Sabtu, 20 Mei 2017

Benteng Vredeburg Menggenggam Jogyakarta Dalam Satu Ruangan

Penulis di depan Benteng Vredeburg (dok.Pribadi)
Selesai acara Indonesia Community Day  2017  yang berlangsung tanggal 13 Mei 2017, pertanyaan berikutnya, apa yang menjadi pertanda, jika telah mengunjungi Jogya? Kalo sekedar cindera mata, rasanya kok standard banget. Sebagai pertanda yang lain, maka dibuatlah tulisan ini.
Jogya, sebenarnya bukan sesuatu yang asing, kota ini pernah begitu akrab dengan saya, selain Bandung. Jika ditarik garis lurus antara Tugu Jogya dan alun-alun Kidul. Maka, lokasi diantara kedua tempat itu, akan kita jumpai Kraton Yogya dan Jalan malioboro. Sementara sisi luar perpanjangan dari Tugu Jogya akan terdapat Gunung Merapi dan sisi luar alun-alun kidul akan terdapat Pantai Parang Tritis yang berada di bibir laut selatan Jawa.
Begitulah, ketika wisatawan mengunjungi Jogya, obyek yang menjadi perhatian mereka, hanya sepanjang garis lurus yang saya gambarkan diatas. Gunung Merapi, Tugu Jogya, Kraton Yogya, Malioboro, alun-alun kidul dan berakhir di Pantai Parang Tritis.
Tentunya selain wisata budaya dan kuliner Jogya yang terkenal itu. Gudeg.!
Lalu, dimana letak Benteng Vredeburg? Pertanyaan yang sering membuat kening yang ditanya berkerut. Dimana ya? Seakan akrab ditelinga, tapi dimana persis letaknya? Atau beberapa diantara yang ditanya tahu lokasinya. Namun, belum pernah mengunjunginya.
Jika, kita berjalan sepanjang Jalan Malioboro sebagai icon Jogyakarta ke Arah alun-alun,  sesaat setelah melewati pasar Bringharjo, maka selesailah Jalan Malioboro. Lalu, kita segera masuk Jalan A Yani, pada jalan ini, di sisi sebelah kanan jalan, terdapat Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Jogyakarta. Nah, diseberang bangunan itulah terletak Benteng Vredeburg.  
Keterasingan Benteng Vredeburg dari perhatian masyarakat, menunujukkan bagaimana tidak perdulinya masyarakat akan nilai sejarah sebuah kota dan museum. Padahal, jika saja, perjalanan wisatawan dimulai dari Benteng Vredeburg. Maka, separuh “tentang” Jogya telah selesai. Karena Benteng Vredeburg, sejak 28 Oktober 1998 fungsi Benteng Vredeburg telah dirubah menjadi museum. Peresmian alih fungsi menjadi museum itu, ditandai dengan penanda-tanganan prasasti oleh Prof.DR. Edi Sedyawati.
Sesungguhnya, proses menuju perubahan fungsi Benteng Vredeburg menjadi museum, merupakan sebuah proses panjang. Dimulai dengan ide yang dilahirkan pada tulisan-tulisan ki Hajar Dewantara sebagai ilmuan dan Bapak Taman Siswa.
Akhirnya, pada 9 Agustus 1980 ditandai dengan terjadinya penanda tanganan kesepakatan antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX  dan Dr.Daud Yusuf menjabat sebagai mentri Pendidikan dan Kebudayaan.
Sisi dalam area Benteng Vredeburg (dok.Pribadi)
Profil Benteng Vredeburg.
Sekilas, Benteng yang berada di pusat kota Yogya ini, mirip dengan Benteng Roterdam yang berada di Makassar. Jika Benteng Roterdam berada di tepi laut diasumsikan untuk menangkal serangan yang datang dari laut. Maka, dengan asumsi yang berbeda, Benteng Vredeburg dimaksudkan untuk melindungi Kraton Jogya dari serangan musuh dari luar Jogya. Atau, bisa jadi sebagai sarana untuk mengawasi pergerakan Kraton Yogyakarta.  Hal itu, dapat dilihat dari jaraknya yang hanya dipisahkan dengan jalan raya antara kedua tempat dan dalam radius jangkauan tembak meriam Belanda saat itu. Benarkah asumsi demikian?.  Wallahu A’laam.
Sejarah Benteng Vredeburg dimulai setelah terjadi gempa dahsyat di Jogya pada 1867. Pada peristiwa gempa besar ini, beberapa bangunan besar seperti Gedung Residen, Tugu Pal Putih, dan Benteng Rustenburg rusak berat.
Pada lahan tempat berdirinya Benteng Rustenburg, kembali dibangun Benteng yang lebih kokoh dan modern. Benteng baru inilah, kelak diberi nama sebagai Benteng Vredeburg. Berarti “Benteng Perdamaian” dengan tafisran, bahwa antara kesultanan Yogyakarta dan Pihak Belanda tidak saling serang.
Meski berjulukan sebagai Benteng perdamaian. Namun, dalam sejarah pemakaian Benteng, Benteng ini tak terlepas dari gejolak zaman yang terjadi saat itu. Belanda menggunakan Benteng ini untuk menahan para pejuang kemerdekaan. Ketika Jepang datang ke Indonesia dan mengalahkan Belanda, Jepang, juga menggunakan Benteng Vredeburg sebagai tempat “tahanan” bagi Belanda. Demikian juga, terhadap pejuang-pejuang  kemerdekaan Indonesia.
Setelah kemerdekaan, TNI pernah menggunakan Benteng Vredeburg sebagai barak Militer. Konon, beberapa tahanan yang diduga sebagai anggota dari Partai Komunis Indonesia, juga ditahan di  Benteng Vredeburg ini.
Diorama perjuangan Pangeran Diponegoro (dok.Pribadi)
Benteng Vredeburg saat ini.
Seperti sudah disinggung diatas, sejak 28 Oktober 1998 fungsi Benteng Vredeburg telah berubah fungsi menjadi museum. Untuk mengetahui Jogya, terutama tentang masa lalu dan sejarah Indonesia umumnya, sangat bijak jika kita mengunjungi museum Benteng Vredeburg. Ibaratnya, museum Benteng Vredeburg menggenggam Jogyakarta dalam satu ruangan.
Beberapa peristiwa yang terjadi di Jogyakarta yang kemudian memiliki gaung nasional dapat dilihat di museum Benteng Vredeburg. Sebut saja, sejarah berdirinya pergerakan Muhammadiyah, diorama yang digambarkan pada museum Benteng Vredeburg sangat jelas terlihat, sejarah berdirinya Taman Siswa, Serangan Umum 1 Maret 1949, Kisah perjuangan Pangeran Diponegoro,  sejarah berdiri Universitas Gajah Mada yang sangat erat kaitannya dengan Kraton, Koran perjuangan  “Kedaulatan Rakyat” beserta mesin cetak pertamanya merk Heidelberg juga dapat kita lihat disini. Demikian juga Peristiwa heroik  di Lanud Maguwo beserta patung Abdurahman Saleh.
Akhirnya, naiklah ke Benteng di Pasar Ngasem, maka anda akan melihat Keraton dan Jogya dari atas. Masuklah ke ruangan dalam museum Benteng Vredeburg, maka anda akan menggenggam Jogya dalam satu ruangan dari masa lalunya.
Sisi lain Benteng Vredeburg  (dok.Pribadi)



Jumat, 19 Mei 2017

Wulan anak SMA Stella Duce itu.

 Benteng Vredeburg (dok. Pribadi)
“Mas, Wulan mandi dulu.. yang sabar ya Mas” begitu tulis Wulan di WA ku sore itu.
“Ok, acaranya Cuma sampai jam sepuluh malam lho” jawabku dengan WA dari ponselku.
“Iya, Mas. Wulan paham kok, sebelum Maghrib Wulan sudah di tekape” balas Wulan lagi.
“Ok, Mas sabar nunggu, asal pasti datang” jawabku.
Tak ada jawaban. Phonsel aku masukan kembali ke saku baju. Mungkin Wulan langsung mandi
******

Kamis, 18 Mei 2017

ICD Yogya, Mengapa di Pasar Ngasem

Pasar Ngasem (dok.Pribadi)
Jum’at Pagi itu, jam baru saja menunjukkan pukul Sembilan lewat enam menit. Saya tergopoh-gopoh memasuki halaman Bentara Budaya. Tak ingin tertinggal rombongan, tepatnya menjadi orang yang ditunggu rombongan karena terlambat datang. Acara pagi itu, kami, kompasianer Jakarta, dengan difasilitasi Bus Wisata oleh Admin Kompasiana akan menuju kota Yogyakarta untuk menghadiri ICD (Indonesian Community Day) yang bertempat di Plaza Pasar Ngasem Jogyakarta dengan mengambil tema “inspiraksi”.
Ternyata, saya bukan satu-satu yang terlambat, sesuai waktu yang disepakati pukul Sembilan pagi. Masih ada beberapa teman kompasianer yang lain di belakang saya.

Setelah diabsensi oleh Mbak Yayat sebagai Pilot dan Mas Rahab sebagai co Pilot, Bus dengan perlahan berangkat menuju Jogyakarta. Eeeng..ing..eng.. Yogya, I am coming.


BUMDes dan Philosofi Amputasi Kaki

Langkah kaki (Sumber gambar pixabay)
Beberapa tulisan saya belakangan ini bercerita tentang BUMDes. Ide besarnya bagaimana sebuah BUMDes dibentuk dan dikelola. Tujuannya, bagaimana menghindari beberapa kejadian tentang gagalnya BUMDes karena pembentukannya yang tidak benar. Apakah itu, disebabkan oleh karena prosesnya, atau karena latar belakang pembentukannya, bias juga karena kesalahan cara berpikir dalam memandang sebuah BUMDes.
Akibatnya, beberapa BUMDes hanya berumur seumur jagung saja. Tidak lebih dari tiga bulan, bahkan kurang dari itu. Beberapa yang lain, disamping berumur seumur jagung, juga meninggalkan utang yang tidak sedikit.
Akibatnya, muncul reaksi yang cukup keras dari beberapa pembaca. Mereka menghendaki,  agar pelaku yang telah merugikan BUMDes, segera diusut dan diberikan sanksi berat.
Reaksi demikian, sepintas terlihat baik dan sangat wajar. Bagaimana tidak, untuk pencuri ayam atau sandal jepit saja, sanksi  hukuman yang mereka terima cukup berat. Setelah dipukuli massa, lalu dijatuhi hukuman tiga hingga enam bulan.