jauh berbeda, Jumlah penduduk sudah sangat berbeda, kondisi panjang jalan sudah jauh berbeda, bagi mereka yang berpikiran ekstreem akan segera mengambil kesimpulan singkat, mengapa tidak kita panggil saja Belanda untuk menjajah kita kembali, sebuah analog dan kesimpulan yang amburadul.
Ketika membahas kegagalan kepemimpinan SBY, seorang tokoh menganalogkan dengan keberhasilan Soeharto, lalu pertanyaannya yang sesuai dengan pernyataan ngawur tokoh tadi, kenapa tidak kita angkat lagi Soeharto sebagai Presiden?
Ketika membahas kemiskinan, seorang tokoh menganalogikan harga beras, sebagai indikasi kemakmuran, menurut tokoh kita ini, makin tinggi harga beras, maka makin makmur sebuah Negara, sebagai contoh, harga beras di jepang sudah pada harga 36 ribu perkilogram, maka Jepang dikategorikan sebagai Negara makmur, Thailand harga beras sudah 26 ribu/kg, pertanyaan ngawurnya, kenapa tidak kita naikkan saja harga beras hingga 36 ribu perkilogram, agar kita sama dengan Jepang???
Ketika membahas masalah HAM, seorang tokoh dengan penuh rasa kagum dan analogi nya yang ngawur, menjadikan Amerika Serikat sebagai pendekarnya, lalu seorang teman yang duduk disebelah saya dengan semangat pula, menganjurkan agar kita segera menganeksasi Malaysia, Singapura, Papu dan Timor Leste sebagaimana yang diperbuat Amerika Serikat terhadap Afganistan, Irak  dan negara-negara lain di Timur Tengah agar kita menjadi negara yang dianggap menghormati dan menghargai HAM........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar