Sabtu, 24 September 2016

Pantai Raja, Ende. Aroma Soekarno.




Pantai Ende,  beberapa kapal kecil di perairan laut Flores (dok.Pribadi)

 Ende, bagaikan cerita tak berujung. Ada saja bahan yang bisa diceritakan tentang kota bersejarah di Pulau Flores ini. Dan hebatnya, satu dengan lainnya saling berhubungan.  Salah satu ikon pusaran cerita itu, tentang Soekarno dan pusaran yang mengelilinginya.
Diceritakan, bahwa di kala senja, biasanya Soekarno duduk di bawah Pohon Sukun yang bercabang lima, pada sebuah taman yang kini disebut dengan Taman Perenungan Bung Karno.  Posisi duduk  Soekarno, menghadap ke laut Flores dan ketenangan  laut Flores, serta biru laut yang terbentang dihadapnnya, melahirkan imajinasi yang kelak menjadi butir-butir yang disebut lima sila dalam Panca Sila.

Rabu, 21 September 2016

Gunung Inerie, Sang Bunda Agung




Gunung Inerie, sore itu.. (dok.Pribadi)

Sebenarnya, kedatangan saya ke Flores, bukan dalam rangka wisata, tetapi kerja. Di sela-sela perjalanan kerja itulah saya menyempatkan menulis apa yang saya lihat dan dengar. Seperti pagi itu, dalam perjalanan ke Mauponggo, sebuah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, yang letaknya di daerah pesisir selatan. Namun, untuk mencapai daerah itu, harus  melalui dataran yang cukup tinggi dan terjal. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba mata ini disuguhi pemandangan ekstrem, seakan jalan yang dilalui tegak lurus menuju sebuah Gunung yang mengepulkan asap.
Itu, Gunung Ebolobo, Bang. Demikian celoteh salah seorang diantara kami. Beliau sudah lama bermukim di Flores dan banyak tahu tentang legenda yang beredar di masyarakat. Saya hanya tersenyum, berusaha mengabadikan view indah yang berada di depan mata.
Seminggu kemudian, masih dalam rangka kerja, saya ke Bajawa. Ibu Kota Kabupaten Ngada. Ternyata, urusannya selesai dalam waktu singkat. Lalu, atas usulan salah satu diantara kami, diputuskan acara selanjutnya jalan-jalan ke Kampung Bena. Sebuah Kampung Tradisionil yang masih memegang ketat adat istiadat dan keaslian kampungnya selama ratusan tahun.  Memasuki Kampung Bena, kita seakan dibawa ke masa lalu, zaman abad megalitikum.  Soal Kampung Bena, saya ceritakan dalam tulisan yang lain lagi.

Senin, 19 September 2016

Kisah Penyelamatan Naskah Soekarno, Tonil Kelimutu


Penulis Bersama Yusuf Ibrahim di Beranda Rumah Beliau di Ende (dok.Pribadi)

Tengah hari di Ende, udara cukup menyengat, sementara  itu, saya masih mencari rumah Pak Yusuf Ibrahim. Di depan rumah besar itu, pak. Begitu jawaban terakhir yang saya terima. Ketika tiba di Jalan Nusantara IV. Rukun Lima. Ende. Sebelum memasuki rumah yang dimaksud, suara adzan dzuhur terdengar dari Mesjid terdekat.
Sebelum saya mengetuk pintu, seorang lelaki dengan usia mendekati senja keluar dari dalam rumah. Setelah bertegur-sapa, beliau berpesan agar saya menunggu saja di rumah, beliau akan Sholat dzuhur dulu di Mesjid. Lelaki yang berpesan itu, Yusuf Ibrahim, sosok yang saya cari.
Untuk  pembaca ketahui, Yusuf Ibrahim adalah putra dari Ibrahim Haji Umarsyah. Pemain Tonil Kelimutu sekaligus teman dekat Soekarno, ketika masa pembuangan Soekarno  di Ende.
Naskah asli yang ditulis tangan oleh Soekarno, sesungguhnya tidak pernah ditemukan. Yang ingin kita bahas disini, adalah naskah yang diketik oleh Ibrahim Haji Umarsyah yang dipercaya sebagai salinan dari naskah asli yang ditulis Soekarno.

Minggu, 18 September 2016

Teka Iku, Pahlawan Sika, Maumuere. NTT




Patung Teka Iku, di Batas Kota Maumere arah Larantuka (dok.Pribadi)

 Pagi minggu di Maumere, udara terasa sejuk, entah karena semalam turun hujan, hingga sebagian jalan protokol terdapat genangan air di beberapa titik, atau karena lelah dalam perjalanan antara Ende - Maumere sehari sebelumnya, terbayar lunas dengan pulasnya tidur tadi malam. Sebagai seorang yang berusia lima setengah dasa warsa, dan menempuh perjalanan seorang diri dengan motor roda dua, lelah tubuh merupakan bagian yang tak terbantahkan.
Selesai mengisi, BBM di Pom Bensin di perbatasan kota menuju Larantuka, mata ini menangkap penjual lontong sayur yang mengenakan Jilbab. Sebuah isyarat bahwa panganan yang dijualnya dijamin “halal”. Saya segera menepikan sepeda motor untuk sarapan.  
Selesai dengan urusan perut pagi itu. Adagiumnya, daripada masuk angin, lebih baik masuk nasi. Saya bertekad untuk menuntaskan perjalanan hingga berakhir siang atau sore hari, di Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur. Kota Kabupaten yang terletak paling timur dari Pulau Flores.