Selasa, 21 Februari 2017

Monumen Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Terawat Baik.

Monument Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (dok. Pribadi)
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, memiliki arti tersendiri pada saya. Beberapa kebetulan terjadi. Kebetulan yang pertama, saya orang Minang, dan Buya Hamka, sang pengarang, juga orang Minang. Sehingga, beberapa istilah yang sulit dimengerti oleh mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Minang, bagi saya mudah untuk dimengerti.  Kebetulan yang kedua, lokasi peristiwa para tokoh dalam novel  Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck  terletak tidak jauh dari rumah orang tua di kampung. kebetulan yang ketiga, saya membaca novel ini berulang-ulang.
Ketika usia saya beranjak 24 tahun, saya diajak Ibu “pulang kampung”, inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah kelahiran kedua orang tua. Tanah leluhur. Ranah Minang. Sejak tiba di Ranah Minang, seluruh alur cerita dalam  Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menghantui saya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menapaki daerah-daerah yang disebutkan dalam lokasi Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Mulai dari Batipuh, kota Padang Panjang, Stasiun Padang Panjang. Hingga, ketika tahun awal 80’an saya berdomisili di Jakarta, saya tetap mengejar sang idola. Buya Hamka.
Dua Mesjid yang sering saya datangi, Mesjid Al-Azhar Kebayoran Baru di Jakarta Selatan dan Mesjid Munawarah di Kampung Bali, Tanah Abang. Jakarta Pusat. Mungkin, salah satu alasannya, karna Buya Hamka sering mengisi pengajian didua mesjid diatas. Demikian kuatnya, ingatan akan “Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, sehingga dipertengahan tahun 2015, ketika saya mengunjungi Bojonegoro, saya sempat berputar-putar di pantai Rembang, untuk mencari monument tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Ternyata, pencarian itu salah. Pada saat rehat, saya sempatkan googling lokasi Monumern. Ternyata lokasinya di Lamongan.

Sabtu, 11 Februari 2017

Dengan Korupsi Terlihat Lebih Cerdas.

Uang 100 ribu, alat pembayaran yang sah (dok.Pribadi)
Di zaman yang jungkir balik ini, apa yang tidak terbalik. Semuanya terbalik. Apa yang dulu dianggap baik, mungkin saja kini sudah berubah menjadi tidak baik. Paling tidak, terlihat tidak cerdas alias bodoh.
Jika dulu, suami malu jika isterinya memiliki penghasilan lebih besar dari dirinya. Lalu mencari jalan, guna menambah penghasilan tambahan. Paling tidak, berusaha untuk tidak memakai penghasilan dari isterinya. Biarlah penghasilan isteri, digunakan oleh sang isteri atau anak-anak saja.
Begitu juga, suami tidak akan mengizinkan isteri pergi jauh merantau, hanya untuk mencari nafkah. Namun, hal demikian, kini bukan sebuah perbuatan yang tabu lagi. Kepergian jauh isteri, tidak akan membuat suami kehilangan muka, atau merasa malu. Bahkan sebaliknya. Bangga!!!. Apa yang perlu dimalukan, jika lahan pekerjaan untuk suami memang tidak ada. Sedang kesempatan kerja bagi seorang isteri terbuka lebar. Padahal, keberlangsungan kehidupan ekonomi keluarga harus tetap berjalan. Maka, kesimpulan singkatnya. Silahkan pergi. Carilah nafkah, hingga ke Arab sekalipun. Untuk  menjaga anak di rumah. Jangan kuatir. Ada suami yang akan menjaga. Memasak dan ngerumpi tentang kondisi sekitar, untuk diceritakan pada isteri, ketika isteri pulang kelak.

Kamis, 09 Februari 2017

Lebak, Derita Tiada Akhir

Kondisi Jalan Negara di Desa Cilangkahan Lebak 
Syahdan, seorang anak lelaki kecil di daerah Lebak bernama Saijah kecil yang menyayangi kerbau miliknya seperti sahabat sendiri. Namun, Sayangnya kebahagiaan itu tak bertahan lama. Berkali-kali kerbau milik Saijah diambil paksa oleh orang-orang suruhan Bupati Lebak dan Demang Parungkujang, yang masih terhitung kemenakan dari sang Bupati. Tak ada rakyat yang berani melawan.
Pemerasan ini terjadi terus dan terus. Hingga akhirnya Ayah Saijah tidak memiliki apa-apa lagi. Semua harta kekayaannya habis diperas oleh Bupati Lebak dan Demang Parangkujang. Ibu Saijah terpukul atas perlakuan semena-mena yang menimpa anaknya. Dia sakit, hingga akhirnya meninggal.
Sepeninggalan istrinya, ayah Saijah stres. Dan meninggalkan kampung halamannya. Sebabnya, Ayah Saijah tidak dapat membayangkan bagaimana kemarahan sang Demang jika dirinya tidak mampu membayar pajak. Ayah Saijah pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Dalam kesedihan, Saijah tumbuh menjadi seorang pemuda. Lalu, pemuda tanggung itu, menjalin kasih dengan Adinda, sahabat yang dikenalnya sejak kecil. 

Senin, 06 Februari 2017

FPI, Memang Harus Dibubarkan



Setelah era PKS yang top markotop, kini posisinya diduduki oleh FPI, apapun tulisan tentang FPI, apapun yang dilakukannya selalu salah, dengan seribu macam alas an. kesimpulan yang melekat padanya selalu salah.
Sama Halnya dengan PKS, para kritikus yang menyalahkan FPI, tidak jauh-jauh amat dengan mereka yang menyalahkan PKS. Maka, sah-sah saja, jika ada istilah hater pada PKS, tidak  salah-salah amat, jika ada hater pada FPI. Kedua hater itu sama dan sebangun. Sama-sama membenci PKS dan FPI.
istilah yang digunakan juga, mirip-mirip seperti yang dilekatkan pada PKS, pembuat onar, anarkhis, bahlul, anak buah Arab, onta Arab dll. Mereka yang menulis tentang FPI, juga sama dengan PKS, dianggap tidak netral, pengekor Arab, memiliki faham wahabi, yang memaksakan ideology agama dalam kancah politik  dan tidak rasional. Disaat yang sama, tulisan tentang PKS dan FPI sealalu ramai pembacanya.