Jumat, 23 Juni 2017

Menan yang Menemani Mandeh


Sumber gambar. Satujam.com

 Menan perlahan menapak anak tangga turun menuju daratan, tak bergegas dia, tak ada yang perlu dikejar, perlahan saja. Menan membiarkan penumpang lain turun dulu, penumpang yang bergegas agar segera tiba di rumah. Sedangkan Menan, apa yang dia kejar? Tak ada.
Satu-satu anak tangga turun dia tapaki, dia nikmati sepenuhnya, sesekali matanya dia arahkan ke sekeliling Dermaga Muara. Setiap detail dari Muara ini, Menan hapal betul. Tempat yang dulu menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Menan. Di sanalah, pada tiap detail Dermaga ini, Menan habiskan masa anak-anaknya.  
Itu salah satu sebab, mengapa Menan masih menggunakan Kapal laut untuk pulang. Ada keterikatan emosi pada Menan tentang Dermaga ini, tentang laut, tentang kapal dan jarak ke rumah dan Mandeh.
Meski, semuanya sudah berubah. Namun, masih tersisa harapan pada Menan untuk menelusuri jejak itu, mengais sisa dari masa lalunya, sekecil apapun sisa yang yang masih dapat dia raih.
*****

Sabtu, 17 Juni 2017

Saung, Kearifan Lokal yang Tergusur Peradaban




Saung ditengah sawah (dok.Pribadi)

Mengapa, pada luas lahan sawah yang sama di Krawang dan di Banten, panen padi yang dihasilkannya berbeda. Padi yang dihasilkan, pada lahan persawahan di Krawang lebih banyak dibandingkan dengan Banten.
Salah satu pendapat, mengatakan. Bahwa salah satu penyebabnya karena saung.
Kenapa dengan saung?.
Karena saung di areal persawahan daerah Banten, jumlahnya lebih banyak, dibandingkan jumlah saung di daerah Krawang. Artinya, semakin banyak saung, akan semakin banyak petani sawah yang beristirahat di saung.  Akibatnya, jumlah jam kerja yang digunakan untuk aktivitas bertani di sawah akan semakin sedikit. Dengan  sendirinya, panen yang dihasilkan akan berkurang. Demikian salah satu kesimpulan yang diperoleh.
Kesimpulan yang sangat logis. Namun, benarkah demikian? Sesederhana itukah? Tulisan ini, mencoba melihat sisi lain dari sebuah saung.  

Kamis, 15 Juni 2017

Kau


Kau….. (dok.Pribadi)


Kau...
yang datang pada saat terakhir
menyalip pada yang lain
menafikan  yang dulu ada
meninggalkan semuanya yang tersedia
membawa sesuatu yang baru
membuat usang semua yang terdahulu
mentransformasi yang telah ada
merubah segalanya
pada senja berkabut awan,
kau singkirkan sengkala
membuat saat sun set  jadi sempurna
ke peraduan yang indah
diakhir kita berdua
ada sisa senyum yang tak terucap
untuk  saat-saat
kau pernah ada

Senin, 12 Juni 2017

Wasiat Mandeh Khadijah

Sumber gambar Oltret.com
Jika ada cinta yang pertama diterima seorang manusia, maka cinta itu, adalah cinta sang bunda pada anaknya. Itu sebabnya, seorang anak selalu saja mendamba sang bunda. Baik di dunia atau ketika sang bunda telah tiada.
Demikian besar kadar cinta bunda pada sang anak, sehingga Allah pemilik Alam semesta ini, malu untuk menunda permintaan seorang bunda, jika permintaan itu, menyangkut kepentingan sang anak.
Jangan tanya pada seorang anak, masakan apa yang paling nikmat di dunia ini? Karena, jawabannya tentu masakan sang bunda. Jangan tanya pada seorang anak, wanita mana yang paling dia sayangi di dunia ini? Karena, jawabannya tentu sang bunda.
Soal-soal yang lain, hanyalah berada pada urutan kedua atau bahkan urutan keenam belas.
Malasahnya, bagaimana jika bunda telah tiada? Maka, wajar saja, jika urutan kedua, akan naik menjadi urutan pertama, begitu seterusnya untuk urutan-urutan yang lain.
*****