Laman Utama

Sabtu, 13 Februari 2016

La Dan Ron

Ketika Laron Mengerubungi Api
Selazimnya bulan Januari, Februari dan Maret. Hujan turun hampir setiap hari. Hanya dalam hitungan jari sebelah tangan saja, hari-hari tanpa hujan. Kadang lebat, tak jarang, sepanjang hari hujan dengan rinai yang tiada henti dengan angin kecil yang menyertainya. Tak jarang, hujan lebat yang tiada henti itu membawa bencana banjir.
Itulah ironis negri ini, air jadi bahan langka ketika kemarau, untuk menjangkaunya, perlu perjuangan tersendiri, terkadang, mereka berebut air telaga bersama ternak yang digembala, dibagian lain, sebagian warga dipaksa menghirup asap yang tak berkesudahan. Berminggu, berbulan tanpa tahu kapan selesai, kecuali ketika hujan tiba.
Kini hujan telah tiba, sebagian dari kita tak dapat mencari nafkah, karena longsor terjadi dimana-mana, sungai meluap, menjadikan banjir, merendam segalanya. Sebuah Ironis negri yang bernama Indonesia.

Jumat, 12 Februari 2016

Transformasi KA Trans Sumatera.

KA memasuki Stasiun

Bayangkan!, perbedaan biaya pembangunan rangkaian Rel KA Trans Sumatera dengan Jalur KA Cepat Bandung-Jakarta. Sama-sama dengan biaya 77 Trilyun. Tetapi, memiliki perbedaan panjang yang luar biasa. Jika KA Cepat Jakarta- Bandung memiliki panjang 142 km. maka, panjang Rell KA Trans Sumatera 1.520 km.

Perbandingannya, 142 : 1.520, atau  berbanding 1 : 11.

Angka ini, semakin mencolok, jika ditinjau lebih detail lagi. Angka jarak 1.520 km, adalah panjang Rel baru yang akan dibangun. Padahal, Rell yang akan direstorasi. Panjangnya bukan main. Maksudnya, beberapa  jalur KA yang dulu sudah mati, segera akan dihidupkan kembali. Seperti, Besitang – Binjai, Sawah Lunto – Padang Panjang dll.

Pertanyaannya, apakah pembangunan jalur Rel KA Trans Sumatera itu, akan memiliki prospek percepatan pengembangan ekonomi yang signifikan? Paling tidak, tidak akan mengalami kerugian, sebagaimana prediksi banyak orang terhadap proyek yang sama, jalur KA Cepat Jakarta-Bandung.

Jawabannya, dengan sangat yakin saya katakan tidak.

Rabu, 10 Februari 2016

Analisa Sederhana Pengembalian Utang Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung

Ilustrasi KA Cepat Bandung-Jakarta (sumber gambar di sini)

Sebelum saya menjabarkan skema pengembalian utang, pada proyek pembangunan KA cepat Jakarta-Bandung. Ijinkan saya memohon maaf terlebih dahulu. Mengapa? Karena angka-angka yang saya hitung nanti, sebatas pengetahuan saya yang sederhana dan sangat terbatas. Sementara data yang saya gunakan, hanya terbatas pada data yang saya peroleh dari media yang saya baca. Sehingga, tidak tertutup kemungkinan, hasil dari perhitungan saya kelak. Tidak sesuai dengan perhitungan yang dilakukan oleh pihak yang memiliki “otoritas” resmi.
Baiklah kita mulai hitungannya sbagai berikut :
Jumlah utang
=
78
Trilyun
Besar Bunga
=
2
%
Waktu pembayaran
=
40
tahun
Maka, besaran nominal yang harus dibayarkan setiap tahun
Jumlah utang
=
1.95
Trilyun
Besar Bunga
=
0.039
Trilyun
=
1.989
Trilyun
1,989
Milyard
Jika diasumsikan, satu tahun 360 hari, maka kewajiban membayar
utang setiap hari
=
5.525
Milyard
=
5.525.000.000
Rupiah
Jika harga Tiket Kereta api, Rp.200.000/org.
Maka untuk mencapai nominal 5.525 dibutuhkan penumpang
=
27,625
orang

Dari perhitungan diatas, maka, pengembalian utang akan mencapai titik impas, jika KA  cepat Jakarta – Bandung mampu menyerap penumpang dengan jumlah penumpang 27.625 orang per hari, selama 40 tahun.


Senin, 08 Februari 2016

Panggilan Yang Terabaikan

Mesjid Azizi Stabat, di halam Mesjid ini Amir Hamzah, Pahlawan Nasional di Makamkan (dok.Pribadi)
Tetes peluh itu, membasahi punggung Reno, sementara  terik Matahari seakan tak mau kompromi, mencorong garang, di atas lazuardi. Di Jalur lambat jalan Sudirman Jakarta Pusat itu, kendaraan bergerak merayap. Penuh sesak. Belum lagi, pantulan sinar Surya dari dinding kaca di gedung-gedung pencakar langit yang kini ditapaki Reno. Sempurna sudah. Tak ada belas kasih di sini.
Semuanya rasional. Terukur dan dapat dijabarkan. Jika anda pengangguran, silahkan melamar kerja. Jika persyaratan cukup, silahkan test. Jika lulus test, silahkan kerja. Jika anda memiliki sepeda motor, silahkan kendarai sepeda motor anda. Jika anda memiliki mobil, silahkan naiki mobil anda, nikmati segala kenyamanan di dalamnya, meski jalanan harus merayap. Jika anda tak memiliki semuanya, silahkan jalan kaki, nikmati terik Matahari dan debu jalanan yang berterbangan di trotoar, serta karbon dioksida dari sisa pembakaran dari kendaraan yang sedang merayap, di sebelah anda. Hal terakhir itulah yang kini sedang dialami Reno.