Jumat, 29 Juli 2016

Gua Jepang Rane, Mbay. Flores.

Penulis di depan Plank Nama Goa Jepang Rane. (dok.Pribadi)
Pagi baru saja menunjukan pukul Sembilan. Namun, panas sudah sangat menyengat, saya yang baru dua hari di kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo merasakan panas yang sangat. Kemarin, saya ke Mouponggo, kota kecil di pesisir laut di balik Gunung Abolobo di kecamatan Boawae. Mouponggo udaranya cukup nyaman, saya rasa, hal itu, disebabkan karena daerah Mouponggo berada di kaki Gunung Abolobo. Berbeda sekali dengan kondisi Mbay pagi itu.
Baru saja mau pergi keluar, sang adik datang dengan senyum khasnya, mengajak saya jalan. Kemana? Tanya saya. Jalan saja, lihat-lihat Mbay, demikian jawabnya.
Jadilah perjalanan pagi itu, kami menyusuri jalan arah utara. Menyusur daerah subur yang dipenuhi dengan tanah persawahan.  Tanah persawahan yang airnya berasal dari Bendung Sutami Mbay. Saya seakan terbawa pada suasana Pantura di Pulau Jawa dengan areal persawahan luas nan  datar, yang membedakannya, hanya udara yang menyengat. Matahari yang mencorong diatas sana, sangat jagoan, tanpa awan yang menghalanginya.

Senin, 25 Juli 2016

Bendung Sutami di Mbay, Antara Harapan dan Tantangan

Bendung Sutami Mbay (dok.Pribadi)
Bencana tak selamanya membawa kerusakan an sich. Dibalik bencana, ada sesuatu pesan yang dapat diambil hikmahnya. Letusan gunung Berapi misalnya, akan diikuti lahar dingin. Tahukah kita semua apa itu lahar dingin? Itulah…. material pasir dan sirtu yang diantarkan oleh Sang Gunung Merapi ke pemukiman penduduk, untuk digunakan sebagai material pembuat infra struktur dan bangunan yang sempat porak poranda dengan kualitas nomer wahid.

Masalahnya, maukah kita memanfaatkan kejadian yang seakan memporak porandakan itu, menjadikannya sesuatu yang memiliki nilai manfaat. Melakukan sesuatu yang membawa perubahan ke arah lebih baik bagi masyarakat luas.
Prasasti Banjir besar tahun 1973 (dok.Pribadi)
Demikianlah yang terjadi di Mbay, Ibu kota dari Kabupaten Nagekeo. Flores. Bencana banjir bandang yang terjadi pada 29 April 1973, nyaris menenggelamkan Nagekeo, setelah terjadi hujan terus menerus selama tiga hari tiga malam. Meluluh-lantakkan seluruh wilayah yang dialirinya, menghanyutkan rumah warga, lahan pertanian, sawah, ternak penduduk dan menelan korban jiwa hingga 20 orang tercatat meninggal.

Belajar dari bencana yang terjadi, maka pemerintah ketika itu berniat membuat Bendung dengan tujuan agar dapat mengendalikan air dan menyalurkannya secara teratur dan kontinyu untuk dapat digunakan pada lahan persawahan yang awalnya hanya sawah tadah hujan.

Minggu, 24 Juli 2016

Menapaki Jejak Soekarno di Ende.

Penulis di depan papan nama situs Bung Karno (dok.Pribadi) 
Jam menunjukan pukul 15.20 Wita ketika peswat ATR menjejakkan kakinya dilandasan Bandara Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Satu-satu penumpang turun, termasuk saya. Hanya dalam hitungan kurang setengah jam, seluruh penumpang sudah meninggalkan Bandara. Pesawat ATR hanya pesawat kecil saja, jumlah penumpang yang kurang dari enam puluh orang, ditambah Bandara Ende yang kecil pula, dengan landasan pacu yang hanya kurang lebih seribu seratus meter, plus keramah tamahan dan kesigapan awak Bandara, membuat semuanya selesai dalam sekejap.
Semua penumpang sudah pergi, sementara yang menjemput saya belum datang. Tepat di depan saya, ada Pos Polisi Bandara berdiri, ada Polisi dengan pangkat Kuning empat, dari nama yang tertampang saya tahu beliau dari Bali. I Made.....

Sabtu, 02 Juli 2016

Hasil Test PD Profesional 2016, Harus Tanya Kemana?

Logo Kemendesa (dok.Pribadi)

Perekrutan tenaga Pendamping Desa, membuat sejarah baru. Baru pertama kali terjadi dii Republik ini. Seluruh proses perekrutan PD menggunakan tekhnologi IT terbaru. Semuanya dilakukan terpusat, dilakukan oleh Seknas tanpa melibatkan Satker di Provinsi yang sangat berkepentingan terhadap tenaga hasil perekrutan kelak. Tetapi, malah melibatkan kalangan kampus yang notabene awam tentang pemberdayaan.
Bayangkan, untuk Negara seluas Republik Indonesia, dengan panjang wilayahnya setara dengan akumulasi seluruh Negara Eropah dijadikan satu. Lalu, Seknas dengan percaya diri melakukan proses perekrutan sendiri. Prestasi yang luar biasa. Perlu diacungi jempol.
Konsekuensinya, jika terjadi kesalahan disana-sini. Maka, hal itu dapat dimengerti.
Saya tidak ingin memaparkan apa saja kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Panitia Rekrutmen PD, selama proses perekrutan. Biarlah semua itu, menjadi pengetahuan seluruh peserta rekrutment PD saja. Sayangnya, ada kesalahan yang fatal, yang merugikan peserta. Sehuingga nasib peserta dipermainkan hanya karena “salah Input”.