Selasa, 24 Mei 2016

Untuk ex Fasilitator yang Belum Move On


Kita adalah Mentari Pagi, bukan Mentari yang kan Tenggelam (dok.Pribadi)

Sejak satu Januari 2015 program PNPM resmi dibubarkan, oleh Pemerintahan Jokowi. Sejak itu pula, dimulailah berbagai aneka cerita tentang nasib fasilitator yang mengalami kegalauan karena kehilangan pekerjaan. Bahkan hingga kini, memasuki bulan ketiga tahun 2015, keluh kesah tentang kegalauan itu, belum juga hilang. Terutama bagi ex fasilitator yang belum bisa move on dari kondisi Jobless yang dialami.
Benarkah kehilangan pekerjaan, telah berakibat membuat galau? Apakah bukan justru sebaliknya, justru kehilangan pekerjaan, merupakan hikmah yang perlu disyukuri. Apa saja, hikmah yang diperoleh dibalik kehilangan pekerjaan? Untuk itulah tulisan ini dibuat.
Diantara hikmah yang bisa diperoleh dari berhentinya program pemberdayaan, hingga berakibat kehilangan pekerjaan, antara lain;

Senin, 23 Mei 2016

Haruskah Pergi Jauh

Untuk tanah harapan di ujung jalan yang kutempuh. (dok.Pribadi)

Selepas Maghrib seorang sahabat mengajak  saya untuk mengunjungi kerabatnya yang baru datang dari merantau “Jauh”. Sebuah budaya yang baik menurut saya. Selain untuk mengucapkan “welcome home” bagi kerabat yang merantau. Secara kejiwaan, ada sebuah kenyamanan bagi yang dikunjungi, bahwa mereka tetap diakui sebagai warga, meski sudah lama merantau. Bagi kita yang berkunjung, tentu ada manfaat juga yang diperoleh, paling tidak, ada oleh-oleh informasi tentang budaya dan situasi geografis, dari daerah  tempat  kerabat  sang sahabat merantau.
Dalam perjalanan pulang, sehabis mengunjungi kerabatnya. Sang sahabat bertanya pada saya, apakah memang perlu untuk merantau? Meninggalkan anak isteri begitu lama, demi memenuhi kebutuhan ekonomi.
Untuk menjawab pertanyaan sahabat saya tadi, maka, tulisan ini saya buat. Tidak sepenuhnya ilmiah memang, melainkan, lebih pada sebuah pendekatan dari apa yang pernah saya alami, ketika “harus” meninggalkan anak isteri karena lokasi pekerjaan berada “jauh” diluar kota.

Istana Maimun, Salah Satu Ikon Medan

Singgasana Sultan Deli di Istana Maimun. (dok.Pribadi)
Dua hari sudah saya di Medan, kota yang pernah begitu akrab dalam kehidupan masa lalu saya. Pagi itu, selepas menikmati kopi sidikalang yang terkenal itu, salah seorang teman mengingatkan saya tentang Istana Maimun. Saya tersadar, ada sebuah ujaran yang mengatakan bahwa, belum lengkap mengunjungi Kota Medan, sebelum singgah di Istana Maimun. Analoginya, seperti belum sempurna mengunjungi Jakarta sebelum melihat Monas. 
Sadar akan ketidak-sempurnaan saya mengunjungi Medan, kamipun bergerak, dari Taman Merdeka, sebagai pusat Kota Medan, yang di Pulau Jawa disebut sebagai alun-alun. Menyelusuri jalan A. Yani, kami melalui kantor Harian Analisa, kantor harian yang punya kenangan khusus, di harian itulah, dulu pada tahun sembilan puluhan, setiap hari Jum’at, tulisan saya selalu muncul pada rubrik “agama”, sesekali pada hari Rabu dalam rubrik Budaya. Kenangan itu muncul kembali, begitu melintas di depan kantor Harian Analisa. Kami, terus melangkah.

Minggu, 22 Mei 2016

Amir Hamzah Sang Pecinta, Sang Satria

Penulis dengan latar belakang Mesjid Azizi Stabat Langkat. Sumut (dok.Pribadi)
Biarlah daku tinggal di sini
Sentosa diriku disunyi sepi
Tiada berharap tiada berminta
Jauh dunia disisi Dewa
……………………………………….
Datanglah engkau wahai maut
lepaskan aku dari nestapa
engkau lagi tempatku berpaut
Diwaktu ini gelap gulita.

Demikianlah bait-bait syair yang tertera pada sisi kanan dan sisi Nisan makam Amir Hamzah. Betapa syair yang tergambarkan, bermakna, sang Pahlawan Nasional itu telah menyadari hari datangnya saat kematiannya dengan sepenuh sadar. Mereka yang berani menyambut datangnya hari kematian adalah mereka yang berani menjalani kehidupan. Termasuk sang pahlawan Amir Hamzah.
Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, lahir di Tangjung Pura, Langkat. Sumatera Utara. Pada 28 Februari 1911 dan meninggal di kuala Begumit, Binjai, Langkat, Sumatera pada tanggal 20 Maret 1946.