Senin, 08 Agustus 2016

Danau Kelimutu, Tempat kembalinya Para Arwah

Danau Kelimutu siang itu, berwarna hijau. (dok.Pribadi)
Perjalanan nan tertunda mengunjungi Danau Kelimutu, akhirnya tiba juga. kunjungan ke Kelimutu akan dilakukan pada Minggu dinihari. Schedulenya, berangkat jam 3 dini hari dari Mbay. Ibu kota Kabupaten Nagekeo. Flores, NTT.
Begitulah, kenyataannya saya dan sang adik akhirnya berangkat jam 3.10 menit. Menjelang memasuki kota Ende, kami melakukan sholat subuh dan sarapan pagi. Tak perlu tergesa-gesa, rencanya sebelum jam delapan pagi, kami akan tiba di Danau Kelimutu. Justru yang perlu dijaga menyiapkan kondisi fisik, agar kuat menaiki sejumlah bilangan anak tangga menuju Danau Kelimutu, yang menurut info yang kami terima dengan jumlah yang cukup banyak. Untuk itulah, sarapan pagi perlu kami lakukan.
Belum berapa lama kami meninggalkan Ende, kami dikejutkan dengan melenggangnya Babi ditengah jalan. Tanpa takut pada kendaraan yang lewat dan tanpa tali pengikat. Adik yang duduk di sebelah saya, mengatakan memang hewan Babi di daerah ini, dipelihara dengan cara dibebaskan saja, berapa meter setelah kejadian pertama, kembali saya melihat, ada sekeumpulan anak-anak Babi, ada enam anak Babi sedang bercengkrama di tepi jalan. Sayang, ketika akan saya abadikan, mereka segera lari, tinggallah saya yang hanya melongo.

Jumat, 05 Agustus 2016

Kota Bajawa. Kota Dingin Nan Damai, di FLORES, NTT

Gereja dan Mesjid saling berhadapan di Bajawa (dok.Pribadi)
Jika saja saya tak mengunjungi kota Bajawa, tentu saja anggapan bahwa Flores daerah yang panas dan gersang, akan saya sepakati. Namun anggapan demikian, seakan sirna ketika minggu diakhir Juli 2016 saya mengunjungim Bajawa.
Awalnya, sejak dari Mbay, ibu kota kabupaten Nagekeo, yang merupakan Kabupaten pecahan dari Kabupaten Ngada, yang Ibu Kotanya Bajawa, udara terasa demikian panas dan kering, hingga saya tiba di Mataloko.  Udaranya menjadi sejuk, hingga tidak salah jika di Mataloko ada sekolah Seminari, sekolah yang dipercaya sebagai sekolah Seminari kedua di tanah air setelah sekolah sekolah Seminari Mertoyudan, Yogyakarta sebagai sekolah Seminari pertama di Indonesia.
Gapura Selamat Datang di Bajawa (dok.Pribadi)
Adik yang duduk di sebelah saya mengatakan bahwa, Bajawa adalah sebuah kota yang berhawa sejuk. Sama seperti Bandung di Jawa Barat, Bajawa di kelilingi Bukit dan di lereng Gunung Inerie, sehingga berbentuk kota bak sebuah kuali dan sang kota berada di dasar kuali. Udara yang dimiliki Bajawa, juga sesejuk kota Bandung, demikian adik saya memberi info tentang Bajawa pada saya, siang itu.
Tak memerlukan waktu lama, sekitar sepuluh menit melewati Mataloko, sang adik meminta saya melongok ke  arah kanan jalan, dan benar. Di Bawah sana, terletak sebuah kota, kota Bajawa. Tidak membuang waktu, saya segera meng”abadi”kan view Bajawa yang sedang terbentang dihadapan saya, saat itu.
Kota Bajawa dari atas (dok.Pribadi)
Memasuki kendaraan, sang adik melanjutkan, bahwa di tengan kota Bajawa, Mesjid Agung tepat berhadap-hadapan dengan Gereja Protestan. Mereka Nampak akur, demikian celoteh sang adik. Hahaha… karena dinginnya udara, makanya mereka tak ingin berjauhan, jawab saya pula, menimpali celoteh sang adik. Kami semua tertawa.
Benar, ternyata lima menit kemudian, saya menyaksikan sendiri Mesjid dan Gereja salin berhadap-hadapan, hanya dipasahkan jalan yang lebarnya kurang dari enam meter. Sebuah pemandangan yang langka, mengisyaratkan sebuah pesan bisu, bagaimana rukunnya antar umat beragama di kota Bajawa.
Nama Bajawa, menurut sejarahnya berasal dari kata Bhajawa, salah satu dari nama Kampung terbesar dari tujuh kampung yang berada di sisi barat kota Bajawa. Tujuh kampung yang disebut “Nua Limazua” tersebut adalah Bhajawa,Bongiso, Bokua, Boseka, Pigasina, Boripo dan Wakomenge.
Kantor Bupati Ngada di Bajawa (dok.Pribadi)
Sedangkan sebagai ibu kota Daerah tingkat dua Ngada, didasarkan pada Undang-undang nomer 69 Tahun 1958, tentang Pembentukan Daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat II Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, tanggal 12 Juli 1958. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 20 Desember 1958.
Seorang adik lain, putra NTT yang bersama saya siang itu, menyatakan bahwa sejak dia tahu, kota Bajawa tidak mengalami kemajuan yang berarti. Itu artinya, sejak empat puluh tahun terakhir, Bajawa mengalami stagnan dalam perkembangannya. Meski pendapat demikian tidak seluruhnya benar. Sepenglihatan saya, di sebelah Utara Pusat kota, sedang dibangun Kantor DPRD yang cukup refresentatif, Posisi Kantor DPRD itu, tepat di seberang kantor Bupati Ngada Jl.Soekarno-Hatta no.1. Di sebelah kantor DPRD, juga ada kantor Pos yang cukup baik kondisinya.
Gereja Khatolik Mater Boni Concilii di Bajawa (dok.Pribadi)
Di selatan pusat kota, berada lokasi kota yang dibangun Belanda. Di sana ada, alun-alun dengan view yang sungguh cantik. Pada Sisi barat alun-alun, ada gereja khatolik Mater Boni Concilii,  sedang sisi selatan ada Kapolres, yang dulu dilokasi yang sama pernah berdiri bangunan pemerintahan colonial belanda.
Sebagai kota yang berhawa sejuk, Bajawa juga sebagai tempat istirahat mereka yang ingin berlibur, sekaligus juga tempat transit dan bermalam mereka yang mengunjungi obyek wisata yang berada di kabupaten Ngada, NTT. Seperti kampung Bena dan Riung.
Alun-alun kota Bajawa (dok.Pribadi)
Siang itu, kebetelan hari minggu, saya berkesempatan melihat kaum ibu yang pulang dari Misa di gereja khatolik Mater Boni Concilii. Banyak diantara ibu-ibu, masih menggunakan kain tenun khas Ngada, Flores. Bentuknya seperti kaun sarung dengan corak tenun khas Ngada. Perpaduan antara gaya modern dengan busana yang masih kental dengan tradisi local Ngada, Flores.
Penulis dengan latar Belakang Gunung Inerie yang mengayomi Bajawa (dok.Pribadi)
Rasanya, tidak lengkap mengunjungi Flores, jika tidak mengunjungi Bajawa. Kota Afdeling yang dulu, digunakan belanda sebagai pusat Administrasi kebun sekaligus kota peristirahatan yang berhawa sejuk.
Kaum Ibu Pulang Dari Gereja dengan Kain Tenun Ngada (dok.Pribadi)




Selasa, 02 Agustus 2016

Kampung “Megalitikum” Bena, Flores. Nan Eksotis

Kampung Bena, dilihat dari Utara ke Selatan (dok.Pribadi)
Selesai dengan kegiatan di Seminari Mataloko, perjalanan diteruskan ke Bajawa. Tidak memerlukan banyak waktu, akhirnya urusan di Bajawa selesai.
Waktu baru menunjukkan pukul satu siang. Lalu kemana selanjutnya? pilihan akhirnya jatuh, pada kampung Bena. Sebuah perkampungan Megalitikum yang terletak sekitar 19 km selatan Bajawa. Tepatnya berada di desa Tiwuiwu, kecamatan Aimere, kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Ada dua pilihan jalan, satu jalan yang tidak begitu berliku, namun ruas jalannya sangat sempit, sehingga jika berpapasan dengan mobil yang lain, akan membuat jantung berdegub kencang, tersebab di kiri-kanan jalan, jurang terjal yang landasannya tidak terlihat. Sementara pilihan kedua, agak jauh dengan jalan berliku dan tikungan tajam, dengan kontur naik turun, tetapi ruas jalannya cukup lebar. Ketika kami, tanyakan pada beberapa pemuda yang bertemu di pinggir jalan, mereka menyebut jalan berliku naik turun itu sebagai “jalan Gajah”.

Senin, 01 Agustus 2016

Seminari Mataloko, Yang Menyejukan dan Mencerahkan.

Penulis di Depan Asrama Seminari St Yohanes Berkhmans Mataloko (dok.Pribadi)
Sabtu sore itu, ada rencana berkunjung ke Danau Kelimutu. Semua rencana kunjungan sudah dipersiapkan matang. Kamera, kendaraan, perbekalan. Termasuk jam berangkat dari Nagekeo. Agar tiba di Kelimutu jam enam pagi, kami berencana berangkat jam tiga pagi.
Namun, ditengah persiapan pergi malam minggu itu. Ada berita, ada hal yang lebih urgent untuk dikerjakan di Bajawa. Maka, berubahlah arah perjalanan, dari awalnya ke Kelimutu menjadi ke kota Bajawa. Tak  ada masalah, dua-duanya belum pernah saya kunjungi.
Perjalanan pagi itu, seperti perjalanan hari-hari sebelumnya, kendaraan asyik meliuk-liuk mengikuti jalanan yang tak pernah lurus, berbelok ke kiri dan kanan, mengikuti alur perbukitan sepanjang perjalanan. Di sisi jalan yang satu jurang, sementara sisi jalan yang lain tebing, tanpa pagar pengaman, kecuali tanaman perdu. Sungguh “ngeri-ngeri sedap”. Gambaran singkatnya seperti perjalanan di daerah Puncak plus jurang menganga. Dan itu, terjadi sepanjang perjalanan. Semantara di setiap keloknya Gunung Inerie terlihat selalu mengawasi perjalanan kami.