Selasa, 17 Januari 2017

Puncak Kefasihan (Resensi Buku )

Cover “Najh al-Balagah” (dok.Pribadi)
Diantara keempat sahabat Rasulullah Sallalahu Alaihi was salaam nan bergelar Khulafa’ ar-Rasyidun, Abu Bakar Siddiq, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan dan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Maka hanya Ali Bin Abi Thalib lah yang meninggalkan buku untuk kita. Buku yang menjadi buah karya Ali Bin Abi Thalib, bukan hanya isinya yang bernas dengan berisi multi disiplin ilmu yang ditinggalkannya, seperti soal-soal individu, sosial dan hubungan antar manusia. Tetapi, bahasa yang digunakannya, dengan bahasa yang sangat mengagumkan. 
Demikian tingginya isi kitab warisan sayidina Ali Bin Abi Thalib, yang disusun oleh Sayid Syarif Radhi (ulama terkemuka di bidang sastra dan Fiqih abad 4 H), hingga dianggap sebagai warisan umat setelah Al-Qur’an dan Hadist nabi.
Dalam kitab Najh al-Balagah begitu komplet masalah dibahas secara tuntas. Mulai dari Tauhid, tentang sifat-sifat Tuhan, fiqih, tafsir, hadist, metafisika, profetologi, imamah, etika, filsafat, social, sejarah, politik, administrasi, hak dan kewajiban warga, sains, retorika, puisi, literature dll. Seluruhnya dipaparkan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan susunan bahasa yang indah. Karenanya, Buku Najh al-Balagah pantas jika dinamakan sebagai buku Puncak Kefasihan.
Nahjul Balaghah merupakan kitab yang berisi khotbah, surat dan ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib yang penuh makna dan hikmat. Demikian tingginya, nilai khotbah yang disampaikan oleh Abi bin Abi Thalib, hingga satu abad kemudian setelah berpulangnya Sayidina Ali, khotbah-khotbah itu menjadi kajian yang tak habis-habisnya, disitir dalam banyak  khotbah, dipelajari dalam filsafat tauhid, dijadikan pembangkit watak mulia, mengarahkan pada arah takwa, pada kebenaran dan keadilan. Sebagai seni berretorika, seni berbahasa dan bahan kajian mendalam tentang nilai kandungan sastra yang dikandungnya. Bahkan, diyakini bahwa ilmu nahu syaraf dilahirkan dari buah karya Ali Bin Abi Thalib ini. Seluruh kandungan Najh al-Balagah terdiri dari 239 khotbah dan 79 surat.

Minggu, 15 Januari 2017

Ali Bin Abi Talib (Resensi Buku )

Cover Ali Bin Abi Talib (dok.Pribadi)

Judul                  : Ali Bin Abi Talib
Penulis               :  Ali Audah
Tanggal Terbit     :  Oktober 2003
Penerbit              :  Litera AntarNusa. Jakarta.
Tebal Halaman     :  X + 493 hlmh

Ali termasuk salah satu dari sepuluh sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang dijamin masuk Syurga. Kecerdasan Ali diakui oleh Nabi. Hanya dia diantara Khulafa’ ar-Rasyidun yang meninggalkan sebuah karya monumental, “Nahj al-Balagah’.
Sejarah membuktikan, bahwa Ali adalah tokoh muda pemberani masa itu. Sebagai tameng hidup nabi, pada saat nabi melakukan hijrah. Membuat ciut nyali musuh dalam beberapa peristiwa penting. Serta penakluk benteng Khaibar. Kontroversi tentang dirinya pun, tak kalah hebatnya, pengangkatan ke-khalifah-an setelah nabi, kematian Ustman bin Affan, pemberontakan dua kelompok  oposisi, Aisyah dan Mu’awiyah hingga terbunuhnya Ali di tangan Ibnu Muljam seorang Khawarij.
Biografi hidup Ali Bin Abi Talib, yang ditulis Ali Audah, sebagaimana yang digaransi oleh penulisnya, InsyaAllah bersih dari segala kepentingan dan tidak memihak salah satu kelompok manapun, karena ditulis berdasarkan sumber-sumber sejarah yang kuat dan dapat dipertanggung jawabkan. Bukan hanya bersifat deskriptif melainkan juga berdasarkan study analitis. Sejak kelahirannya hingga dewasa, sampai beliau tutup usia. Semuanya dikupas tuntas disertai analisa yang  tajam.
Ali adalah tokoh yang menarik untuk ditelaah, kedudukannya secara kekeluargaan yang dekat dengan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai sepupunya yang telah diasuh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sejak kecil, dibesarkan dalam didikannya bersama Khadijah, sehingga Ali memandang keduanya sebagai orang tuanya sendiri.

Senin, 09 Januari 2017

Tentang Kamu (Resensi Buku )

Cover “Tentang Kamu” (dok. Pribadi)

Judul                  : Tentang Kamu
Penulis               :  Tere Liye
Tanggal Terbit    :  Desember 2016
Penerbit             :  Republika. Jakarta.
Tebal Halaman   :  VI + 524 hlm

Sir Thompson menelpon Zaman Zulkarnaen, tentunya mustahil seorang Sir Thompson, akan menelpon langsung sepagi itu dan langsung pada zaman Zulkarnaen jika tidak ada “situasi khusus”. 
Setengah jam kemudian, telah berkumpul di ruang khusus Thompson & Co para lawyer utama, pertemuan itu, dipimpin langsung oleh Sir Thompson. Masalah yang dibahas sangat krusial.
Salah satu klien besar firma hukum telah meninggal enam jam lalu di Paris. Dengan nilai warisan yang harus dibagi sebesar satu milyard poundsterling. Itu setara dengan harga mata uang senilai 19 Trilyun Rupiah. Dengan warisan sebesar itu, dia lebih kaya dibanding ratu Inggris dan keluarganya. Demikian Sir Thompson memulai masuk pada pokok masalah, mengapa pagi sabtu itu, secara mendadak mereka “harus” berkumpul.
Alamat surat menyurat terakhir kali klien  tersebut adalah Panti Jompo di Paris. Juga telepon pemberitahuan yang diterima oleh Eric tadi pagi berasal dari alamat tersebut. Astaga!!! Seorang petugas Panti yang menelpon. Lanjut sir Thompson.          `1
Aku sudah menjadi pengacara spesialis penyelesaian warisan selama lima puluh tahun. Firma ini juga sudah menangani ratusan orang kaya di dunia. Ayahku sudah menyelesaikan begitu banyak kasus menarik sejak 1919, satu-dua dari kasus itu, seolah tidak bisa dipercaya, tapi yang satu ini, Crazy. Seseorang dengan harta senilai satu milyard pundsterling menghabiskan masa tuanya di Panti Jompo. Kamu pernah menemukan kasus seperti ini, Eric?

Senin, 02 Januari 2017

Mentertawai Diri Sendiri

Tertawalah.. sebelum dilarang
Umumnya, tertawa ekspresi gembira, meskipun menangis juga bisa disebabkan karena kegembiraan yang berlebihan. Tetapi yang jelas, gak ada ekspresi sedih dengan tertawa.
Banyak ekspresi tertawa, ada yang terbahak-bahak, ada tertawa terkekeh-kekeh, ada yang tertawa lepas, tertawa tanpa expresi, ada pula yang sampai sakit perut karena begitu ekspresifnya, ada yang dengan membuka mulut sekedarnya, ada pula yang hanya dengan tersenyum saja.
Zaman booming warkop DKI, yang sebelumnya bernama Prambors, ada anekdot yang sangat popular, tertawalah…. Sebelum tertawa itu dilarang. Bisa kita bayangkan jika tertawa dilarang, begitu seremnya dunia ini, dimana-mana kita ketemu manusia dengan wajah “manyun” lalu betapa sibuk para petugas untuk untuk mencari dan penangkap pesakitan yang terindikasi melanggar hukum karna pelanggaran “tertawa”. Antara petugas dan mereka yang diawasi, sama-sama manyun…. Hehehe.